Lanjut ke konten

Teater Koma Tampilkan ‘Opera Ikan Asin’ Rasa Kekinian

02/03/2017

Hidupgaya – Menandai perjalanan karya menapaki 40 tahun, Teater Koma akan menampilkan lakon Opera Ikan Asin, yang digelar di Ciputra Artpreneur, Lotte Shopping Avenue Jakarta selama 4 hari, terhitung 2 hingga 5 Maret 2017.

Teater Koma Opera Ikan Asin. (dok. Teater Koma)

Teater Koma Opera Ikan Asin. (dok. Teater Koma)

“Ucapan terima kasih dan syukur juga diucapkan kepada para pemain dan pekerja yang telah menunjukan semangat dan dedikasinya selama 3 bulan proses latihan. Apa yang tersaji di panggung adalah hasil kerja keras mereka,” kata Ratna Riantiarno, Pimpinan Produksi Teater Koma.

“Tema pementasan Opera Ikan Asin, juga terasa tepat dengan apa yang terjadi sekarang ini. Semoga melalui lakon yang kami bawakan ini, penonton dapat mengambil makna dan pesan moral tersirat yang berusaha kami sampaikan,” imbuhnya.

Teater Koma pertama kali mementaskan lakon ini pada 30 Juli hingga 8 Agustus 1983 di Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki. Lakon yang sama dipentaskan lagi pada 20-21 Agustus 1983 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Di tahun 1999, Teater Koma menampilkan lakon ini di Graha Bhakti Budaya 10-24 April 1999.

Teater Koma Opera Ikan Asin. (dok. Teater Koma)

Teater Koma Opera Ikan Asin. (dok. Teater Koma)

Pementasan yang disadur dari lakon The Beggar’s Opera karya John Gay dan musik J.C. Pepusch yang dipentaskan tahun 1728 di London, lakon Die Dreigroschenoper atau The Threepenny Opera karya Bertolt Brecht dengan komposisi musik dari Kurt Weill dipentaskan pertama kali di Theater am Schiffbauerdam, Berlin pada 31 Agustus 1928.

Lakon inilah yang kemudian disadur oleh N. Riantiarno, dengan memberinya judul Opera Ikan Asin, sedangkan latar peristiwa, London sekitar abad ke-19, dipindahkan ke Batavia abad ke-20, zaman Hindia Belanda.

Opera Ikan Asin bercerita tentang Si Raja Bandit Batavia, Mekhit alias Mat Piso menikahi Poli Picum tanpa seizin Ayahnya, Natasasmita Picum, juragan pengemis se-Batavia. Picum mengancam Kartamarma, asisten kepala Polisi Batavia yang juga sahabat Mekhit, bahwa para pengemisnya akan mengacaukan upacara pengobatan Gubernur Jendral yang baru.

Teater Koma Opera Ikan Asin. (dok. Teater Koma)

Teater Koma Opera Ikan Asin. (dok. Teater Koma)

Terpaksa Mekhit ditangkap, dia akan digantung tepat saat upacara penobatan, tapi saat tali menjerat leher, datang surat keputusan dari Gubernur Jenderal, apa isinya?

“Inilah lakon tentang sebuah era yang penuh ketidakjelasan. Raja Bandit dijadikan pahlawan oleh masyarakat. Para petinggi hukum bersahabat dengan para penjahat kakap, sogok-menyogok adalah sebuah kewajaran. Hukum pun bisa disandera oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan pribadi. Zaman dimana titah penguasa tertinggi memutarbalikkan keputusan pengadilan,” kata Nano Riantiarno, sutradara pementasan Opera Ikan Asin.

Nano menambahkan, naskah ini akan ditampilkan sama seperti naskah yang asli, komposisi musik karya Kurt Weill yang terkenal dalam lakon ‘The Threepenny Opera’ pun tidak diubah, hanya diaransemen kembali oleh Fero,” ujar Nano Riantiarno, sutradara pementasan Opera Ikan Asin.

Pementasan Opera Ikan Asin kali ini menampilkan Budi Ros, Cornelia Agatha, Sari Madjid Prianggoro, Alex Fatahillah, Asmin Timbil, Raheli Dharmawan, Budi Suryadi, Daisy Lantang, Ratna Ully, Naomi Lumban Gaol, Suntea Sisca, Dana Hassan, Ariffano Marshall, Allen Guntara, Sir Ilham Jambak, Julung Ramadan, Bangkit Sanjaya, Bayu Dharmawan Saleh, Adri Prasetyo, Sekar Dewantari, Netta Kusumah Dewi, Joind Byuwinanda dan Rangga Riantiarno.

Para pemain tersebut akan dibalut dengan keindahan kostum dari Samuel Wattimena, koreografi oleh Ratna Ully dan bimbingan vokal dari Naomi Lumban Gaol serta tata rias garapan Sena Sukarya dan PAC Martha Tilaar memperkuat aksi pemain.

Teater Koma Opera Ikan Asin. (dok. Teater Koma)

Teater Koma Opera Ikan Asin. (dok. Teater Koma)

Lirik-lirik gubahan N. Riantiarno disertai komposisi musik Kurt Weill dengan aransemen garapan Fero Aldiansya Stefanus semakin menghiasi lakon ini. Tata artistik dan tata cahaya panggung digarap oleh Taufan S. Chandranegara, didukung oleh Pimpinan Panggung Sari Madjid Prianggoro, pengarah teknik Tinton Prianggoro serta pimpinan produksi Ratna Riantiarno, di bawah arahan co-sutradara Ohan Adiputra dan Sutradara N. Riantiarno.

Pementasan Teater Koma ini didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation.
Selain mendukung pertunjukan, Bakti Budaya Djarum Foundation juga berpartisipasi dalam program apresiasi seni pertunjukan Teater Koma, yaitu sebuah program yang bertujuan untuk mengajak 200 pekerja seni teater, guru, dan mahasiswa di Jakarta untuk menonton pertunjukan Teater Koma.

Program ini diharapkan memberikan ruang apresiasi bagi masyarakat terutama yang belum pernah menonton karya Teater Koma sebelumnya, sehingga mereka menemukan referensi mengenai sajian artistik serta konsep dramaturgi yang detil dari karya Teater Koma.

Harga tiket Opera Ikan Asin dijual mulai dari Rp150.000 –  Rp850.000. Pembelian tiket dapat melalui,  tiket@teaterkoma.org, http://www.teaterkoma.org, http://www.blibli.com. (HG)

Iklan

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: