Hidupgaya.co – Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan dunia pariwisata global saat ini mengalami pergeseran tren yang cukup signifikan, salah satunya perubahan pola pemilihan destinasi. Terkait pola sumber wisatawan, bila sebelumnya pasar didominasi oleh wisatawan asal Amerika Utara, Eropa Barat, dan Asia Timur, kini proporsinya semakin beragam.
“Negara-negara dari Amerika Selatan, Asia Selatan, dan Timur Tengah diperkirakan akan masuk ke dalam 15 besar pasar outbound pada 2040,” ujar Menpar Widi dalam sambutan Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2026 yang digagas Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) di Artotel Harmoni-Gajah Mada Jakarta, Rabu (29/10).
Yang menarik, dari sisi perubahan pola pemilihan tujuan wisata, destinasi yang sebelumnya bukan top of mind atau sekadar detour, kini justru semakin diminati. “Itu karena wisatawan mencari pengalaman baru di destinasi yang unik,” terang Menpar,
Sementara itu, perjalanan intraregional juga akan semakin diminati. Di Asia Tenggara, diperkirakan akan meningkat dari 24 persen pada 2023 menjadi 30 persen pada 2030.

Menpar Widi mengungkap, dengan perubahan tren tersebut, Indonesia berpeluang untuk mendapatkan manfaat lewat beragam strategi, termasuk mengemas ulang dan memperkaya produk wisata, menggabungkan destinasi populer dengan destinasi niche di sekitarnya, dan menciptakan paket wisata yang lebih otentik.
“Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman. Destinasi berdekatan pun menawarkan pesona berbeda, mulai dari alam, budaya, dan kuliner. Misalnya, wisatawan ke Bali dapat menikmati pantai dan resort, sekaligus melanjutkan ke Banyuwangi untuk merasakan sisi lain di Pulau Jawa,” bebernya.
Kesempatan sama, Deputi Bidang Industri dan Investasi Pariwisata Kementerian Pariwisata Rizki Handayani menyoroti pentingnya investasi dalam mendorong gairah wisata. Ada dua jenis investasi yang dibutuhkan, yakni investasi bersifat fisik dan investasi sumber daya manusia.
Dari segi investasi fisik, Rizki menekankan pentingnya menyeimbangkan permintaan dan pasokan yang jelas sehingga investor tertarik menanam modal. “Oleh BKPM (Kementerian Investasi dan Hilirisasi), kami itu ditarget sampai tahun 2029 itu ada sekitar Rp350 triliun investasi di sektor pariwisata, di mana setiap tahun sekitar Rp70 triliunan,” bebernya.
Dia mengakui itu angka yang tidak sedikit. “Dan kemudian dari angkat tersebut, lebih dari 50 persen ditargetkannya di 10 DPP (Destinasi Pariwisata Prioritas),” tuturnya.
Aset pariwisata besar, kunjungan rendah
Indonesia memiliki aset pariwisata terbesar di Asia Tenggara, tetapi kunjungan wisatawannya termasuk rendah. Capaiannya masih di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam saat ini. “Situasi itu menantang Indonesia dalam menarik investasi lebih besar,” ujar Senior Vice President Corporate Secretary Injourney Yudhistira Setiawan yang hadir sebagai salah satu pembicara.
Menurutnya, untuk bisa mendapatkan investasi dan juga mengembangkan area, menurut Yudhistira, kita perlu tahu dulu positioning dari masing-masing destinasi seperti apa. “Sangat disayangkan apabila kita sudah memiliki aset pariwisata yang sudah sedemikian banyak, besar, dan potensial, tetapi kunjungan wisatawanya masih sangat minim,” cetusnya.
Untuk itu, InJourney sebagai sebuah badan usaha milik negara (BUMN) holding yang mengintegrasikan industri aviasi dan pariwisata Indonesia, mengedepankan lima pilar untuk mengatasi tantangan. Lima pilar itu mencakup atraksi dan program; pengembangan destinasi; konektivitas; penyiapan infrastruktur dan amenitas; pariwisata berkelanjutan; serta people and hospitality.
“Saat ini, InJourney berfokus pada pengembangan wisata di lima destinasi pariwisata super prioritas (DPSP), yakni Borobudur, Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, dan Likupang,” tandasnya.
Wisata berkelanjutan
Chief Operating Officer Artotel Group, Eduard Rudolf Pangkerego, menyoroti tentang penerapan praktik berkelanjutan di bisnis perhotelan yang dikelolanya. “Ini wujud pertanggungjawaban terkait dampak bisnis yang ditimbulkan,” ujarnya.
Menurutnya, tren pariwisata berkelanjutan kian menggeliat. “Sekarang di bursa efek, kita harus keluarkan ESG Report yang benar. Kami menyentuh green investment, aktivitas-aktivitas yang lebih hijau. Tidak hanya di green, tapi juga blue economy,” bebernya.
Inisiatif yang dilakukan Artotel Group di antaranya meluncurkan program The Art of Goodness. “Bukan hanya profit, kita juga bertanggung jawab terhadap people dan planet,” terang Eduard.
Anak muda sukai aktivitas alam
Hal lain yang menarik terkait ttren pariwisata yang berkembang di Asia Pasifik adalah, anak-anak muda (Gen Z dan Milenial) menyukai aktivitas yang berkaitan dengan alam, seperti kemping, trekking, dan diving, menurut Executive Director, Head of Growth & Head of Strategic Consulting JLL Indonesia, Vivin Harsanto.
“Kalangan anak muda itu juga menunjukkan minat wisata budaya dan heritage yang autentik, wellness dan spa, wisata belanja dan wisata kuliner,” terang Vivin.
Dia mengusulkan salah satu aktivitas unik yang memantik minat wisatawan muda untuk eksplorasi. “Kalau di Jakarta mungkin bisa dibuat walking tour gastronomi Betawi, keliling mulai dari Petak Sembilan sampai Monas,” usulnya.
Tak dimungkiri, konektivitas bisa menjadi tantangan dalam menawarkan destinasi wisata unik di Tanah Air. Alasannya, calon turis kian memperhitungkan biaya perjalanan dengan membandingkan pengalaman yang bisa diperoleh dari destinasi-destinasi berbeda.

Wisatawan cenderung membandingkan destinasi wisata di Indonesia dengan negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Pasifik.
Tantangan lain yang muncul di sejumlah destinasi wisata Indonesia adalah akses internet yang belum merata, terutama di daerah-daerah terpencil. “Juga, ketergantungan pada uang tunai, khususnya jika berwisata ke daerah terpencil yang belum familiar dengan QRIS atau pembayaran digital lainnya,” beber Vivin.
Dia menekankan peningkatan kualitas akomodasi, baik secara fisik maupun keterampilan para pekerja di bidang hospitality.
Last but not least, Forwaparekraf menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar wacana, melainkan arah baru bagi industri pariwisata Indonesia. Pertumbuhan ekonomi tetap menjadi tujuan, tetapi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan kelestarian lingkungan.
Acara ITO 2026 didukung oleh Kementerian Pariwisata, Artotel Group, Artotel Harmoni Jakarta, Indofood, Kokola, Tekko, dan InJourney Hospitality. (HG)