Hidupgaya.co – Selain gudeg, Yogyakarta juga dikenal dengan inovasi kuliner mi nyemek, yang dalam bahasa Jawa menggambarkan tekstur yang tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Bukan mi goreng, bukan pula mi yang banjir kuah, namun nyemek, dengan rasa legit karena bumbu meresap.
Mi nyemek menjadi salah satu kuliner yang digemari saat kunjung ke Yogyakarta, beda dengan mi godog kuah yang juga tak kalah nikmat, mi nyemek merupakan variasi bakmi Jawa yang disajikan dengan kuah kental dalam jumlah sedikit, disajikan setengah basah, jadi antara kuah dan goreng.
Kuliner mi nyemek mudah kita temui di kedai penjual mi Jawa atau Warmindo (Warung Makan Indomie) dan lezat disantap kapan saja. Bagi yang pernah merantau di Yogyakarta, mi nyemek seakan menjadi penghangat yang menenangkan, bahkan saat kantong tiris, karena makanan tradisional ini biasanya bisa diperoleh dengan harga terjangkau.
Rupanya, popularitas mi nyemek tak hanya di Yogyakarta, melainkan sampai Medan, Sumatra Utara. Kalau di Yogyakarta mi nyemek menyajikan rasa legit agak manis, versi Medan lebih berempah dengan rasa kari yang kental. Keduanya sama-sama enak.
Nah, kini masyarakat luas bisa menikmati mi nyemek di mana saja dan kapan saja bersama keluarga, atau teman, tak perlu jauh-jauh datang ke Yogyakarta atau Medan.

Pasalnya, Indomie Hype Abis telah menghadirkan mi nyemek instan dalam kemasan praktis siap masak lengkap dengan bumbu, hasil kolaborasi dengan dua legenda Warmindo, Siti Artani, pencipta resep mi nyemek dari Warmindo Mie Nyemekee Bu Siti, Yogyakarta, dan Bang Agem, pionir mi nyemek ala Banglahdes’e dari Warmindo Agem Senyum Ketawa, Medan yang viral.
Keduanya dikenal memiliki racikan mi nyemek bercita rasa khas dan pelanggan setia yang bertahan selama bertahun-tahun. Bu Siti merintis usaha mi nyemek di tahun 2000. Idenya sederhana, saat itu di Yogyakarta masih jarang yang menyajikan mi dengan kuah sedikit. “Jadi, saya bikin mi goreng yang dikasih kuah dikit. Itu mi nyemek,” tuturnya di acara Indomie Nyemek On The Block di Gandaria City, Jakarta, Jumat (13/2).
Rupanya menu itu mendapat sambutan luas. Saat ini, Bu Siti mempekerjakan enam karyawan dari keluarga dan tetangga seiring meningkatnya popularitas mi nyemek. “Banyak tamu datang dari luar kota minta menu itu,” ujarnya.
Adapun mi nyemek Bang Agem terinspirasi dari mi tumis Aceh, yang juga sedikit kuah. Menu yang dikenal luas Mi Banglahdes’e (kerap disebut Mi Bangladesh), menawarkan rasa rempah kari yang lebih berani. Menu ini disukai pelanggan, bahkan dalam sekali masak bisa menghabiskan 2 kardus mi, setara dengan 80 bungkus.
Nama Mi Banglahdes’e cukup unik dan sulit dilafalkan, gabungan dari nama ayahnya, Abdullah, dan desa tempat ia dibesarkan. Nama itu memuat doa sekaligus harapan agar bisnis yang dirintisnya selalu ramai dan membawa berkah untuk banyak orang.
Konsistensi menjadi kunci warung mi Bang Agem selalu ramai. “Rasanya harus sama dari dulu sampai sekarang. Itu yang saya jaga,” bebernya.

Indomie Hype Abis Mi Nyemek, menurut Senior Brand Manager PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, Cherie Anisa Nuraini, melanjutkan kesuksesan pendahulu, varian mi seblak dan ayam geprek yang juga mendapatkan animo tinggi dari anak muda, mendominasi buzz di media sosial.
Diakui Cherie, lini Hype Abis memang lahir dari pengamatan terhadap tren kuliner yang sedang marak di masyarakat. “Indomie Hype Abis inspirasinya dari tren kuliner viral maupun hidden gem. Kami melihat apa yang ramai dibicarakan dan disukai masyarakat,” terangnya.
Dia menambahkan, “Ini bukan goreng, bukan kuah, ini mi nyemek baru dengan sedikit kuah! Cukup tambahkan 12 sendok makan air rebusan dan semua orang bisa menikmati sensasi mi nyemek yang khas.”
Varian Indomie Hype Abis Mi Nyemek melalui proses pengembangan resep bersama Bu Siti dan Bang Agem, bolak balik Jakarta, Yogyakarta dan Medan demi mendapatkan rasa autentik. “Prosesnya bolak-balik sampai dapat approval supaya rasanya tetap autentik,” ujar Cherie.
Kesempatan sama, pembuat konten kuliner Steven Wong mengakui kolaborasi Indomie dengan dua legenda Warmindo dari Yogyakarta dan Medan itu pas dan selaras dengan selera anak muda, khususnya Gen Z
“Gen Z menyukai makanan unik dan berbeda, namun tetap memiliki kedekatan dengan rasa lokal. Kolaborasi ini luar biasa. Makanan jadi lebih berwarna dan kita bisa lebih terpuaskan,” tuturnya.
Meskipun banyak kuliner dari luar negeri, khususnya Korea dan Jepang yang disukai kalangan muda, namun masih ada tempat bagi makanan dengan bumbu dan rempah khas Nusantara yang cocok dengan lidah Indonesia.
Indomie Nyemek on The Block
Sebagai perayaan atas sensasi tren kuliner mi nyemek ini, Indomie menghadirkan Indomie Nyemek on The Block, sebuah ruang kolaborasi yang memadukan kreativitas, semangat inovasi, dan eksplorasi rasa.

Selama tiga hari, 13-15 Februari, Lobi Piazza Mal Gandaria City, Jakarta, menjadi titik temu antara brand, komunitas, legenda lokal Warmindo, dan generasi muda, yang dikemas menjadi pengalaman kuliner, hiburan, dan interaksi digital dalam satu kesatuan yang seru.
Indomie Nyemek on The Block menyajikan beragam kegiatan seru dan interaktif, mulai dari pengalaman dimasakin oleh legenda Warmindo: Bang Agem dari Warkop Agem Senyum Ketawa Medan dan Bu Siti dari Warmindo Mie Nyemekee Bu Siti Jogja, Waktu Indomie Berdendang (WIB) bersama Nyanyi Bareng Jakarta dan Juicy Luicy, photo spots, arcade games, digital challenge, hingga kreasi merchandise kekinian.
“Lebih dari sekadar inovasi rasa, dua varian Indomie Hype Abis Mi Nyemek juga menjadi wujud apresiasi terhadap kultur Warmindo dan bentuk nyata komitmen Indomie dalam mendukung Warmindo sebagai UMKM yang hidup dan berkembang bersama masyarakat,” pungkas Cherie. (HG)