Hidupgaya.co – Perkembangan revolusi digital yang pesat ibarat pedang bermata dua. Risiko kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak di ruang digital cenderung naik.

Tak dimungkiri, perkembangan teknologi yang semakin cepat telah menghadirkan peluang besar bagi pendidikan dan partisipasi anak, namun pada saat yang sama juga membuka celah kerentanan baru.

Karenanya, penguatan resiliensi digital, yakni kemampuan anak, keluarga, dan komunitas
untuk mengenali risiko, melindungi diri, serta pulih dari dampak kekerasan, menjadi kebutuhan yang mendesak.

Dalam hal ini, penguatan literasi digital dan kerangka regulasi perlu ditingkatkan. Menurut Rizki Ameliah, Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital, regulasi tidak dibuat untuk melarang anak menggunakan teknologi, tetapi untuk memastikan platform digital bertanggung jawab dan orang tua mampu mendampingi anak secara optimal di ruang digital.

“Literasi digital harus dimulai dari keluarga. Orang tua perlu lebih cakap digital agar dapat melindungi, membimbing, dan mendukung anakanaknya memanfaatkan teknologi secara aman dan positif,” terang Rizki di acara Safer Internet Day (SID) 2026 yang dihelat Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA) di Jakarta, Rabu (4/2).

Diskusi pentingnya penguatan resiliensi digital untuk perlindungan anak

Sementara itu, Indra Gunawan, Plt. Deputi Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menyoroti peran teman sebaya dalam memberikan edukasi yang mudah diterima anak-anak dan remaja. Hal ini telah dijalankan oleh Sejiwa Muda, sebagai bagian dari inisiatif program SEJIWA.

“Pendekatan sebaya yang dilakukan oleh Sejiwa Muda sangat efektif. Pesan perlindungan pnak akan lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh sesama anak dan remaja dengan bahasa yang dekat dengan keseharian mereka,” terang Indra.

Dia menyampaikan, edukasi dan perlindungan anak membutuhkan kerja bersama. Perlindungan anak di ruang digital tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah agar anak-anak Indonesia benar-benar terlindungi.

Tanggung jawab perlindungan anak

Dalam sambutannya, Diena Haryana, pendiri SEJIWA, menegaskan bahwa Safer Internet Day bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan pengingat akan tanggung jawab bersama untuk melindungi anak.

“Melalui penguatan resiliensi digital dan pendekatan berbasis komunitas, kami ingin memastikan anak-anak tidak hanya terlindungi, tetapi juga berdaya dan berani bersuara,” ujar Diena.

Pada momentum ini, SEJIWA meluncurkan Ruang Aman SEJIWA, yakni ruang berbasis komunitas yang hadir di empat area sebagai tempat berbagi, pendampingan awal,
dan dukungan bagi korban.

Para penggerak Ruang Aman bukan konselor atau tenaga medis, namun aktivis komunitas yang telah dilatih untuk memberikan dukungan awal, rujukan yang
tepat, serta terhubung dengan helpline SEJIWA.

Selain itu juga dirilis film pendek Praba, hasil kolaborasi anak dan komunitas dalam kerangka SUFASEC (Stepping up the Fight Against Sexual Exploitation of Children Online & Offline).

SUFASEC merupakan inisiatif tiga tahun yang berfokus pada peningkatan upaya pencegahan dan penanganan eksploitasi seksual anak, baik di ranah daring maupun luring.

Proyek ini dilaksanakan di 12 negara dan didanai oleh Pemerintah Belanda melalui aliansi internasional Down to Zero, dengan dukungan jaringan regional Child Rights Coalition Asia (CRC Asia).

Diena Haryana, pendiri SEJIWA

Koordinator SUFASEC CRC Asia, Jasmin
Arabe, menilai film pendek Praba menjadi sebagai refleksi penting partisipasi anak.

“Film Praba menunjukkan betapa pentingnya partisipasi anak dalam menyuarakan
pengalaman dan solusi terkait kekerasan seksual. Anak bukan hanya korban, tetapi juga aktor perubahan,” tutur Jasmin. 

Tak kalah penting Jasmin menekankan pentingnya jalur perlindungan yang bermartabat. Pendekatan yang menekankan jalur pelaporan formal dan dukungan komunitas yang aman adalah kunci untuk memastikan penyintas mendapatkan perlindungan yang bermartabat.

Last but not least, melalui peringatan Safer Internet Day 2026, SEJIWA mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem perlindungan anak berbasis kolaborasi, partisipasi anak, dan resiliensi digital.

Upaya ini mencakup pencegahan, penanganan, pemulihan, serta keberlanjutan melalui Ruang Aman SEJIWA dan jejaring komunitas. (HG)