Skip to content

Menyiasati Mie sebagai Menu Sarapan Bernutrisi

30/04/2018

Hidupgaya – Makan mie sebagai menu sarapan kerap dituding sebagai hal yang tidak sehat. Padahal, hal ini menurut ahli gizi tidak benar, asalkan kita tahu cara mengolahnya.

Mie menurut Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Prof Hardinsyah bisa dijadikan menu sarapan, asalkan didampingi dengan protein juga sayuran sebagai sumber serat. “Jangan lagi ditambah nasi, karena membuat kelebihan karbo. Mie merupakan sumber karbo yang mengenyangkan,” kata Prof Hardinsyah dalam edukasi sarapan sehat yang diselenggarakan Pergizi Pangan dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk di SDN 01 Sukamaju, Jonggol, Jawa Barat, baru-baru ini.

Sumber protein yang bisa dijadikan pendamping sarapan mie bisa telur atau ikan. Sedangkan, sayuran bisa berupa sawi atau kol.

“Mie bisa jadi menu sarapan sehat karena salah satu sumber karbohidrat yang dibutuhkan tubuh setelah semalaman tidak mengonsumsi makanan atau minuman,” imbuhnya.

Salah jika menuding mie sebagai ‘makanan jahat’ untuk sarapan. “Kuncinya tidak berlebihan, dan harus ditambah sumber gizi lain agar seimbang,” bebernya.

Di Jepang dan China, makan mie sudah menjadi budaya, sementara di Indonesia makanan pokok sebagian masyarakat adalah nasi.

Karena bukan budaya, makan mie bisa dilakukan bergantian dengan makan nasi.

Idealnya sarapan mencakup seperempat kebutuhan kalori harian. Sarapan penting dilakukan karena menjadi ‘bahan bakar’ penting bagi tubuh untuk beraktivitas.

“Bila tidak sarapan, hanya dalam waktu 30 sampai 60 menit akan terjadi gangguan konsentrasi dan proses pembelajaran,” imbuh Prof Hardinsyah.

Menurut Naskah Akademik Pekan Sarapan Nasional Pergizi Pangan Indonesia (2012), prevalensi tidak biasa sarapan pada anak dan remaja mencapai 16,9 hingga 59 persen, sedangkan pada orang dewasa jumlahnya lebih tinggi, yaitu 31,2 persen.

Sementara hasil analisis data konsumsi pangan Riskesdas 2010 pada 35.000 anak usia sekolah 44,6 persen anak yang sarapan hanya memperoleh asupan energi kurang dari 15% kebutuhannya yang seharusnya 15-30% kebutuhan (Hardinsyah dan Aries M, 2012). Artinya, 70% atau 7 dari 10 anak usia sekolah belum memenuhi gizi sarapan.

Menyikapi hal ini Prof Hardinsyah mengatakan, Pergizi Pangan dan Indofood secara berkesinambungan akan memberikan edukasi kepada masyarakat, yang meliputi siswa SD, orangtua, guru, mahasiswa dan dosen.

“Ini memasuki tahun ke empat. Hasil evaluasi yang kami lakukan di dua kota yang menjadi baseline Pendidikan Sarapan Sehat, yakni Malang dan Purwokerto, menunjukkan adanya peningkatan praktik sarapan sehat siswa SD dari 57% di tahun 2016 menjadi 73% di tahun 2017. Atas hal ini, Pergizi Pangan maupun Indofood menganggap perlu untuk melanjutkan program edukasi sarapan sehat sebagai kontribusi bagi upaya perbaikan gizi bangsa.

Prof Hardinsyah menambahkan, tujuan edukasi sarapan sehat untuk mengingatkan dan mendorong masyarakat terutama anak sekolah dan remaja agar menerapkan perilaku gizi seimbang dengan baik, yang salah satunya adalah membiasakan sarapan sehat yaitu kegiatan makan dan minum yang aman dan bergizi memenuhi 15-30% kebutuhan gizi sebelum beraktivitas atau sekolah, maksimal sebelum jam 9 pagi.

Dalam kesempatan yang sama CSR Manager Indofood Dwi Setyo Irianingsih menambahkan, bersama Pergizi Pangan, Indofood akan terus menggalakan edukasi mengenai pentingnya sarapan, khususnya anak SD kelas 3 hingga 6. Alasannya, anak-anak kelas 3 sampai kelas 6 sudah bisa menentukan jajanan mana yang dipilhnya. Sedangkan pada anak kelas 1 dan 2 yang diedukasi orangtuanya.

“Data juga menunjukkan, anak-anak SD sudah terindikasi anemia. Masa depan mereka masih panjang, makanya perlu edukasi sarapan sehat sejak dini,” beber Dwi.

Tahun ini edukasi sarapan sehat akan dilakukan di 7 area, yaitu Jonggol (Bogor), Bandung, Tasikmalaya, Cirebon (Jawa Barat), Purwokerto (Jawa Tengah), Malang, Jember, dan Sidoarjo (Jawa Timur).

Dalam tiga tahun terakhir, edukasi ini rata-rata menjangkau 12 ribu siswa setiap tahun. Tahun ini, jumlah siswa yang teredukasi ditargetkan naik ke angka 14.000 orang. (HG/dokterdigital)

Iklan

From → Diet & Nutrition

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: