Hidupgaya.co – Sampah menjadi masalah bersama, terutama sampah plastik yang mencapai puluhan juta ton per hari dan tidak dapat terurai secara alami. Sampah plastik dapat terfragmentasi dari ukuran makro hingga mikro dan nano plastik yang sangat sulit dikendalikan.

“Sampah plastik di mana-mana, dari makro ke mikro, dari 5 mm ke 1 mm, dan setelah ratusan tahun menjadi nano plastik yang terus terdegradasi menjadi partikel lebih kecil lagi,” ujar Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono di acara peresmian Tempat Pengelolaan Sampah Reduce–Reuse–Recycle (TPS3R) di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Fasilitas ini hadir melalui kolaborasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Nestlé Indonesia, WWF Indonesia, dan Waste4Change sebagai langkah konkret memperkuat pengelolaan sampah perkotaan, khususnya sampah plastik yang terus meningkat setiap tahun.

Ancaman dari sampah tak lagi sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga isu kesehatan publik. Mikro dan nano plastik kini ditemukan pada berbagai media, termasuk tubuh manusia.

Peresmian peresmian Tempat Pengelolaan Sampah Reduce–Reuse–Recycle (TPS3R) di Lenteng Agung, Jakarta Selatan (dok. ist)

Berbagai studi menyebut bahwa mikro plastik dan nano plastik sudah masuk tubuh manusia. Karenanya, kehadiran TPS3R Lenteng Agung dengan total area seluas 1.571m2 sebagai model pengelolaan sampah yang berkelanjutan, menjadi bagian penting dari percepatan target Indonesia Bebas Sampah 2029.

TPS3R tengah didorong pemerintah sebagai pelengkap program Waste to Energy (WTE) yang juga sedang diperkuat. “Kami telah mengusulkan 1000 TPS3R dan sedang direkap ulang termasuk untuk revitalisasi TPS3R,” ujar Wamen Diaz.

Dia juga menyoroti keterkaitan pengelolaan sampah dengan kualitas badan air nasional. Berdasarkan data KLH, dari 2.475 sungai dan danau yang diteliti, hanya 27 persen yang tidak tercemar. Dengan kata lain, 73 persen tercemar.

Kesempatan sama, Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin menyampaikan pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya, mengingat tumpukan sampah yang terus meningkat dan semakin membebani kapasitas TPA Bantar Gebang.  “Pengelolaan sampah dari hulu menjadi semakin penting agar kita dapat menghadirkan perubahan bagi masa depan Jakarta,” bebernya. 

TPS3R Sinergi Bersih Lenteng Agung memiliki kapasitas pengelolaan hingga 42 ton sampah per hari. Sampah yang masuk akan ditimbang dan dialirkan ke area conveyor untuk proses pemilahan oleh operator.

Peresmian peresmian Tempat Pengelolaan Sampah Reduce–Reuse–Recycle (TPS3R) di Lenteng Agung, Jakarta Selatan (dok. ist)

Tiga jenis sampah dipilah di fasilitas ini: sampah bernilai ekonomis yang akan dijual ke offtaker, bubur organik yang dikirim ke pembudidaya Black Soldier Fly (maggot), serta material untuk Refuse Derived Fuel (RDF) yang dimanfaatkan oleh industri semen. Sementara itu, residu yang tidak dapat diolah akan dibawa ke TPA Bantar Gebang.

TPS3R ini melayani 26 RW di lima kelurahan: Srengseng Sawah, Cipedak, Jagakarsa, Ciganjur, dan Lenteng Agung.

Pembangunan TPS3R Sinergi Bersih bertujuan untuk mengoptimalisasi tempat penampungan serta mendorong pengelolaan sampah dari warga sekitar yang diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah sebesar 80% yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

President Director Nestlé Indonesia, Georgios Badaro dalam sambutannya menegaskan komitmen Nestlé untuk menciptakan nilai bersama bagi masyarakat dan lingkungan. “Saya berharap inisiatif ini dapat menginspirasi lebih banyak kolaborasi lintas sektor antara pemerintah dan dunia usaha,” ujarnya.

Melalui kolaborasi pemerintah, sektor swasta, dan organisasi lingkungan, TPS3R Sinergi Bersih diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan yang menginspirasi, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi masyarakat. (HG)