Skip to content

Melestarikan Kekayaan Bangsa, Menjaga Lingkungan Tetap Lestari

04/06/2017

Hidupgaya – Bicara tentang kain tradisional, Indonesia adalah gudangnya. Beragam karya berharga kain tradisional ada di Indonesia, salah satunya adalah tenun.

Sebagai salah satu warisan tradisional Nusantara, saat ini kain tenun semakin berkembang dengan berbagai macam teknik pengerjaan, seperti songket, ikat, lurik, dan masih banyak lainnya. Sayangnya, pengerjaan tenun ini belum ramah lingkungan, misalnya perajin masih cenderung menggunakan pewarnaan sintetis ketimbang warna alam.

Hal ini tentu disayangkan, karena proses pembuatan tenun sejatinya bisa ramah lingkungan untuk mendukung produksi yang berkelanjutan. Nah, terkait dengan itu, Switch Asia Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan Tenun Tradisional yang didanai oleh Uni Eropa, bersama pusat standarisasi Kementerian Lingkungan dan Kehutanan serta Cita Tenun Indonesia (CTI), mengampanyekan pentingnya upaya untuk menggiatkan tenun yang bersahabat dengan alam.

Menurut Project Manager Switch Asia Hand Woven Textile, Miranda, para penenun dan perajin kebanyakan adalah perempuan miskin yang melestarikan pengetahuan tradisionalnya. “Sayangnya, banyak dari mereka yang belum memahami bahaya dari bahan pewarna sintetis yang digunakan bagi lingkungan,” kata Miranda dalam temu media di Grand Indonesia Jakarta, baru-baru ini.

Miranda memaparkan, selama ini beberapa produksi tenun masih kurang ramah lingkungan. Pewarnaan menggunakan bahan sintetis dibuang ke tanah atau ke sungai. Hal itu dikhawatirkan menimbulkan pencemaran.

“Mungkin bukan industri besar, tapi kalau banyak tetap saja pencemaran. Itu dari sisi lingkungan. Dari sisi budayanya, sektor tenun banyak ditinggalkan anak muda. Dengan adanya program ini, sektor tenun bisa lebih kompetitif,” harap Miranda.

Miranda menambahkan, kolaborasi itu berkomitmen menyusun dokumen strategi konsumsi dan produksi berkelanjutan untuk sektor tenun tradisional Indonesia. “Program ini akan bermitra dengan 4.332 perajin tenun tradisional Indonesia di 27 kabupaten dan 12 provinsi di Indonesia,” urainya.

“Kami akan mengedepankan pengembangan sektor tenun tradisional Indonesia selama 5 tahun ke depan.  Hal ini termasuk pengembangan ekolabel (sertifikat ramah lingkungan ) untuk tenun warna alam yang saat ini sedang digalakkan para desainer di berbagai belahan dunia,” ujarnya.

Miranda berharap, projek Sustainable Hand Woven Eco Textile ini diharapkan dapat berkontribusi kepada peningkatan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan di Indonesia dan Filipina melalui pengembangan rantai nilai tenun tradisional yang ramah lingkungan.

Tenun menggunakan pewarna alam yang lebih ramah lingkungan (dok. istimewa)

Dia lebih lanjut mengatakan, hasil produk tenun ramah lingkungan ini nantinya tidak hanya akan diolah menjadi produk fashion yang dikembangkan oleh para desainer, namun juga akan dikembangkan menjadi produk furnitur hingga aksesoris lainnya.

Pihak Uni Eropa melalui HIVOS, Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK), Cita Tenun Indonesia (CTI) dan Non Timber Forest Product Exchange (NTFP EP) berkomitmen untuk membiayai program itu hingga 80 persen. Ke depannya diharapkan dapat mendorong keberlanjutan konsumsi dan produksi di wilayah Asia. (HG)

 

Iklan

From → Fashion Spread

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: