Hidupgaya.co – Konsistensi masyarakat Indonesia dalam memenuhi kebutuhan cairan harian masih rendah. Padahal hidrasi menjadi hal penting, terutama saat puasa Ramadan. Data The Indonesian Regional Hydration Study (THIRST) menunjukkan bahwa 46,1% penduduk Indonesia mengalami dehidrasi ringan, dengan proporsi yang lebih tinggi pada kelompok remaja (49,5%) dibandingkan dewasa (42,5%).

Bahkan, sebanyak 24,75% remaja di dataran tinggi dan 41,70% remaja di dataran rendah tercatat mengalami dehidrasi ringan, mengindikasikan bahwa persoalan hidrasi tidak semata berkaitan dengan tingkat pengetahuan, tetapi juga keteraturan pola minum dalam keseharian.

Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara pemahaman dan praktik hidrasi, terutama di tengah aktivitas yang padat dan gaya hidup modern.

Sejumlah publikasi ilmiah yang dimuat dalam National Library of Medicine menunjukkan bahwa kebutuhan cairan harian orang dewasa umumnya berada di kisaran 2 hingga 2,5 liter per hari, namun pada praktiknya masih banyak orang yang belum memenuhinya secara konsisten dalam keseharian.

Menurut dr. Cut Hanafiah, tantangan menjaga hidrasi tidak hanya berkaitan dengan jumlah cairan yang dikonsumsi, tetapi juga keteraturan pola minum dalam keseharian. Kondisi ini menjadi semakin penting selama periode puasa, ketika waktu konsumsi cairan lebih terbatas dan memerlukan perencanaan yang lebih terstruktur.

“Tubuh manusia memiliki mekanisme keseimbangan cairan yang sangat bergantung pada keteraturan asupan minum, bukan hanya jumlahnya. Ketika asupan cairan tidak merata sepanjang hari, tubuh bisa mengalami penurunan kenyamanan dan performa ringan, seperti cepat lelah atau menurunnya konsentrasi,” kata Dokter Spesialis Gizi Klinik dalam temu media yang dihelat Aquviva di Jakarta, bau-baru ini.

Dia menekankan, pada periode puasa, perencanaan hidrasi menjadi semakin penting. “Panduan sederhana seperti 3–2–1 membantu membentuk kebiasaan minum yang lebih terstruktur, sehingga keseimbangan cairan tubuh dapat terjaga dengan lebih optimal,” tuturnya.

Metode 3–2–1 panduan hidrasi sederhana yang mudah diingat untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan hidrasi agar tetap nyaman dalam menjalani berbagai aktivitas sehari-hari, termasuk selama menjalani ibadah puasa.

Menurut dr. Cut, teknik 3-2-1 tidak hanya soal jumlah, tetapi juga soal pembagian waktu minum yang tepat. Air sebaiknya tidak diminum sekaligus dalam jumlah besar. “Tubuh tidak bisa langsung menerima cairan dalam jumlah besar sekaligus, sehingga perlu diminum secara bertahap agar penyerapannya optimal,” bebernya.

Secara fisiologis, lambung memiliki kapasitas terbatas. Jika terlalu banyak minum dalam satu waktu, proses metabolisme lain bisa terganggu dan tubuh justru terasa tidak nyaman.

Oleh sebab itu, pola 3-2-1 dapat dibagi ke dalam tiga waktu utama selama Ramadan: saat berbuka puasa, untuk mengembalikan cairan yang hilang setelah seharian berpuasa; setelah tarawih, untuk membantu proses metabolisme dan mengganti cairan tubuh secara bertahap; di waktu sahur, sebagai cadangan hidrasi sebelum kembali berpuasa seharian.

dr. Cut Hanafiah memaparkan strategi hidrasi selama puasa dengan metode 3-2-1

“Pilihan waktu itu sangat penting. Kalau tidak, lambung akan menyerap kebanyakan air sehingga energi habis ke saluran cerna dan bisa menyebabkan tubuh merasa lebih cepat lelah,” pungkas dr. Cut.

Pola 3-2-1 merupakan kampanye yang diserukan Aquviva, merek air minum dalam kemasan (AMDK) Wings Food. “Kampanye ini mengusung konsep 3 botol Aquviva berukuran 700 ml yang setara dengan 2 liter air dalam sehari,” ujar Senior Brand Manager Aquviva Devi Chrisnatalia.

Dia menyampaikan, kampanye 3–2–1 merupakan bagian dari komitmen Aquviva dalam mendampingi masyarakat Indonesia menjalani gaya hidup seimbang. “Melalui kampanye 3–2–1, Aquviva ingin menghadirkan panduan hidrasi yang sederhana, praktis, dan mudah diingat,” beber Devi. (HG)