Hidupgaya.co – Indonesia menghadapi beban gizi ganda: kurang gizi dan kelebihan (obesitas). Anak kurang gizi biasanya kurus /berat badan kurang (underweight), bila tidak lekas ditangani, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan pada anak, termasuk stunting.
Kondisi underweight merujuk pada anak dengan berat badan lebih rendah dibandingkan berat badan menurut usianya. Status gizi ini biasanya dapat dilihat melalui kurva pertumbuhan anak di buku KIA yang digunakan dalam pemantauan di posyandu.
Menurut Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University Prof. Ali Khomsan, anak dengan status gizi underweight merupakan kelompok yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan stunting. “Anak underweight itu adalah salah satu faktor yang bisa menyebabkan stunting nantinya. Jadi kita utamakan yang underweight dulu,” ujarnya dalam temu media Program Pendampingan Gizi dalam Mendukung Upaya Pencegahan Stunting yang dihelat Nestle Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.
Prof. Ali menyarankan, anak-anak yang memiliki berat badan (BB) rendah dibandingkan usianya harus diberi dua jenis lauk (sumber protein) setiap makan utama. Tujuannya untuk mengejar pertumbuhan dan mencegah stunting. “Anak-anak balita kalau underweight, pemberian lauk hewaninya harus dua, misal telur dan ikan, untuk mengejar pertumbuhan dan mencegah stunting,” ulasnya.
Selain telur, ikan bisa menjadi alternatif sumber protein hewani. Program intervensi gizi berbasis protein hewani yang dilakukan Nestle Indonesia, menurut Prof. Ali, pemberian dua jenis sumber protein berdampak pada kesehatan anak balita, khususnya balita dengan berat badan rendah yang tak sesuai usianya. “Hasilnya, berat badan meningkat, anak menjadi riang, dan risiko mengalami stunting berkurang,” bebernya.

Prof. Ali mengingatkan, stunting jika telanjur terjadi pada anak maka proses intervensinya akan lebih panjang. “Maka dari itu, upaya pencegahan perlu dilakukan sedini mungkin melalui pemantauan pertumbuhan anak serta intervensi gizi yang tepat,” tandasnya.
Program Pendampingan Gizi 2025
Nestle Indonesia bersama mitra lintas sektor yang berperan dalam pelaksanaannya, yaitu Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), TP PKK Kabupaten Batang, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Prof. Ali Khomsan, serta Edu Farmers selaku mitra field officer menjalankan Program Pendampingan Gizi 2025.
Dilaksanakan selama enam bulan, sejak Juli 2025 hingga Januari 2026, program ini menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting melalui pendampingan 147 kader, serta pembekalan edukasi kepada 520 ibu hamil dan menyusui di Kabupaten Karawang, Batang, dan Pasuruan.
Berdasarkan pemantauan bersama mitra akademisi, program menunjukkan penurunan prevalensi underweight (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang) sebesar 22,5%, disertai perbaikan indikator pertumbuhan anak serta peningkatan pemahaman keluarga terkait pemenuhan energi dan gizi harian.
Selain perbaikan indikator pertumbuhan, program ini juga meningkatkan kapasitas keluarga dan kader dalam menerapkan praktik pemenuhan energi anak, variasi konsumsi, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin.
Konsistensi pendampingan kader memastikan intervensi tidak berhenti pada pemberian asupan, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan makan yang lebih baik di tingkat rumah tangga sebagai bagian dari upaya pencegahan masalah gizi anak.
Program Pendampingan Gizi 2025 berfokus pada upaya pencegahan melalui deteksi dini anak dengan berat badan stagnan atau sulit naik.
Intervensi dilakukan dengan mengombinasikan pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi esensial berupa pemberian satu butir telur dan satu gelas susu setiap hari selama enam bulan, disertai edukasi keluarga dan pemantauan rutin pertumbuhan anak.

Pendekatan pendampingan keluarga ini memungkinkan intervensi dilakukan secara berkelanjutan, adaptif, dan sesuai kebutuhan di lapangan.
Peningkatan pemahaman keluarga juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan praktik gizi. Market Nutritionist Lead PT Nestlé Indonesia, Jennifer Handaja, menjelaskan bahwa sebagian keluarga menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi dan variasi konsumsi anak secara optimal.
“Temuan baseline menunjukkan adanya kesenjangan pada pemenuhan energi dan zat gizi mikro penting seperti zat besi dan kalsium. Karena itu, intervensi difokuskan pada solusi yang realistis dan mudah diterapkan sehari-hari,” ujarnya.
Melalui edukasi, pendampingan kader, dan monitoring rutin, keluarga menjadi lebih percaya diri dalam memenuhi kebutuhan gizi anak serta menerapkan praktik makan yang lebih baik di rumah. (HG)