Lanjut ke konten

Yurita Puji Usung Songket Aceh Melenggang di Milan Fashion Week 2019

09/10/2018

Hidupgaya – Aceh tidak hanya dikenal berkat kopinya, atau masakan yang kaya rempah semata. Namun songket khas Serambi Mekah ini juga mendunia.

Adalah desainer Yurita Puji yang mengusung songket dengan motif khas pinto (pintu) Aceh tampil di ajang Milan Fashion Week Spring Summer 2019, yang dihelat Minggu (22 Oktober 2019) di Principe di Savoia, Piazza Della Repubblica, Milan, Italia.

Dengan menampilkan garis desain yang simple, Yurita menghadirkan enam koleksi busana ready to wear yang didominasi blazer, jaket, dan blus – semuanya lengan panjang. Keindahan motif tenun Aceh tampil memikat dengan permainan warna merah, hijau, biru, emas dan hitam. Koleksi Yurita dipercantik dengan aksesoris dari Jeany Wang yang juga menampilkan pinto Aceh dan beberapa ciri dari ornamen Aceh.

Yurita mengakui, motif pinto Aceh mempunyai makna tersendiri, yang terinspirasi setelah bertemu dengan pengusaha dari Aceh, H. Ng Yani Paripurna.

Tentang Motif Pinto Aceh

Kembali membahas mengenai koleksinya, Yurita mengatakan kain songket Aceh atau tenun ikat tradisional Aceh adalah kerajinan tangan yang dilakukan secara tradisional dan turun menurun dengan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) dengan menggunakan benang emas.

Hasil tentun berupa kain songket Aceh digunakan untuk berbagai keperluan seperti pakaian adat Aceh, hiasan meja, hiasan dinding, antaran pernikahan, dan tentu saja bisa dijadikan cinderamata khas Aceh.

Yurita menyebut, terkait motif pintu, ternyata itu hanyalah salah satu dari ratusan motif khas Aceh. Pinto (pintu) Aceh berbentuk ramping dengan jeruji-jeruji yang dihiasi motif kembang ditambah lagi sebagai pelengkap dengan rumbai-rumbai sepanjang kedua sisi.

Desain Pinto Aceh diperoleh dari monumen peninggalan Sultan Iskandar Muda bernama Pinto Khop. Monumen tersebut yang sekarang di sekitarnya dijadikan taman rekreasi, terletak di tepi sungai (krueng) Daroy. Konon dulunya sebagai pintu belakang istana Keraton Aceh khusus untuk keluar masuknya permaisuri Sultan Iskandar Muda beserta dayang-dayangnya ketika sang permaisuri menuju ke tepian sungai untuk mandi.

Sekarang ini taman tersebut diberi nama Tanian Putroe Phang (Taman Putri Pahang), nama sang permaisuri, dari desain gerbang kecil Pintu Khop itulah diambil motif untuk perhiasan yang bernama Pinto Aceh ini.

‘Drama’ Sebelum Pertunjukan

Desainer yang konsisten mengangkat wastra Nusantara ke dalam koleksi busananya ini sempat mengalami kejadian yang agak ‘drama’ saat mengikuti pergelaran busana di Milan. “Milan Fashion Week SS 2019 ini benar – benar mengajarkan saya bagaimana Kuasa Yang Di Atas seketika dapat menjadikan sesuatu terjadi atau pun tidak terjadi. Saat terbang dari London ke Milan, koper saya sempat hilang. Ngurusnya 3 hari tidak tidur, apalagi baju yang akan ditampilkan ada di situ semua,” ujar Yurita.

Jadilah ia harus menyisir dua bandara di Milan untuk mengurus koper dan mencari tahu keberadaannya. “Ternyata kopernya ada di London, usaha terakhir saya adalah meminta bantuan dari Kemenlu  dan KBRI di London,” kata Yurita menceritakan pengalamannya.

Yurita mendapatkan kopernya hanya satu jam sebelum koleksinya harus tampil. “Buat saya ini keajaiban dan kehendak Tuhan dan doa dari banyak orang,” pungkasnya. (HG)

Iklan

From → Fashion Spread

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: