Hidupgaya.co – Hidup di tengah lingkungan polusi udara tinggi membutuhkan upaya lebih untuk menjaga kesehatan melawan radikal bebas, salah satunya dengan konsumsi antioksidan. Faktanya bukan hanya tubuh yang butuh antioksidan, namun juga pakaian yang kerap kita pakai dalam keseharian.
Menjawab tantangan tingginya polusi udara di sejumlah kota di Tanah Air, Wings Group Indonesia, melalui Wings Care, meluncurkan inovasi baru produk detergen berteknologi detoksifikasi pada pakaian pertama di Indonesia, SoKlin Liquid Nature Fresh Detox.
“Diformulasikan dengan ekstrak teh hijau yang kaya antioksidan, detergen cair konsentrat berbahan aktif dari tumbuhan ini telah teruji efektif mengangkat noda dan partikel debu mikro yang menempel pada pakaian tanpa merusak serat kain,” kata Joanna Elizabeth Samuel, Marketing Manager Fabric Care Category Wings Group Indonesia dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.
Inovasi SoKlin Liquid Nature Fresh Detox lahir dari kepekaan jenama lokal itu dalam menangkap isu dan keresahan konsumen terhadap polusi udara dan dampaknya.
Paparan partikel mikro dari polusi udara ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tapi juga pada pakaian. Detoksifikasi atau penetralan toksin menjadi sangat diperlukan agar dapat meminimalkan dampak polusi bagi tubuh hingga pakaian kita sehari-hari,” tutur Joanna.

Polusi udara masih menjadi isu serius di Indonesia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa Indonesia pernah masuk dalam 10 negara dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia.
Kondisi ini juga diperkuat oleh laporan Nafas Indonesia (Laporan Kualitas Udara Indonesia 2024) yang mencatat Jabodetabek dan Bandung Raya sebagai wilayah dengan polusi tertinggi selama 2024, disusul Semarang, Malang Raya, DI Yogyakarta, dan Surabaya.
Dinda Shabrina, Research & Collaboration Manager NAFAS Foundation mengatakan hal yang harus menjadi perhatiann terkait polusi udara adalah konsentrasi partikel mikro PM2.5.
PM2.5 adalah partikel polusi udara berukuran kurang dari 2,5 mikrometer, atau setara 36 kali lebih kecil dari diameter sebutir pasir yang tidak terlihat oleh mata, mudah terhirup, dan dapat menempel di berbagai permukaan, termasuk pakaian. “PM2.5 bisa masuk ke paru-paru dan menembus aliran darah, meningkatkan risiko gangguan kesehatan,” ujar Dinda.
Karena bentuknya partikel, PM2.5 bisa menempel di kulit dan pakaian, memperpanjang paparan bahkan setelah kita meninggalkan area berpolusi. “Meski hujan dan angin bisa menurunkan polusi sementara, partikel ini sebenarnya hanya berpindah, jatuh ke permukaan mencemari tanah, air, tanaman, atau terhirup tubuh,” tutur Dinda.
Berdasarkan laporan Nafas Buka Data (Mei–Juni 2025), rata-rata konsentrasi bulanan PM2.5 di Indonesia pada Juni 2025 mencapai 32,3 µg/m³. Angka ini enam kali lipat di atas batas aman WHO (5 µg/m³) dan lebih dari dua kali ambang batas nasional (15 µg/m³).
Joanna menambahkan, dampak paparan PM2.5 tidak hanya berisiko bagi kesehatan, tetapi juga memengaruhi kehidupan sehari-hari. “Partikel mikro ini dapat menempel dan memperpendek usia pakaian, membuat warna baju cepat kusam, menjadikan serat kain menjadi kasar dan mudah rusak,” terangnya.
Sementara itu, dr. Nadia Alaydrus, praktisi kesehatan yang aktif membagikan edukasi di media sosial, menyoroti pentingnya detoks pakaian. Dia menekankan bahwa dampak polusi bukan hanya masalah udara, tetapi juga tentang paparan partikel yang dapat menempel di kulit dan pakaian.

“Sering terpapar polusi secara terus menerus bisa bikin kulit kusam, cepat menua, bahkan iritasi. Polusi membawa partikel halus yang bisa menempel di kulit dan pakaian, jadi penting banget buat cleansing dan detoks rutin agar kulit tetap sehat dan segar,” ujar dr. Nadia.
Mengingat tingginya polusi udara di kota besar, pakaian sebagai kulit juga perlu melakukan detoks. “Dicuci pakai air saja tentu tidak cukup. Harus benar-benar bersih jangan sampai ada sisa partikel halus yang masih menempel, terhirup, dan akhirnya menimbulkan masalah buat diri kita,” ujarnya.
Dia menambahkan, kandungan antioksidan dalam teh hijau dapat membantu melawan efek buruk polusi dan radikal bebas.
“Jadi, manfaatnya bukan hanya baik untuk kulit, tapi juga mendukung proses detoks alami dengan membersihkan sisa kotoran, debu, dan polutan yang menempel,” terang praktisi kesehatan yang aktif membuat konten edukasi di medsos seraya menandaskan bahwa ekstrak teh hijau dapat menjadi solusi alami untuk membantu menangkal dampak polusi. (HG)