Lanjut ke konten

Ketika Penggalan Puisi Penyair Indonesia Menjadi Dialog Sarat Makna di Konser Musikal

18/03/2019

Hidupgaya – Apa jadinya jika puisi-puisi cinta yang ditulis oleh kurang lebih 26 penyair Indonesia penggalan puisinya dijadikan dialog dalam pementasan konser musikal? Unik, menarik dan menghasilkan efek tak terduga. Dramatis, romantis dan sedikit nuansa ‘nakal’ bahkan ada nada jenaka mengalir di setiap kata.

Ide unik menampilkan konser musikal “Cinta Tak Pernah Sederhana” ini diusung oleh Titimangsa Foundation dan PT Balai Pustaka. Pendiri Titimangsa Foundation, Happy Salma, mengatakan konser musikal ini diselenggarakan sebagai upaya untuk selalu menghidupkan karya sastra Indonesia sehingga pembentukan karakter dan kecintaan pada Tanah Air semakin nyata.

Media mendapat undangan khusus untuk menonton konser musikal ini, Jumat malam (15/3) di Taman Ismail Marzuki. Masyarakat dapat menyaksikan konser yang tak biasa di tempat sama pada 16 dan 17 Maret.

Sejumlah nama besar terlibat dalam konser musikal ini, mulai dari pemain sampai kreator di balik panggung. Reza Rahadian, Marsha Timothy, Chelsea Islan, Atiqah Hasiholan, Sita Nursanti, Teuku Rifnu Wikana dan Butet Kartaredjasa adalah sejumlah nama yang memanaskan pertunjukan konser musikal ini.

Happy Salma juga menggandeng sutradara dan aktor teater kawakan Wawan Sofwan, Iswadi Pratama dan penyair Warih Wisatsana yang akan berperan sebagai narator. Sejumlah penyanyi dengan kemampuan dan genre masing-masing juga terlibat, sebutlah pesinden Sruti Respati, Daniel Christianto, Heny Janawati, dan pemain harpa Indonesia Maya Hasan.

Pementasan konser musikal ini merupakan kolaborasi antara Happy Salma sebagai produser, Agus Noor sebagai sutradara dan penulis naskah, Iskandar Loedin sebagai penata artistik, aktris Handradjasa sebagai penata rias dan Hagai Pakan sebagai penata kostum.

Yang unik, para pemain dalam pementasan ini hampir semua bernyanyi dengan diiringi musik yang indah dari penata musik Bintang Indrianto dan koreografi menawan garapan koreografer Josh Marcy. Tak usah membayangkan suara yang merdu mendayu karena sejumlah pemain yang terlibat memang tidak memiliki keahlian khusus bernyanyi. Namun menyimak Reza Rahadian bersenandung selama pertunjukan, sama sekali tidak jelek.

Pementasan kali ini menampilkan sesuatu yang berbeda, berkat sebuah kolaborasi antara seni pertunjukan dengan fesyen. Para pemain mengenakan busana yang khusus dibuat oleh desainer senior Indonesia, Biyan Wanaatmadja, menggunakan kain tenun Baron.

Konser musikal puisi-puisi cinta bertajuk ‘Cinta Tak Pernah Sederhana’ menggambarkan awal mula penciptaan: Awal mulanya adalah kata. Kata yang membuat kita mengenal dunia. Lalu muncul manusia pertama, yang pengetahuan pertamanya adalah memahami nama-nama (yakni bahasa).

Maka manusia pertama itu, sesungguhnya orang yang memahami bahasa. Ia adalah penyair pertama di surga. Lalu ia mengenal cinta, ia kesepian tanpa cinta. Dan munculah perempuan, sang kekasih. Keduanya menjadi sepasang kekasih pertama di surga. Mereka ingin mencintai dengan sederhana, tapi cinta memang tak pernah sederhana, hingga sepasang kekasih itu kemudian turun ke dunia: Menyaksikan senja pertama di bumi, saling mencintai dan berpisah.

Di dunia, sang laki-laki menjadi seorang penyair yang mencintai seorang perempuan, yang juga mencintai sepenuh hati tetapi ragu. Si penyair merindukan kemerdekaan, tapi apa arti kemerdekaan tanpa cinta? Seperti dalam sajak Rendra: “Kau tak akan pernah mengerti bagaimana kesepianku, menghadapi kemerdekaan tanpa cinta!”

Dan penyair itu memperjuangkan cintanya. Tapi cinta mereka tak pernah sederhana. Kerinduan dan kesedihan seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. “Maka Kau adalah mata, aku airmatamu”. Sampai suatu kali, perempuan itu ditangkap, karena dituduh berdosa, dan kemudian meninggal dunia.

Penyair itu sedih kehilangan perempuan yang dicintainya. Ia sering muncul di kuburan. Di sinilah kelucuan dan ironi muncul: mencintai ternyata juga harus sanggup menanggung kepedihannya. Kata-kata harus diperjuangkan, begitu juga cinta. Meski tak pernah sederhana.

Kemudian si penyair ditangkap, dimatikan: inilah nasib getir si penyair. Tapi semua itu justru membuat penyair menemukan kekuatan dan mengalami pengalaman spiritual yang membebaskan. Dalam adegan pembakaran, ketika tubuh penyair dimasukkan ke dalam api berkobar, ia tetap yakin: Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Sang penyair menjadi semakin menemukan nilai spiritual. Ia merasa begitu dekat dengan Tuhan, Begitu, cinta, meski tak sederhana, membuat penyair itu menemukan kemerdekaannya, juga cinta indahnya, cintanya pada Tuhan. Ini adalah gambaran perjalanan spiritual manusia modern, yang menemukan pencerahannya.

Yang patut diacungi jempol adalah Aiqah Hasiholan. Dengan luwes dia bergoyang dalam irama dangdut. Sensual namun juga lucu. Kita akan melihat totalitas Atiqah saat tampil di panggung. Menjadi orang yang berbeda dan menjiwai perannya nyaris sempurna.

Bagaimana pun, konser musikal ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Para pemain tidak hanya berakting, namun mereka juga diuji untuk dapat mengucapkan puisi menjadi terlihat wajar dan seperti dialog pada umumnya. Sesuatu yang bila tidak hati-hati, dialog tersebut akan terdengar seperti sekadar deklamasi puisi.

“Pertunjukan seperti ini nyaris tak pernah ada. Naskah pertunjukan ini merupakan hasil dari kecerdasan sang sutradara yang mempunyai wawasan luas dalam puisi dan sastra Indonesia, dalam mengolah banyak kata-kata dari banyak puisi, hingga tersusun dengan indah menjadi jalinan dialog dan alur cerita,” tandas Happy Salma.

Dan, saya setuju dengan ucapannya. (HG)

Iklan

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: