Hidupgaya.co – Kemudahan dalam mendapatkan makanan minuman di ujung jari dengan gawai menjadi keniscayaan kaum urban. Namun kebiasaan ini juga menyimpan bahaya tersembunyi yang jarang disadari.

Menurut dokter spesialis gizi dr. Consistania Ribuan, Sp.GK, AIFO-K, FINEM, kesibukan menjadi alasan sejumlah orang, khususnya yang tinggal di kota besar, mengandalkan makanan siap saji yang padat kalori, dipesan dari ponsel.

“Padahal, makanan yang kita order itu tinggi lemak dan kalori bisa menjadi biang masalah kesehatan, dengan alasan ingin satset alias cepat,” ujar dr. Constantina di sela peringatan perayaan lima tahun Ravelle, merek perangkat rumah tangga di Jakarta, baru-baru ini.

Akibat gaya hidup serba mudah ini dan jarang aktivitas fisik, banyak anak muda di bawah 30 tahun kena penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi. “10 tahun lalu penyakit ini tidak umum di kalangan anak muda karena sulit dapat makanan instan secara online. Beda cerita, sekarang tinggal klik dari ponsel semua tersedia,” beber dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Kiri ke kanan: Nagita Slavina, dokter spesialis gizi dr. Consistania Ribuan, Sp.GK, CEO Ravelle Wei Li

Mirisnya, makanan yang banyak ditawarkan di platform online bukanlah makanan utuh (real food), namun kebanyakan makanan olahan (ultra processed food/UPF) berkalori tinggi miskin gizi.

Constantina menekankan, ibarat mobil agar berjalan lancar, kita perlu bensin dalam jumlah cukup. “Demikian juga tubuh  agar bekerja optimal kita harus mencukupi nutrisi, yang diperoleh dari komponen makanan real food, umumnya diperoleh dari makanan rumahan yang kita olah sendiri,” tandasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, tubuh sejatinya memberikan sinyal saat kebanyakan asupan makanan yang tidak sehat. “Misalnya, saat kerja mudah lelah, atau saat kecil nggak ada riwayat alergi kok sekarang gampang iritasi, makan sedikit perut kembung,” tuturnya.

Constantina mengingatkan bahwa konsumsi makanan minim nutrisi akan memicu disbiosis, yakni kondisi bakteri baik (probiotik) kelaparan, lama-lama mati dan digantikan   bakteri jahat. “Makanan tinggi lemak dan kalori ini disukai bakteri jahat yang akan mengambil alih saluran cerna sebagai otak kedua. Kalau ini berlangsung lama, bakteri baik kalah, akan ada gangguan hormon sehingga tubuh gampang sakit,” tandasnya.

Dokter spesialis gizi klinik itu menekankan pentingnya memgadopsi gaya hidup sehat sekarang, tidak menundanya lagi.

Constantina berbagi tips mengonsumsi makanan sehat dalam bentuk utuh/real food guna memenuhi asupan gizi. “Biasakan masak di rumah dengan bahan makanan utuh. Perhatikan cara masak dan pilih alat masak yang mendukung gaya hidup sehat,” ujarnya.

Dia menekankan pentingnya memperhatikan cara pengolahan makanan agar gizinya tidak hilang. “Hindari menggoreng dan memasak menggunakan suhu tinggi. Proses direbus atau dikukus lebih sehat, karena ada sejumlah makanan yang mengandung vitamin larut air yang ikut kota konsumsi,” terang Constantina.

Nagita Slavina menyiapkan makanan real food dengan perangkat Ravelle

Untuk menjaga kualitas makanan, dia menyarankan pemakaian slow cooker dengan suhu konstan.

Kesempatan sama, Chief Executive Officer Ravelle Wei Li menyampaikan pentingnya memilih perlengkapan masak demi menunjang kesehatan jangka panjang. “Kalau pakai alat masak yang tidak lengket, kalau baret akibat salah pemakaian atau sudah dipakai lama, sebaiknya tak dipakai lagi. Lebih baik pakai alat masak dengan ceramic coating untuk pilihan lebih sehat,” ujarnya.

Selain itu, untuk memasak nasi, imbuhnya, pilih alat masak menggunakan panci alumunium. “Masak nasi untuk sekali makan, jangan dipanaskan terus menerus, apalagi sampai 24 jam. Biasakan habis masak langsung dikonsumsi, jadi kandungan gizi tidak hilang,” pungkas Wei Li. (HG)