Lanjut ke konten

Keterampilan Literasi Bukan Sekadar Teks Namun Juga Paham Konteks

08/10/2020

Hidupgaya – Di abad 21, keterampilan yang sangat dibutuhkan salah satunya adalah literasi, karena menjadi dasar bagi semua. Literasi bukan sekedar baca tulis, tapi terkait dengan rangkaian panjang sehingga anak tidak sekadar bisa membaca teks, namun juga mampu memahami konteks.

Hal ini harus dimulai sejak dini, untuk mendukung hal tersebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mencanangkan serangkaian program, seperti Gerakan Literasi Nasional, asesmen kompetensi minimum siswa untuk literasi dan numerasi, dan banyak lainnya, demikian diutarakan Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus KEMDIKBUD RI, Samto, dalam webinar Literasi Anak Jadi Awal Kesejahteraan Indonesia, baru-baru ini.

Kecakapan literasi, termasuk literasi keuangan masih harus terus didukung karena nyatanya tingkat kemampuan literasi di Indonesia masih belum merata. Sebagai contoh, indeks aktivitas literasi membaca (alibaca) menunjukkan bahwa masih terdapat celah perbedaan cukup tinggi antara provinsi DKI Jakarta sebagai provinsi dengan indeks alibaca tertinggi (58,16) dengan Papua yang menduduki peringkat indeks alibaca terendah (19,9). “Ini harus kita pikirkan bersama dan cari solusinya,” kata Samto.

Kesenjangan ini kian terasa makin berat di tengah pandemi. Menyusul ditutupnya sebagian besar sekolah, proses belajar mengajar kini mengandalkan metode daring. UNICEF menyebutkan bahwa 35% siswa belum memiliki koneksi internet memadai untuk sekolah daring . Selain itu, hanya sedikit anak yang memiliki komputer atau laptop untuk mengakses internet dari rumah, terutama mereka yang tinggal di pedesaan, rata-rata kurang dari 15%.

Perwakilan UNICEF Indonesia, Debora Comini menyebut COVID-19 telah berdampak terhadap hampir 60 juta anak di Indonesia. “Kita harus memastikan setiap anak bisa terus belajar. Anak-anak adalah urusan semua orang, termasuk dalam hal pendidikan,” ujarnya.

Sejak Agustus 2020, Prudential Indonesia berkolaborasi dengan UNICEF dalam mendukung KEMDIKBUD RI dalam melakukan serangkaian kegiatan untuk memastikan anak-anak dan orang tua di berbagai wilayah Nusantara dapat menjalankan proses belajar mengajar secara aman, sehat dan nyaman. Di antaranya melalui online learning, home learning untuk anak di wilayah Indonesia Timur, serta pengembangan kapasitas untuk para pengajar agar mampu beradaptasi di new normal ini. Hingga Januari 2021, program ini ditargetkan untuk menjangkau 69.000 siswa dan 3.750 guru dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Kami memahami bahwa literasi anak masih sangat membutuhkan dukungan, bahkan urgensinya kian terlihat di masa pandemi COVID-19. Merespons hal ini, Prudential Indonesia melaksanakan rangkaian program penguatan literasi anak guna mendukung mereka hidup lebih sehat dan sejahtera. Inisiatif yang diharapkan dapat menjangkau lebih dari 200.000 siswa hingga akhir 2020,” kata Jens Reisch, President Director Prudential Indonesia.

Reisch menambahkan, pendidikan adalah salah satu pilar penting pada komitmen pemberdayaan masyarakat dari Community Investment Prudential Indonesia, karena memiliki efek domino pada seluruh sendi kehidupan. “Karena itu kami terus menguatkan literasi anak sejak dini melalui dua program besar, yaitu program dukungan pendidikan yang berkolaborasi dengan UNICEF, serta program Cha-Ching bersama PJI. Keduanya juga merupakan bagian dari upaya kami membantu generasi penerus mendapatkan yang terbaik dalam kehidupannya kelak,” imbuhnya.

Kolaborasi dengan UNICEF ini menggunakan dana pemulihan COVID-19 yang kepada market Prudential di seluruh dunia untuk mendukung inisiatif dalam menangani permasalahan akibat pandemi serta dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan. Dalam menjalankan program tersebut, Prudential Indonesia telah mengalokasikan dana sebesar hampir Rp3 miliar.

Guna meningkatkan literasi keuangan anak usia 7-12 tahun, Prudential Indonesia bersama PJI melaksanakan program Cha-Ching sejak 2012. Ditambahkan Nini Sumohandoyo, Sharia, Government Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia, dikembangkan oleh Prudence Foundation, pelaksana Community Investment Prudential di Asia dan Afrika, program Cha-Ching mengajarkan pemahaman atas empat aspek utama pengelolaan keuangan melalui modul pembelajaran menarik, yaitu Peroleh (Earn), Simpan (Save), Belanjakan (Spend) dan Sumbangkan (Donate).

Hingga September 2020, program Cha-Ching telah diimplementasikan di 2.665 sekolah di Sidoarjo, Trenggalek, Blitar, Jakarta, dan menjangkau 4.820 guru dan 146.897 siswa Sekolah Dasar. “Pengetahuan yang kami ajarkan melalui program Cha-Ching bukan sekadar mengenal nilai dan konsep uang, tetapi juga terkait pengelolaannya secara lebih menyeluruh. Sebagai contoh, kami mengajarkan anak menyadari hal-hal yang menjadi kebutuhan dan mana yang hanya keinginan,” ujar Nini.

Beradaptasi dengan situasi pandemi, program Cha-Ching kini juga siap diaplikasikan secara daring melalui ‘Cha-Ching Kid$ at Home’. Program ini akan diawali dengan pelatihan terhadap volunteer pada September 2020 dengan menargetkan 125 anak karyawan, tenaga pemasar, nasabah dan masyarakat umum dalam empat gelombang hingga akhir 2020. (HG)

 

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: