Lanjut ke konten

Sembarang Minum Obat Pereda Nyeri, Akibatnya Serius Lo

03/07/2015

Nyeri bagi sebagian orang bisa sangat mengganggu, sementara bagi sebagian yang lain dianggap sebagai hal yang biasa. Urusan menahan nyeri, laki-laki lebih juara dibanding perempuan.

sakit kepala4

Rasa nyeri ini bisa muncul di sejumlah bagian tubuh, seperti kepala, punggung, dan bagian tubuh lainnya.

Untuk mengatasinya, umumnya masyarakat lebih suka membeli obat pereda nyeri alias analgetika di warung, alih-alih mengunjungi dokter.

Meski obat semacam ini dijual bebas, namun neurolog dari Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jimmy F. A. Barus, mengingatkan masyarakat hati-hati dan bijaksana  menggunakan obat penahan rasa sakit. “Jika masih ringan, boleh saja minum obat yang dijual bebas. Namun jika nyeri tak kunjung membaik setelah dua atau tiga hari, segera periksa ke dokter. Jangan meningkatkan dosis obat sendiri,” ujar Jimmy dalam Pfizer Press Circle di Jakarta, Kamis (2/7).

Penggunaan analgetika berlebihan tanpa rekomendasi dokter dapat menimbulkan efek negatif, misalnya memicu masalah pada ginjal.

Jimmy menjelaskan, nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh dan proteksi terhadap kerusakan jaringan. Jika rasa nyeri dibiarkan maka bisa berkembang menjadi nyeri kronis yang mengganggu seseorang dalam menjalani aktivitas hidupnya. “Jika nyeri akut tidak tertangani dengan baik, bisa berkembang menjadi kronis, jadi sumber penderitaan seseorang,” ujarnya.

Untuk penanganan rasa nyeri, selain dengan obat, bisa juga dengan pendekatan non-obat, misalnya berupa terapi fisik atau psikologis.

“Untuk penanganan nyeri punggung misalnya, selain menggunakan obat pereda nyeri, perlu juga diimbangi dengan cara duduk yang benar, yang tidak membebani punggung. Bisa juga dengan relaksasi dan sugesti positif nyeri bisa sembuh, karena menyangkut psikologis,” urai Jimmy.

Kondisi nyeri berkaitan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari. Nyeri, kata Jimmy, adalah salah satu alasan paling umum bagi pasien untuk mencari bantuan medis dan merupakan salah satu keluhan yang paling umum terjadi.

Persepsi Nyeri Berbeda

Masalah nyeri dapat terjadi bersamaan dengan proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobatan.

“Rasa nyeri yang dialami oleh setiap individu memiliki persepsi yang kompleks dan bervariasi antara individu yang satu dengan individu yang lain, meskipun mendapatkan cedera atau penyakit yang relatif sama,” ujar dia.

Ditambahkan oleh ahli saraf ini, nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan dimana berhubungan dengan kerusakan jaringan atau potensial terjadi kerusakan jaringan, sehingga individu bisa merasa tersiksa, menderita dan tidak nyaman yang akhirnya menggangu aktivitas sehari-hari, psikis dan lain-lain.

“Persepsi nyeri setiap individu sangat subjektif, tergantung kondisi emosi yang berbeda pada laki-laki maupun perempuan serta berbeda pada tingkat usia penderita dan pengalaman emosional sebelumnya serta tingkat toleransi yang bervariasi pada setiap individu terhadap rasa nyeri yang dialaminya,” ujar Jimmy.

Berdasarkan lamanya, nyeri dapat dibedakan menjadi nyeri akut dan nyeri kronis. Kebanyakan nyeri akut bersifat terbatas atau akan sembuh dalam beberapa hari atau minggu yang biasanya terjadi kurang dari 1-3 bulan dan nyeri kronis adalah nyeri yang menetap dialami lebih 3 bulan sejak mulai dari dirasakan nyeri.

Dalam beberapa kasus, nyeri akut yang tidak ditangani dengan tepat kemungkinan dapat berkembang menjadi nyeri kronis.

“Nyeri kronis bisa memperburuk kualitas hidup pasien karena dapat menurunkan kemampuan bekerja, menimbulkan gangguan tidur, kecemasan, frustrasi, dan depresi, kurang nafsu makan, berdampak negatif pada sikap dan gaya hidup, serta ketergantungan pada obat dan perawatan medis,” beber Jimmy.

Oleh karena itu, rasa nyeri harus ditangani secara tepat dan tidak seharusnya diabaikan. Bila dibiarkan berlanjut dan tidak ditangani dengan tepat, rasa nyeri yang ringan sekalipun dapat berlangsung kronis dan semakin berat, bahkan menyebabkan depresi.

Nyeri dapat dianggap sebagai suatu “warning sign” adanya proses penyakit dalam tubuh. Oleh sebab itulah dewasa ini, nyeri telah diperlakukan sebagai salah satu dari tanda vital, bersamaan dengan tekanan darah, frekuensi nadi dan napas, serta suhu tubuh.

Sekali lagi Jimmy menekankan, hindari penggunaan analgetika yang beredar di pasaran secara berlebihan untuk menghindari efek yang tidak diinginkan. Ada baiknya untuk pemilihan obat penghilang nyeri yang tepat, sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter.

Dokter akan mengevaluasi sifat dan jenis nyeri yang dialami serta ada tidaknya penyakit penyerta lain pada pasien sehingga penanganan dan pengobatan nyeri lebih tepat dan efektif.

“Obat penghilang sakit sebaiknya digunakan sesuai dengan rekomendasi dokter untuk menghindari penggunaan yang berlebihan. Kepatuhan pasien penting diperhatikan dalam medikasi nyeri untuk mencapai tujuan penanganan nyeri yang tepat guna menghindari overuse, underuse ataupun misuse dari analgetika,” tandasnya.

(www.dokterdigital.com)

Iklan

From → Beauty & Health

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: