Hidupgaya.co – Makna kemewahan perlu didefinisikan ulang di era modern, menegaskan bahwa keanggunan sejati tidak lagi diukur dari kemewahan berlebih, tetapi dari keseimbangan, tanggung jawab, dan tujuan.

Tema ini diangkat desainer mode Ali Charisma dalam koleksi ‘Re-thinking Luxury’ yang disajikan dalam gelaran Indonesia International Modest Fashion Festival (In2motionfest) 2025 di Jakarta International Expo Kemayoran, baru-baru ini.

Melalui koleksi itu Ali menantang persepsi tradisional tentang kemewahan dengan menggabungkan unsur yang saling bertolak belakang: glamor dengan kesederhanaan, yang berharga dengan yang tak berharga, serta yang mahal dengan yang biasa.

Dalam 17 koleksi yang sarat nilai keberlanjutan itu, Ali hendak menegaskan bahwa fashion hendaknya menghormati manusia, planet, dan tujuan hidup itu sendiri.

Mendefinisikan ulang kemewahan dalam fashion ‘Re-thinking Luxury’ oleh Ali Charisma di In2motionfest 2025 (dok. In2motionfest)

“Fashion seharusnya tidak pernah merugikan. Tidak terhadap manusia, tidak terhadap bumi, dan tidak terhadap tujuan hidup kita,” kata desainer senior yang giat menggemakan fashion berkelanjutan yang bertanggung jawab.

Melalui koleksi ini, Dewan Penasihat Indonesia Fashion Chamber (IFC) itu mengajak masyarakat meninjau kembali hubungan mereka dengan fashion dan menjalani gaya hidup yang lebih sadar serta berkelanjutan.

Kimono Jepang kontemporer

Koleksi yang memikirkan kembali kemewahan dalam berbusana ini terinspirasi dari bentuk dan filosofi abadi kimono Jepang yang menekankan keseimbangan, kesederhanaan, dan ketenangan, dipadukan dengan kekayaan batik Indonesia yang sarat makna dan keindahan budaya.

Mendefinisikan ulang kemewahan dalam fashion ‘Re-thinking Luxury’ oleh Ali Charisma dalam koleksi busana yang tampil di In2motionfest 2025 (dok. In2motionfest)

Ali menampilkan interpretasi kembali batik dalam potongan kimono kontemporer sebagai simbol dialog lintas budaya dan waktu, antara tradisi dan masa depan, antara elegansi dan kesadaran.

Motif batik yang ia gunakan mencerminkan perjalanan menuju keseimbangan hidup, antara kemewahan dan kesederhanaan, antara keindahan dan tanggung jawab. Setiap motif menjadi simbol refleksi diri untuk menghargai kembali nilai sejati dari mode: bukan sekadar tampilan luar, tetapi sebuah pilihan sadar untuk menghormati planet, manusia, dan keberlanjutan.

Siluet yang ditampilkan didominasi oleh bentuk H-line dan A-line, yang melambangkan struktur, harmoni, dan keseimbangan.

Mendefinisikan ulang kemewahan dalam fashion ‘Re-thinking Luxury’ oleh Ali Charisma di In2motionfest 2025 (dok. In2motionfest)

Menggunakan perpaduan bahan katun, sutra, viscose, dan poliester, karya terbaru Ali merepresentasikan titik temu antara alam dan teknologi, sebagai metafora bahwa mode dapat menemukan keseimbangan antara kemewahan dan tanggung jawab.

Lebih dari sekadar keindahan visual, ‘Re-thinking Luxury’ menjadi pengingat bahwa industri mode perlu merefleksikan dampak limbah yang dihasilkannya, dan berupaya menuju sistem yang lebih seimbang.

Melalui karya ini, Ali Charisma kukuh melanjutkan misinya dalam mengampanyekan slow fashion, ethical craftsmanship, serta keberlanjutan sebagai gaya hidup, bukan sekadar label pemasaran. (HG)