Hidupgaya.co – Menandai perjalanan 35 tahun di Tanah Air, McDonald’s Indonesia merilis film pendek Sepenuhnya Indonesia, menggandeng talenta lokal Ario Bayu Wicaksono. Bercerita tentang keseharian dan nilai kebersamaan yang dekat dengan masyarakat, film pendek ini terasa relevan sekaligus menyentuh.
Caroline Kurniadjaja, Associate Director of Marketing McDonald’s Indonesia menyampaikan, Ario Bayu terpilih sebagai pemeran utama karena dinilai pas merepresentasikan sosok Indonesia. “Ario sosok yang santun, hangat, dan membumi, selaras dengan pesan yang ingin disampaikan melalui film ini,” ujarnya di acara temu media di Jakarta, baru-baru ini.
Bagi Ario Bayu yang telah membintangi sejumlah film papan atas nasional, narasi adalah elemen utama yang membuat cerita terasa hidup dan jujur. “Yang membuat saya tertarik adalah niat untuk menggambarkan dan mengembangkan nilai-nilai kekeluargaan Indonesia, seperti ramah-tamah, sopan santun, dan atribut-atribut yang kadang kita lupa sebagai orang Indonesia,” ulasnya.
Hal yang membuat ia tertarik terlibat di film pendek ini karena perayaan 35 tahun tidak ingin dimaknai sekadar sebagai penanda usia, juga merefleksikan nilai-nilai luhur dalam keseharian masyarakat. “Kedekatan emosional itulah yang membuat cerita ‘Sepenuhnya Indonesia’ terasa relevan bagi saya,” ujar pria kelahiran 6 Februari 1985.
Sempat tinggal di luar negeri beberapa waktu lalu, kehangatan dan keramahtamahan masyarakat Indonesia terasa melekat kuat di benaknya. “Film ini merupakan sebuah makna tentang melakukan segala sesuatu dengan hati, berangkat dari niat baik, diupayakan dengan sungguh-sungguh, dan pada akhirnya menghadirkan kebaikan,” tuturnya.
Di tengah dunia yang bergerak dinamis, refleksi terhadap nilai-nilai dasar justru menjadi semakin penting. “Kadang kita lupa refleksi-refleksi kecil tentang siapa kita sebagai bangsa. Dan cerita ini menurut saya menyentuh sekali,”bebernya.

Di tangan sutradara kawakan Dimas Djayadiningrat, film ini dibangun dengan pendekatan naratif yang sederhana namun emosional. Bagi pelakon, narasi adalah elemen utama yang membuat cerita terasa hidup dan jujur. “Saat kami menontonnya di ruang post-produksi, saya dan Mas Dimas sama-sama tersentuh,” Ario mengakui.
Film Sepenuhnya Indonesia juga memilki makna personal bagi Ario. Dia mengakui, di usia 26 tahun pernah pivoting ke industri perikanan, yang mengharuskan dia berada di lokasi pelelangan ikan di pagi hari.
“Setiap jam 4 pagi saya sudah ada di pelelangan ikan, menunggu hasil tangkapan sampai jam 7 pagi. Adegan nelayan menangkap tuna seberat 4 kilogram itu terasa relevan bagi saya, semua bahu membahu membantu, tidak bertengkar. Apa yang didapat dari alam dibagi secara adil,” ujar suami Valentine Payen-Wicaksono.
Ario berharap film ini dapat sampai dan dinikmati masyarakat dengan pesan-pesan sarat makna yang lekat dengan budaya adiluhung Indonesia sebagai bangsa.
Penguatan rantai pasok dan inovasi
Kesempatan sama, McDonald’s Indonesia juga mengundang salah satu mitra pemasok asal Bali, Made Gunada, untuk berbagi pengalaman menjalin kolaborasi dengan rantai makanan siap saji selama lebih dari tiga dekade.
Perlu diketahui, sekitar 76% bahan baku yang digunakan restoran siap saji ini berasal dari pemasok dalam negeri, bahkan kebutuhan utama seperti daging ayam, sayuran, telur, beras, cabai, dan minyak 100% disuplai dari pemasok lokal.
“Saya memulai kerja sama dengan McDonald’s Indonesia sejak 1993, sebagai petani skala kecil di Bali yang memiliki berbagai keterbatasan,” ujar Made.
Dia merasakan dukungan penuh McDonald’s Indonesia saat menjalani kemitraan ini. “Saya juga mendapatkan pendampingan menyeluruh, termasuk peningkatan fasilitas sehingga usaha kami bisa tumbuh dan konsisten memenuhi standar kualitas produk yang sejalan dengan standar internasional,” tuturnya.
Dari usaha mandiri berskala kecil, kini wilayah operasi yang dikelola Made telah berkembang hingga Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dengan melibatkan ratusan petani setempat. “Saat ini, kami memasok ke lebih dari 50% restoran McDonald’s di Indonesia,” tandasnya.

Dimulai dari restoran pertama di Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat, pada 1991 hingga kini mengoperasikan lebih dari 300 restoran yang tersebar di 94 kota. Caroline menekankan, seiring berkembangnya kebutuhan pelanggan, McDonald’s Indonesia terus menghadirkan inovasi layanan, mulai Drive Thru, layanan pesan antar McDelivery, hingga memanfaatkan kanal digital yang kini menjadi bagian dari keseharian gaya hidup masyarakat.
Komitmen terhadap kualitas dan kepercayaan juga tercermin melalui penerapan standar keamanan pangan yang ketat dan sesuai dengan prinsip halalan thayyiban (halal dan baik). Hal ini mengantarkan McDonald’s Indonesia sebagai restoran cepat saji pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi halal Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 1994, serta yang pertama mendapatkan sertifikat halal sepanjang masa dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) pada 2024.
Selain itu, McDonald’s Indonesia secara konsisten juga menghadirkan kreasi variasi menu bercita rasa Nusantara, seperti nasi uduk, ayam gulai, burger rendang, dan lain sebagainya yang dikembangkan khusus untuk pasar Indonesia dan disesuaikan dengan selera masyarakat Indonesia. (HG)