Hidupgaya.co – Industri fesyen di Tanah Air terus berkembang, khususnya untuk busana santun (modest fashion) dan pakaian muslim. Konsumen mencari bahan pakaian yang nyaman, menyerap keringat dan cocok dikenakan di iklim tropis. Selain katun, konsumen mulai melirik viskose, merupakan jenis serat rayon semi-sintetis yang terbuat dari selulosa (bubur kayu).

Viskose rayon merupakan bahan pakaian yang ringan, dan nyaman menjadi alternatif menarik untuk diaplikasikan di industri fesyen.

Asia Pacific Rayon (APR) dikenal sebagai produsen serat rayon viskose dalam negeri yang menghasilkan bahan baku tekstil ramah lingkungan, mudah terurai, bersumber dari hutan tanaman industri terbarukan.

Perusahaan yang berbasis di Pangkalan Kerinci, Riau, selalu menjunjung bisnis berkelanjutan. “Bagi APR, sustainable business bukanlah syarat tapi wajib. Kami tidak akan menjalankan bisnis yang tidak menjaga hutan yang menjadi sumber kayu untuk produk viskose. Kami menjaga hutan tetap lestari, terus mengembangkan produk kayu, memilih bibit yang baik yang disesuaikan dengan kondisi daerah,” ujar Aryo Oetomo, Head of APR dalam temu media jelang pameran tekstil dan garmen terbesar Asia Tenggara, Indo Intertex dan Inatex di Jakarta, Rabu (8/4).

Untuk itu, APR mengandalkan tim R&D mumpuni yang terus melakukan riset mencari bibit terbaik guna meningkatkan produktivitas di lahan terbatas. “Dalam melakukan bisnis kami menjaga area hutan, karena kalau tidak dijaga maka bahan baku viskose juga tidak akan berkembang,” urai Aryo.

Aryo Oetomo, Head of APR (paling kanan) menjelaskan keunggulan viskose rayon sebagai bahan pakaian alternatif ramah lingkungan (dok. Hidupgaya.co)

Berdiri sejak 2019, APR telah mengekspor produk rayon viskose ke 17 negara, di antaranya Turki, India, Pakistan, Malaysia, Bangladesh dan lain-lain. Untuk pasar dalam negeri, APR telah menjalin kemitraan dengan 7 mitra lokal, antara lain Agungtex, Manunggal Adipura, Centro Textile, Mutiara Nata dan Vikaro.

Aryo menyampaikan, viskose rayon menjadi bahan alternatif pakaian ramah lingkungan. “Bahannya akan terasa berbeda jika dipakai,” terangnya.

Untuk meningkatkan awareness, APR terus melakukan inovasi, mengembangkan viskose dengan bahan lain, misalnya denim dan rajut. “Akan dicoba juga untuk diaplikasikan dengan bahan-bahan lain,” cetusnya.

Harus diakui, penetrasi viskose rayon di Tanah Air belum besar. “Perlu waktu untuk memperkenalkan viskose rayon dengan mitra pabrikan tekstil di Indonesia. Masih perlu waktu karena viskose kategori baru. Pasarnya masih lebih kecil dibanding poliester dan katun, tapi growing-nya menjanjikan,” ujar Aryo.

Indo Intertex dan Inatex 2026 bidik 35 ribu pengunjung

Pameran tekstil dan garmen Indo Intertex dan Inatex bakal hadir 15–18 April 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Memasuki edisi ke-22, pameran ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai ajang industri yang konsisten mendorong inovasi dan kolaborasi di sektor tekstil dan garmen.

Menempati area seluas lebih dari 35.000 meter persegi, Indo Intertex dan Inatex 2026 akan diikuti oleh lebih dari 800 peserta yang merepresentasikan 1.500 merek global, serta menargetkan kehadiran lebih dari 35.000 pengunjung profesional dari 29 negara.

“Indo Intertex dan Inatex hadir untuk menjawab kebutuhan industri secara nyata, mulai dari menghadirkan pemasok yang relevan, menampilkan teknologi yang tepercaya, hingga menciptakan lingkungan bisnis yang mendukung pelaku industri dalam mengambil keputusan secara lebih cepat,” ujar Direktur PT Peraga Expo, Paul Kingsen.

Dia menekankan, Indo Intertex & Inatex tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga berperan dalam memperkuat ekosistem industri tekstil nasional dengan mempertemukan pelaku usaha melalui program business matching yang membuka peluang kerja sama dan transaksi bisnis secara langsung.

Selain itu, pameran ini turut mendorong masuknya investasi serta pemanfaatan teknologi terkini untuk meningkatkan efisiensi produksi, kualitas produk, dan daya saing di pasar global.

Sejumlah program unggulan juga dihadirkan untuk memperkaya wawasan sekaligus memberi nilai tambah bagi pelaku industri di ajang pameran ini.

Temu media jelang pameran tekstil dan garmen Indo Intertex dan Inatex 15–18 April 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta (dok. Hidupgaya.co)

Seminar dan workshop interaktif akan menghadirkan para ahli dan praktisi guna membahas tren, strategi, serta tantangan terkini di industri tekstil dan garmen.

Di sisi lain, isu keberlanjutan dan sirkularitas tekstil menjadi sorotan, mendorong pelaku industri untuk semakin memahami dan menerapkan praktik berkelanjutan yang kian relevan di pasar global.

Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan trunk show yang menampilkan karya-karya kreatif desainer dari Indonesia Fashion Chamber (IFC), menghadirkan inspirasi sekaligus hiburan yang mencerminkan dinamika perkembangan industri fesyen nasional.

Indo Intertex dan Inatex 2026 menawarkan pengalaman industri yang komprehensif, tidak hanya membuka peluang bisnis, tetapi juga memperluas wawasan serta mendorong pelaku industri untuk terus beradaptasi, berinovasi, dan meningkatkan daya saing di tengah dinamika pasar global. (HG)