Lanjut ke konten

Memaknai Karya Pelukis Srihadi Soedarsono, Ajang Kontemplasi Manunggaling Kawula Gusti

13/03/2020

Hidupgaya – Maestro pelukis Indonesia Prof. Kanjeng Pangeran Srihadi Soerdarsono Adhikoesoemo, MA, atau yang dikenal sebagai Srihadi Soedarsono, menggelar pameran tunggal dengan menampilkan 44 lukisan bentang alam (lanscape) yang diproduksi dalam rentang tahun 2016–2020.

Pameran tunggal sekaligus peluncuran buku “Srihadi Soedarsono – Man x Universe” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, berlangsung dari 11 Maret – 9 April 2020. Acara dibuka oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Rabu (11/3).

Kurator pameran Dr. A. Rikrik Kusmara, M.Sn., mengelompokkan karya Srihadi dalam empat rumpun besar, yakni Social Critics (Papua Series, Bandung Series, dan Field of Salt), Dynamic (Jatiluwih Series dan Energy of Waves), Human & Nature (Mountain Series, Tanah Lot Series, Gunung Kawi Series), Contemplation (Horizon Series dan Borobudur Series)

Karya-karya yang dipamerkan antara lain Horizon – The Golden Harvest (2018), Borobudur Drawing (1948), Borobudur – The Energy of Nature (2017), Mt. Bromo – The Mystical Earth (2017), Papua – The Energy of Golden River (2017), The Mystical Borobudur (2019), dan Jakarta Megapolitan – Patung Pembebasan Banjir (2020).

Seri lukisan bentang alam merupakan salah satu pendekatan yang sangat dikenal menjadi ciri khas karya-karya Srihadi. Lukisan landscape dalam konteks pameran ini adalah lukisan yang memiliki struktur bentang alam, daratan (bumi), langit, dan unsur-unsur di antaranya.

Rikrik Kusmara mengatakan, Srihadi merespon kenyataan realitas yang terjadi di Indonesia, mula dari politik, sosial, ekonomi, dan budaya, yang tecermin dalam karya-karya yang dihadirkannya sebagai satire. “Pada lukisan Padang Garam misalnya, Srihadi memikirkan mengapa negeri yang berlimpah garam ini harus mengimpor garam dari luar negeri. Pada karya berjudul Sawah dan Traktor, Srihadi memprotes banyak area sawah yang digusur menjadi industri, dan sebagainya,” beber Rikrik.

Seri penting lain yang dipamerkan adalah Borobudur di antaranya Borobudur – The Energy of Nature (2017), Borobudur – Moment of Contemplation (2017), Borobudur – Moment of Meditation (2017), dan The Mystical Borobudur (2019).

Seri Borobudur menjabarkan perjalanan candi Borobudur di tangan Srihadi dari tahun 1948 hingga kini. Perjalanan yang bukan tentang perubahan fisik atau visualnya, melainkan bagaimana Srihadi menyuguhkan konsep filosofis dan estetis situs suci tersebut. Melalui sketsa Borobudur yang dibuat pada usia 17 tahun menjadi cikal bakal Srihadi dalam membuat lukisan-lukisan bentang alam di kemudian hari.

Seperti halnya Borobudur – The Energy of Nature (2017). Lukisan dengan ukuran 160 x 150 cm yang dibuat pada 2017 itu memvisualkan candi Borobudur dengan latar belakang langit jingga berikut purnama tegak lurus dengan stupa utama. Karya enigmatik ini menjadi simbol puncak proses kontemplasi dan spiritualitas tentang kesadaran akan keberadaan diri dalam siklus bumi, bahkan lebih luas lagi, siklus jagat raya.

Secara filosofis, menurut Rikrik, Srihadi ingin menekankan aspek human, culture, dan universe/nature. “Tentang bagaimana manusia membuat Borobudur, bagaimana manusia berada di alam, serta eksistensi manusia sebagai bagian dari mikrokosmos dan makrokosmos. Memang hal yang unik jika menelusuri Borobudur, seperti doa keseharian Srihadi untuk kehidupan ini. Karena itu kehadirannya secara estetis selalu berbeda,” bebernya.

Selain itu, ada satu lukisan yang menempatkan Borobudur dalam konteks berbeda, yakni di Mt. Merapi – The Powerful Nature (2018) yang berukuran 200 x 105 cm. Candi ini “hanya” sebagai latar depan yang tak tampak jelas bentuknya selain siluet khasnya, mengantar pandangan pada megah dan mistisnya Gunung Merapi. Borobudur menjadi kecil di hadapan alam semesta.

Srihadi mengatakan, Man x Universe itu catatan tentang ingatan-ingatan, layaknya seseorang yang mengingat memorinya sebelum menulis. “Ini cara saya mencatat perjalanan dari kanak-kanak sampai sekarang usia 88 tahun. Bagaimana sawah yang dahulu begitu luas sekarang tidak ada lagi yang seluas itu,” kata Srihadi.

Pelukis Srihadi bisa dibilang sangat produktif. Ada 44 lukisan yang dipamerkan pelukis kelahiran Solo, 4 Desember 1931 — sebanyak 38 merupakan lukisan baru, sisanya merupakan koleksi pribadi. Seluruh karya, kecuali sketsa Borobudur (1948), menggunakan media cat minyak pada kanvas. Produktivitas Srihadi ini dipuji Rikrik. Dia berkarya laksana bernafas saja,” ujar Rikrik.

Penulis buku sekaligus budayawan Dr. Jean Couteau yang menulis buku Man x Universe mengatakan Srihadi mengajak penikmat lukisannya untuk berkontemplasi dan mendekatkan diri pada Tuhan melalui karya lukisan. “Srihadi mempunyai suatu kemampuan untuk ‘merasa’ yang selain luar biasa, juga dikembangkan dan diasah oleh tradisi Jawa asalnya,” ujarnya.

Sistem nilai Jawa membentuk pendekatan simbolis khas Srihadi, dari sudut bentuk maupun warna. Bagaimana kuasa Srihadi atas nuansa dan detil dikedepankan serta diperkaya oleh intuisi dan binaan roso, demi mencapai kondisi Manunggaling Kawula Gusti.

“Dengan mempertimbangkan sejarah seni lukis Indonesia dan dunia, Srihadi Soerdarsono bukan hanya maestro simbolis/warna-is Indonesia, tetapi sebenarnya termasuk salah seorang maestro simbolis-koloris kelas dunia,” pungkas Jean Couteau. (HG)

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: