Lanjut ke konten

Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan Ubah Sampah Tanpa Bau

02/09/2020

Hidupgaya – Jumlah timbunan sampah nasional pada 2020 mencapai 67,8 juta ton. Jika tidak dilakukan sejumlah upaya luar biasa untuk mengatasinya, maka diperkirakan pada 2050 komposisi sampah nasional akan mencapai lebih dari dua kali lipat.

Tak bisa dimungkiri, Indonesia mengalami darurat sampah. Sungai ibarat tempat pembuangan sampah yang panjang karena sebagian masyarakat masih menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan sampah akhir.

Selain perilaku ‘nyampah’ di badan sungai, sejumlah wilayah juga mengalami penurunan kapasitas Tempat Pengelolaan Akhir (TPA), bahkan bisa dibilang kritis. Menurut Ketua Badan Eksekutif Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) Peni Susanti, sejumlah TPA mengalami bencana seperti longsor, misalnya di TPA Cipeuncang, Tangerang Selatan, pada awal tahun ini dan kebakaran TPA di Putri Cempo, Solo, akhir 2019.

Hal itu ditambah dengan keberadaan TPS-3R (Tempat Pengolahan Sampah – Reduce Reuse Recycle) dan Bank Sampah juga belum optimal karena masyarakat belum mampu melakukan pemilahan sampah di sumber. “Tidak jarang, sampah dibuang ke sungai sehingga menimbulkan pencemaran terutama di sektor hilir. Perlu sosialisasi dan edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat agar mampu melakukan pemilahan sampah di sumbernya,” kata Peni dalam webinar Safari TOSS “Journey to The East” Selasa (1/9).

“Karenanya, GCB memfasilitasi masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan bekerja sama melaksaanakan pengolahan sampah di sumber melalui TOSS yang digagas oleh Supriadi Legino dan Sonny Djatnika Sunda Djaja,” imbuh Peni.

TOSS (Tempat Olahan Sampah di Sumbernya) merupakan metoda pengelolaan dan pengolahan sampah di sumber berbasis komunitas, yang mana mengubah paradigma pemilahan di awal menjadi pemilahan setelah proses pengolahan sampah berlangsung. Melalui metoda peuyeumisasi (biodrying), bau tak sedap dari sampah akan hilang dan mengering dalam waktu 3-7 hari (tergantung material sampah).

Menurut penggagas TOSS sekaligus komisaris Comestoarra.com, Supriadi Legino, perubahan paradigma pemilahan sampah dilakukan, yaitu seluruh sampah dimasukkan ke dalam boks bambu yang mampu menampung sampah 0,5-1 ton. Setelah sampah tidak bau dan mengering, lebih mudah bagi petugas sampah untuk memilah sampah organik, biomassa, plastik (PVC dan non-PVC), serta residu.

“TOSS dengan metoda peuyeumisasi (biodrying) adalah suatu konsep yang terinspirasi dari alam. Pemilihan material bambu yang identik dengan masyarakat Indonesia, ukuran boks peuyeum yang agronomis, serta penggunaan bioaktivator yang memanfaatkan bakteri untuk mengolah sampah merupakan suatu proses yang terinspirasi dari alam,” bebernya.

Supriadi menambahkan, konsep gotong-royong sangat menunjang keberhasilan pengolahan sampah di sumber. Dari kajian sosiologi dan psikologi, masyarakat Indonesia membutuhkan teknologi yang sederhana tapi sarat nilai-nilai budaya.

Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) dan perusahaan rintisan (startup) Comestoarra.com bakal melakukan edukasi tentang pengolahan sampah bertajuk “Safari TOSS Journey to the East (JTE)” pada 1-20 September 2020. GCB merupakan kolaborasi PLN, Indonesia Power, dan Indofood Sukses Makmur.

Direktur Indofood Sukses Makmur Franciscus Welirang di kesempatan yang sama mengatakan, pengelolaan sampah menjadi sumber bahan baku energi ini memiliki nilai yang secara langsung juga mendorong terbangunnya ekonomi sirkular. “Kepedulian berbagai pihak dalam mendukung pengembangan dan penerapan TOSS dengan metode peuyemisasinya sejalan dengan semangat ESR (Extended Shareholder Responsibility). Harapannya, memberikan dampak positif lebih besar untuk mengurangi sampah yang belakangan ini kian menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat,” ujanya.

Rangkaian Safari TOSS dimulai di Gerakan Ciliwung Bersih Jakarta, selanjutnya tim Safari TOSS akan menuju ke Jepara untuk melakukan menyajikan inovasi Batu Bara Nabati PT PLN (Persero) Tanjung Jati B sebagai pengembangan dari program TOSS bernama Tanjung Jati Organic Solution.

Perjalanan akan dilanjutkan ke Banyuwangi, Bali, dan yang terakhir adalah melakukan Uji Cofiring di PLTU Ropa, Flores, Nusa Tenggar Timur. Dari rangkaian Safari TOSS ini, masyarakat dapat menyaksikan aktivitas program TOSS, kegiatan seminar dan pelatihan, serta menyaksikan uji co-firing melalui media daring. Diharapkan kegiatan ini dapat memicu seluruh pihak dalam menyelesaikan permasalahan sampah dan mengolahnya menjadi energi kerakyatan. (HG)

From → Green Living

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: