Aturan Main Konsumsi Ramuan Herbal di Masa Kehamilan dan Menyusui

Hidupgaya – Kekhawatiran tentang penularan virus corona di fasilitas kesehatan, penutupan penyedia kontrasepsi dan gangguan transportasi akibat pembatasan sosial skala besar berpotensi menurunkan pengguna kontrasepsi, sehingga memicu kehamilan yang tidak diharapkan di masa pandemi.

Data BKKBN menunjukkan jumlah pengguna aktif kontrasepsi menurun menjadi 26 juta pada April dari 36 juta pada Maret. Seperempat atau 2,5 juta dari mereka yang telah berhenti menggunakan kontrasepsi adalah pasangan usia subur antara 20 dan 35 tahun.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menyebut, kemungkinan pengguna kontrasepsi untuk hamil dalam satu bulan pertama setelah berhenti suntik, alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) dan pil masing-masing adalah 10 persen, 15 persen, dan 20 persen. Sekitar 370.000 hingga 500.000 wanita mungkin telah hamil pada Mei. Penggunaan kontrasepsi juga menurun 35 hingga 47 persen dari Februari hingga Maret, yang dapat berkontribusi pada peningkatan 15 persen pada kehamilan yang tidak diinginkan pada tahun 2021.

BKKBN menyebut, secara nasional, persentase kehamilan yang tidak diinginkan mencapai 17,5 persen, yang berarti 17 dari setiap 100 kehamilan tidak diinginkan. Hal ini cukup mengkhawatirkan. “Salah satu penyebab utama terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan adalah kurangnya akses pasangan usia subur terhadap persediaan dan layanan kontrasepsi,” kata Hasto.

Fenomena baby boom, menambah deretan hal penting yang harus diperhatikan ibu dalam menjaga kondisinya pada masa persalinan dan menyusui. Kualitas kesehatan ibu pada masa kehamilan berpotensi mempengaruhi kualitas perkembangan dan pertumbuhan janin yang akan dilahirkan.

Konsumsi Ramuan Herbal di Masa Kehamilan

Selain konsumsi makanan bergizi seimbang, sebagian masyarakat Indonesia menyukai konsumsi ramuan herbal untuk menunjang kesehatan.  Data menunjukkan bahwa 40% orang Indonesia masih mengonsumsi jamu, dan 56% masyarakat mengonsumsi madu. Angka konsumsi madu dan jamu yang cukup tinggi mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia masih menyukai ramuan tradisional dan terbuat dari berbagai bahan herbal sebagai pendukung kesehatannya.

Kita tahu, umumnya di masa kehamilan, wanita kerap mengalami kondisi yang tidak nyaman, seperti mual dan muntah, edema, dan rasa nyeri pada persendian. Kondisi inilah yang menyebabkan konsumsi bahan herbal umum dilakukan oleh para wanita sebagai alternatif dari obat konvensional yang seringkali digunakan untuk mengatasi kondisi yang tidak nyaman.

Menurut ahli herbal Asri Saraswati Iskandar,  mengetahui manfaat dari bahan-bahan herbal yang akan dikonsumsi akan menjadikannya berfungsi lebih tepat guna. “Tak hanya mampu membantu mengurangi ketidaknyamanan, bahan-bahan herbal juga dapat memberikan nutrisi seperti vitamin dan mineral yang dibutuhkan selama kehamilan dan pasca persalinan,” ujar Asri dalam acara webinar yang dihelat Combiphar, baru-baru ini.

Berikut manfaat bahan herbal yang dapat membantu mendukung kesehatan ibu di masa kehamilan dan pasca- persalinan:

Madu

Cairan yang dihasilkan lebah ini memiliki kandungan mineral berupa kalsium, tembaga, mangan, zat besi, fosfor, seng, aluminium. Kandungan zat besi pada madu membantu meningkatkan kadar hemoglobin untuk ibu selama kehamilan dan pasca bedah caesar.

Cengkeh

Bahan herbal ini kaya kandungan beta-karoten, zat besi, magnesium, seng, vitamin B6, C, dan K. Tak hanya itu, perpaduan cengkeh, lengkuas, serai dan jahe, dapat meredakan sakit dan nyeri pada persendian dengan cara dioleskan.

Jahe

Mengandung gingerol yang memberikan efek analgesik yang kuat dan sangat membantu untuk radang sendi, menenangkan saraf, serta mengurangi mual. Jahe juga tinggi kalium, tembaga, magnesium, mangan, vitamin B5 dan B6. “Jahe efektif mengatasi mual pada kehamilan,” ujar Asri.

Kunyit dan temulawak

Keduanya mengandung kurkumin yang dapat melindungi dari anemia dan hipertensi. Serat pada herbal alami ini juga mengontrol kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Kunyit dapat membantu meredakan peradangan yang menyebabkan edema, sekaligus risiko mastitis, juga berfungsi untuk mengobati cedera dalam, jahitan luar dan luka infeksi pasca persalinan. Sementara temulawak – meningkatkan produksi ASI pada masa menyusui.

Temu hitam

Kandungan pinene pada temu hitamdapat merelaksasi rahim setelah melahirkan.

Ketumbar

Bumbu dapur ini memiliki kandungan protein, kalsium dan zat besi yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi ASI selama periode menyusui.

Asri mengingatkan, walaupun berasal dari bahan dan tanaman alami, saat mengonsumsinya kita tetap harus memperhatikan tanda-tanda yang ditunjukkan oleh tubuh kita. “Dengan demikian kita dapat merasakan apakah bahan yang dikonsumsi memberikan efek yang baik bagi tubuh,” ujarnya.

Kenali Kondisi Tubuh

Di kesempatan yang sama, Medical Expert Combiphar, dr. Carlinda Nekawaty menambahkan, menyadari kondisi tubuh setelah mengonsumsi madu maupun herbal, sangatlah penting untuk melihat reaksi baik yang kecil maupun besar. “Terutama jika sedang dalam kondisi khusus seperti hamil atau menyusui. Apa yang kita konsumsi bisa saja menimbulkan risiko terhadap kandungan dan juga bayi,” ujarnya.

1.000 hari pertama kehidupan, termasuk 270 hari di dalam kandungan, merupakan masa penting yang akan memengaruhi kondisi kesehatan dan tumbuh kembang bayi di masa depan. “Untuk itu, bijak dalam mengutamakan kesehatan selama masa kehamilan dan pasca persalinan harus menjadi prioritas ibu,” tandas Carlinda.

Carlinda menjelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan saat mengonsumsi madu dan herbal agar tetap aman bagi ibu dan bayi:

1. Perhatikan jenis kandungan dalam bahan yang akan dikonsumsi untuk mengetahui reaksi alergi atau bahkan efek yang dapat membahayakan ibu maupun bayi. Jika mengonsumsi dalam bentuk kemasan, bacalah informasi nutrisi yang tertera pada label untuk mengetahui kandungan, takaran saji dan juga persentase AKG (Angka Kecukupan Gizi) yang terdapat di dalam ramuan.

2. Mengetahui waktu yang tepat untuk mengonsumsi ramuan. Biasanya konsentrasi kadar ramuan mencapai puncaknya sekitar 45-90 menit setelah dikonsumsi dan berada di dalam ASI sekitar 15 menit kemudian, hingga berpotensi masuk ke dalam tubuh bayi yang masih menyusui. Untuk itu, disarankan untuk tidak mengonsumsi ramuan apapun pada periode awal menyusui. Konsumsi ramuan bisa dilakukan jika interval menyusui telah lebih dari 2 jam.

3. Berkonsultasi dengan dokter atau ahli medis, untuk mengetahui kadar konsumsi ramuan yang tepat dan efek yang ditimbulkan jika dikombinasikan dengan obat konvensional, terutama jika ibu memiliki kondisi kesehatan bawaan tertentu dan memerlukan perhatian khusus. (HG)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s