Lanjut ke konten

CHI Award 2018 Berikan Penghargaan untuk Pahlawan Warisan Budaya Indonesia

11/11/2018

Hidupgaya – Indonesia dikatakan sebagai taman sari puspa ragam budaya. Sekira 17 ribu pulau di negeri ini, sebagian didiami oleh lebih dari 300 kelompok etnis, dengan lebih dari 1.300 suku bangsa dan memiliki 652 bahasa daerah.

Kekayaan yang luar biasa ini sudah sepatutnya dilestarikan dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia sendiri, dari generasi ke generasi.  Yayasan Al-Mar, melalui salah satu divisinya, Divisi Budaya yang disebut The Culture Heritage of Indonesia (CHI), bertujuan turut berperan dalam melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Indonesia.

Kepedulian CHI pada kelangsungan warisan budaya Indonesia ini antara lain dituangkan dalam bentuk pemberian penghargaan kepada para pahlawan warisan budaya Indonesia.

Wiwit Ilham Panjaitan, inisiator dan pendiri CHI Heritage mengatakan, untuk kali pertama penghargaan ini diberikan kepada para pejuang di balik bertahannya industri batik. “CHI Award 2018, merupakan sebuah apresiasi kepada para pahlawan warisan batik di Indonesia. Dari awal hingga selesai, proses batik merupakan pekerjaan tangan yang penuh cita rasa seni dengan keteguhan hati dalam melaksanakannya,” ujar Wiwit dalam temu media sesaat sebelum pemberian penghargaan CHI Award 2018 di Plaza Indonesia, Sabtu (10/11), bertepatan dengan Hari Pahlawan.

Dalam kesempatan yang sama, Musa Widyatmodjo, Dewan Pemerhati Seni Budaya untuk CHI Award 2018, mengutarakan keprihatinan terkait dengan makin berkurangnya pembuat alat membatik canting.  “Pembuat alat membatik canting tulis kini hanya tinggal hitungan jari tangan jumlahnya, pembuat canting cap juga memprihatinkan, demikian pula dengan pembuat ‘malam’ atau lilin yang digunakan untuk membatik yang semakin sedikit,” ujarnya.

Musa bahkan prihatin mendengar kabar bahwa ada perajin yang mengekspor alat membatik banting cap hingga satu kontainer ke Malaysia. “Bukan salah perajin cantingnya, karena mereka butuh dana untuk bertahan. Harga canting tulis di tingkat perajin hanya Rp3 ribu per buah, sementara canting cap Rp15 ribu,” ujar Musa.

Dan yang menyedihkan belum banyak atau berkurangnya ketertarikan dari generasi muda untuk meneruskan kepandaian membuat alat utama dalam membatik, yaitu canting dan malam. Kepada merekalah penghargaan CHI Award 2018 kategori pelestari diberikan.

Insana Habibie, sebagai pemerhati budaya, mengungkapkan generasi muda bisa dipaparkan kekayaan Nusantara, dengan menyematkan ke dalam gaya berpakaian harian. “Keberlangsungan bisnis juga harus lancar, misalnya untuk perajin canting dan malam. Karena kalau bisnis menukik turun, perajin bisa dengan mudah banting stir ke profesi lain,” ujar Insana, pemilik merek batik Limaran.

Insana juga menyoroti tentang perajin batik alusan (tulis) yang eksis namun pasarnya tidak ada. “Kalau ada batik alusan namun pasarnya tidak ada, bagaimana akan bertahan. Batik alusan memang tidak bisa murah karena dari prosesnya memang rumit. UMR di Indonesia juga tidak murah,” imbuhnya.

Batik adalah craft yang memegang status sosial penting dan jadi budaya. “Hal ini yang harus dipahami,” beber Insana.

Wiwit menambahkan, CHI Award 2018 juga akan diberikan kepada Kategori Penerus, Inovator, dan juga Penghargaan Khusus (Legacy).

Untuk Kategori Penghargaan Khusus diberikan kepada Go Tik Swan atau Panembahan Hardjonagoro. Go Tik Swan adalah orang yang mendapat tugas dari Presiden Soekarno untuk membuat Batik Indonesia.

Seperti diungkap dalam Jawa Sejati: Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro (2008), Batik Indonesia yang dibuat Go Tik Swan pada dasarnya merupakan hasil perkawinan batik klasik keraton—terutama gaya batik Surakarta dan Yogyakarta—dengan batik gaya pesisir utara Jawa Tengah, terutama Pekalongan.

Tentang CHI Heritage

Perkumpulan The Culture Heritage of Indonesia (CHI Heritage – Warisan Budaya Indonesia) merupakan divisi budaya dari Al Mar Foundation. Yayasan yang sekretariatnya ada di Jakarta ini bergerak di bidang sosial, keagamaan, kemanusiaan, pendidikan dan budaya. Duduk sebagai pendiri Al Mar Foundation adalah Wiwit Ilham Panjaitan; Insana Habibie; Tri Sudwikatmono; Pinta Solihin Kalla, dan; Ayu Dyah Pasha.

Yang duduk di dewan eksekutifnya adalah Dian Muljadi; Fatimah Kalla, dan; Anitasa Richir. Anggotanya Inne Sudomo; Nanny Tjandra; Rika Thohir; Lala Hamid; Dewi Makes; Tias Pribadi; Nani Koespriani; Musa Widyamodjo; Melyana Tjahyadikarta, dan; Amy Wirabudi. (HG)

Iklan

From → Fashion Spread

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: