Skip to content

Kejadian Kanker Saluran Cerna di Indonesia Naik, Ini Pemicunya

12/09/2017

Hidupgaya – Angka kejadian kanker saluran cerna – misal kanker pankreas dan kanker kolorektal – terus meningkat jumlahnya. Peningkatan kasus kejadian kanker itu, antara lain, disebabkan oleh gaya hidup masyarakat, misalnya suka mengonsumsi makanan berlemak, kurang makan sayur/serat, kurang gerak, juga obesitas.

Sakit maag (dispepsia)

Kasus lain yang juga banyak terdapat di masyarakat adalah meningkatnya kejadian batu di saluran empedu, demikian dipaparkan Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD KGEH, Ketua Umum PEGI (Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia) menandai dibukanya workshop tentang advanced endoscopy sebagai bagian dari kalender acara outreach the Asia Pacific Society for Digestive Endoscopy (APSDE) tahunan di FKUI RSCM Jakarta, Senin (11/9).

Di Indonesia, angka kejadian kanker kolorektal terbilang tinggi. Ini berbeda dengan kasus kanker di Jepang. Di Jepang,  kata Prof Hisao Tajiri, MD, President Japanese Gastroenterological Endoscopy Society yang ikut dalam jumpa pers itu, kasus yang paling banyak adalah kanker lambung.

Selain karena pola makan yang salah, juga disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori (H. Pylori).

Hal yang perlu mendapat sorotan adalah, kuman Helicobacter pylori di Jepang banyak diidap oleh orang Jepang. “Kuman ini dapat menyebabkan kanker saluran cerna (gastric cancer) jika tak diobati dengan tuntas,” kata Tajiri.

Dia menekankan kuman H pylori merupakan faktor risiko kanker saluran cerna di Jepang. Kanker usus besar di Jepang termasuk tinggi, antara lain karena adanya perubahan pola makan.

H. Pylori kini juga menjadi perhatian peneliti Indonesia. Dokter Ari yang memimpin studi tersebut juga menemukan ada beberapa faktor yang menyebabkan kuman ini bisa tumbuh di daerah lain, tapi  tidak di tempat lain.

Selama tiga tahun, Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia, khususnya kelompok studi H. Pylori Indonesia, melakukan studi di 20 rumah sakit di Indonesia.

Dari hasil penelitian terhadap 1.100 pasien, Dokter Ari bersama Prof Yoshio Yamaoka dari Universitas Iota, Jepang. Riset menemukan prevalensi H pylori di Indonesia sebesar 22,1%. Artinya, 1dari 5 pasien dispepsia (sakit maag) berpotensi mengalami infeksi bakteri tadi. “Suku bangsa dan sumber air menjadi salah satu faktor risiko infeksi kuman itu,” tandas Dokter Ari. (HG/dokterdigital)

Iklan

From → Beauty & Health

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: