Lanjut ke konten

Jangan Anggap Remeh Penyakit Cacingan, Dampaknya Serius

22/10/2017

Hidupgaya – Kecacingan, hari gini? Tampaknya tak masuk akal. Namun nyatanya kecacingan tetap dapat ditemukan belakangan ini. Bukan hanya di masyarakat pedesaan, kecacingan juga bisa berjangkit pada masyarakat kota.

Sayangnya, sebagian besar masyarakat masih anggap sepele penyakit cacingan pada anak. Padahal, dampak kecacingan pada anak berimplikasi serius, misalnya menyebabkan kurang gizi, menimbulkan penurunan fungsi kognitif atau kecerdasan, bahkan pada kasus yang ekstrem bisa memicu kematian.

Head of Medical Affairs PT. Johnson & Johnson Indonesia dr. Rospita Dian menyebut, sebanyak 60 hingga 80 persen anak sekolah dan balita mengalami kecacingan.

Meski kecacingan kerap terjadi pada anak, tidak menutup peluang pada orang dewasa juga. Jika salah satu anggota keluarga terkena kecacingan, maka semua orang satu rumah perlu minum obat cacing. “Karena cacing sangat mudah menular melalui penyebaran telur atau larva,” ujar Rospita pada media workshop mengenai penyakit cacingan bersama Combantrin di Jakarta, baru-baru ini.

Banyak juga yang menganggap bahwa cacingan merupakan penyakit ringan yang dapat sembuh dengan sendirinya. Hal ini jelas pemahaman yang keliru. “Penyakit cacingan yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh anak, malnutrisi, menurunnya kecerdasan, hingga kematian,” bebernya.

Cacing bisa masuk ke tubuh manusia melalui kontak langsung antara kulit dengan tanah atau air yang kotor, di mana ada telur atau larva cacing. Setelah menembus kulit, cacing akan masuk ke pembuluh darah vena, lalu menuju ke organ dalam tubuh manusia.

Selanjutnya, cacing berkembang biak di dalam usus dan menggigit dinding usus untuk mengambil nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Nah, cacing yang terus berkembang biak di dalam usus, lama kelamaan akan semakin banyak dan terus menggerogoti nutrisi tubuh. “Itulah yang menyebabkan penderitanya menjadi kekurangan gizi,” ujar Rospita.

Akibatnya, dapat menganggu perkembangan mental dan fisik anak. Hal tersebut dapat membuat kecerdasan dan produktivitas anak menurun, sehingga sulit untuk mendapatkan masa depan yang baik. “Bahkan pada kasus yang berat dan berlarut-larut, cacing dapat menyumbat usus dan menyebabkan kematian,” imbuhnya.

Mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan, orangtua sebaiknya mewaspadai setiap gejala cacingan yang muncul. Gejala-gejala tersebut di antaranya adalah anak terlihat lesu, tidak bergairah, dan vitalitas berkurang, sulit berkonsentrasi, semangat belajar menurun, sering sakit perut, nafsu makan berkurang, pucat, mudah gugup, sulit tidur, dan sering merasa gatal di area anus pada malam hari.

“Anak yang kurang gizi juga dapat mengalami stunting, yaitu fisik lebih pendek dan kecil dari teman seusianya,” ujar Rospita.

Penurunan fungsi kecerdasan anak karena kecacingan adalah akibat dari berkurangnya daya ingat dan konsentrasi. Anak yang mengalami kecacingan biasanya merasa gatal di bagian dubur pada malam hari, sehingga sulit tidur. Penyebab gatal pada dubur biasanya akibat cacing kremi yang memiliki ‘hobi’ bermigrasi di area dubur di malam hari.

Akibat gatal di malam hari ini, esoknya di sekolah anak jadi tidak semangat belajar. “Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi kecerdasan anak,” kata Rospita.

Rospita lebih lanjut menjelaskan, terdapat hubungan antara kurang gizi dengan kecerdasan anak, apalagi jika terjadi terus-menerus. “Anak yang mengalami persistent malnourishment dan stunting memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata dan produktivitas rendah, sehingga sulit bagi mereka mendapatkan masa depan yang baik,” ujarnya.

Untuk mencegah cacingan terjadi pada anak, dr. Rospita menyarankan agar meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), di antaranya:

1.Mencuci tangan dengan sabun setelah BAB. Air saja tidak cukup membersihkan telur atau larva cacing yang mungkin menempel pada sela atau permukaan tangan.

2. Cuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan dan menyantap makanan

3.Menjaga higienitas alat-alat kebersihan

4.Menciptakan lingkungan tempat tinggal yang bersih

5. Menggunakan air bersih untuk keperluan rumah tangga

6. Menjaga kebersihan makanan

7. Rutin memotong kuku anak. Ingatkan juga anak untuk selalu memakai alas kaki.

8. Minum obat cacing secara berkala, khususnya untuk anak usia sekolah dan di bawah 5 tahun.

Dalam upaya menurunkan angka prevalensi cacingan pada anak dan balita yang mencapai angka 80 persen, PT. Johnson & Johnson Indonesia melalui Combantrin, bekerja sama dengan Pemerintah melalui Gerakan Waspada Cacingan, yang telah dimulai sejak tahun 2015.

Menurut Country Leader of Communication & Public Affairs, PT. Johnson & Johnson Indonesia Devy Yheanne, kerja sama tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai penyakit cacingan, sehingga masyarakat dapat mencegah dan melindungi anak-anak dari penyakit ini.

“Demi mendukung anak Indonesia agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, kami ingin mengajak para orangtua untuk melakukan pencegahan cacingan dengan cara memberikan obat cacing secara rutin setiap enam bulan atau satu tahun sekali, terutama jika anak sudah berusia di atas dua tahun,” tandas Devy. (HG)

Iklan

From → Beauty & Health

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: