Hidupgaya.co – Emas logam mulia dalam beberapa hari terakhir mengalami dinamika, mencatat kenaikan yang diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir tahun.
Situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian ditambah dinamika geopolitik internasional masih akan menjaga emas sebagai aset lindung nilai berada di posisi tinggi.
Head of Research DBS Indonesia William Simadiputra menyampaikan harga emas dunia masih akan berada di kisaran US$4.500 hingga US$5.000 per troy ounce. Diproyeksikan harga emas rata-rata di level US$5.000 per troy ounce.
Bahkan, dalam skema paling positif harga emas diproyeksikan mencapai US$5.500 per troy ounce. “Mungkin di US$5.000-an (per troy ounce) dengan maksimum US$5.500,” tutur William di acara ‘Unlocking Indonesia’s
Wealth Potential: DBS Guides Through Indonesia’s Resilient Economy with Unparalleled Wealth Insights and Tailored Solutions’ di Jakarta, Rabu (4/2).

“Perkembangan geopolitik yang terus memunculkan berita tak terduga menjadi salah satu faktor yang membuat harga emas naik,” cetusnya. “Dalam kondisi tidak pasti, investor biasanya mencari aset alternatif yang dianggap aman. Salah satunya emas.”
Selain itu, melemahnya dollar AS juga berdampak pada penguatan emas. Pelemahan indeks dollar AS, sebut William, membuka peluang bagi investor untuk kembali lagi pada logam mulia atau emas sebagai kurs alternatif.
Dia memproyeksikan harga emas logam mulia berpotensi mencapai Rp3,6 juta per gram di sepanjang tahun ini.
Meskipun harga logam mulia emas saat ini cukup tinggi namun investor tetap akan meliriknya dan membuatnya tetap berkilau. “Emas masih menjadi bagian dari portofolio investasi sebagain besar orang meskipun harganya tinggi,” bebernya.
Situasi itu diprediksi masih akan terus bertahan di tengah isu geopolitik dan dedollarisasi yang terjadi.
Bahkan, di tengah ketidakpastian geopolitik kemungkinan posisi emas di US$5.000 per troy ounce masih akan bertahan. “Kondisi ini membuat emas kembali menarik, terutama bagi investor yang ingin melindungi portofolionya dari volatilitas,” ulasnya.
Lebih lanjut William mengungkap, menilai dari sisi permintaan, pembelian emas oleh investor individual tidak terjadi secara cepat dalam jumlah besar. Namun, keterbatasan suplai membuat harga emas cenderung bertahan tinggi.

Untuk saran investasi, William menekankan dalam kondisi pasar saat ini, strategi investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. “Untuk investor konservatif, tetap fokus pada instrumen berisiko rendah, seperti obligasi berkualitas tinggi atau reksa dana pendapatan tetap. Instrumen ini dinilai masih mampu memberikan imbal hasil yang relatif stabil,” ujarnya.
Investor moderat dapat menerapkan strategi diversifikasi dengan mengombinasikan beberapa instrumen, seperti obligasi, emas, dan sebagian kecil saham. Hal ini bertujuan menjaga keseimbangan antara risiko dan potensi imbal hasil.
Sementara bagi investor agresif, bisa mempertahankan porsi investasi saham, dengan tetap menambahkan unsur diversifikasi ke aset lindung nilai seperti emas untuk meredam risiko volatilitas pasar.
Dalam situasi pasar yang belum menemukan momentum kuat, sebut William, diversifikasi dinilai menjadi kunci utama. Untuk itu, kombinasi antara saham, obligasi, dan emas dianggap dapat membantu investor menjaga stabilitas portofolio di tengah ketidakpastian global. (HG)