Hidupgaya.co – Journaling (menulis jurnal) seperti hal yang berat, padahal jika dilakukan secara rutin memiliki dampak positif. Seperti menulis buku harian, journaling bisa menjadi sarana ‘pelepasan’ emosi negatif yang menumpuk.

Menurut psikolog klinis Sarah Dian, journaling bisa menjadi langkah sederhana yang efektif untuk menjaga kesehatan mental, terutama pada era serba cepat seperti sekarang.

Singkatnya, journaling adalah praktik menulis secara rutin untuk menuangkan ide, pikiran, perasaan, dan pengalaman hidup agar lebih mudah dipahami, baik dalam bentuk tulisan maupun gambar. Aktivitas ini berfungsi sebagai alat refleksi diri, pengelolaan emosi, dan pengembangan pribadi yang dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan.

Journaling tidak memiliki aturan khusus dan dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk secara digital atau manual. Jadi suka-suka kita saja.

Diakui Sarah, bagi yang belum terbiasa, journaling merupakan kebiasaan baru yang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. “Tidak semua orang bisa langsung terbiasa menulis setiap hari atau menemukan cara yang paling nyaman untuk melakukannya,” ujarnya di acara Journaling Class: Every Side Has Its Light yang dihelat Light+ by Wardah di Jakarta, baru-baru ini.

Dia menyarankan agar kita mulai journaling dengan cara menulis seminggu sekali. Pola ini dapat memberi ruang bagi diri untuk beradaptasi tanpa tekanan. Setelah mulai terbiasa, frekuensinya bisa meningkat secara bertahap menjadi tiga hari sekali, dua hari sekali, hingga akhirnya menjadi bagian dari rutinitas.

Waktu menulis jurnal sepenuhnya bisa disesuaikan dengan kondisi dan kenyamanan masing-masing. Poinnya, menurut Sarah, journaling dilakukan ketika kita merasa butuh ruang untuk mengurai perasaan, bukan karena paksaan atau rutinitas yang kaku.

Agar journaling tidak terasa membosankan, buat prosesnya menjadi kegiatan yang menyenangkan dan personal, misalnya mencari hal-hal kecil yang bisa memicu semangat untuk menulis, seperti menggunakan alat tulis atau buku jurnal yang menarik dapat memberi pengalaman emosional yang positif. “Dengan begitu, kegiatan menulis terasa lebih santai dan memunculkan perasaan nyaman setiap kali membuka halaman jurnal,” terang Sarah.

Manfaat journaling tidak hanya sebatas untuk membantu mengurai pikiran, tapi juga membantu seseorang untuk mengenal dirinya sendiri lebih dalam, termasuk mengubah cara berbicara pada diri sendiri.

Menulis jurnal juga menjadi sarana belajar mencintai diri tanpa syarat dan membuat jeda pada diri sendiri.

Tak kalah penting, journaling juga menjadi alat bantu untuk memulihkan diri dari pengalaman traumatis atau situasi negatif yang pernah terjadi pada masa lalu. “Dengan journaling, seseorang belajar menyalurkan perasaan tanpa harus memendamnya,” jelas Sarah.

Selain itu, menulis jurnal juga bisa menjadi ruang untuk belajar bersyukur. Saat seseorang mencatat hal-hal kecil yang membuat bahagia setiap hari, perlahan muncul pola pikir positif dan meningkatkan penghargaan terhadap diri. (HG)