Lanjut ke konten

Strategi Agar Kaum Milenial Cinta Batik Tulis

18/09/2019

Hidupgaya – Batik tak lagi lekat dengan ‘kekunoan’ namun bisa tampil kekinian dan bisa dipakai kalangan milenial.

Sayangnya, tak semua milenial bisa memakai batik tulis karena alasan harga yang masih tidak terjangkau. Ini masuk akal mengingat untuk menghasilkan selembar batik tulis butuh proses panjang.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengakui, harga batik tulis masih tergolong tinggi sehingga tak.jarang kaum muda memilih kain printing motif batik dengan harga jauh lebih murah. “Namun batik tulis harus dilindungi dengan membanjirnya kain printing motif batik di pasaran dengan harga murah,” ujar Triawan Munaf di sela-sela temu media menjelang Hari Batik Nasional pada 2 Oktober, Selasa (17/9).

Triawan menambahkan, batik mencakup batik tulis dan batik cetak. “Kalau printing itu bukan batik. Membanjirnya kain batik motif printing ini memukul industri batik nasional,” ujarnya.

Triawan menyebut subsektor fashion menyumbang lebih dari Rp20 triliun pendapatan negara. Maka jika sektor fashion terganggu oleh kain impor motif batik murah, tentu memukul para perajin batik. Untuk mengatasi hal ini, Bekraf bekerja sama dengan para perajin dan desainer untuk membuat batik Streetwear atau Daily Wear yang lebih bisa terjangkau oleh milenial. “Kami juga usahakan juga mempersingkat rantai penjualan kain batik agar harga yang dijual bisa terjangkau,” imbuhnya.

Triawan menilai kaum milenial memiliki daya beli yang baik untuk baju impor. “Mestinya mereka juga sanggup membeli produk batik dalam negeri, menghargai perajin,” ujarnya.

Yang tak boleh dilupakan tentu terus mengenalkan batik sebagai bentuk salah satu upaya pelestarian budaya. Mendukung hal ini, menyambut Hari Batik Nasional 2019 bertema ‘Membatik untuk Negeri’ Yayasan Batik Indonesia pun terus menggaungkan semangat membatik.

Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia Jultin Ginandjar Kartasasmita mengatakan untuk mempertahankan pengakuan UNESCO terhadap Batik Indonesia sebagai warisan budaya diperlukan tindakan nyata, yaitu lewat preservasi, edukasi dan inspirasi kepada masyarakat terhadap aset yang dimiliki.

Di kesempatan yang sama, Direktur IKM (Kimia, Sandang, Kerajinan dan Industri Aneka) Kementerian Perindustrian RI, E. Ratna Utarianingrum menegaskan perlunya edukasi kepada masyarakat bahwa batik printing bukanlah kain batik.

hal yang sama. Ia juga terus berupaya mengedukasi masyarakat untuk memahami bahwa motif batik print tidak bisa disebut kain batik. (HG)

From → Fashion Spread

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: