Hidupgaya.co – Marah adalah emosi yang normal, tetapi jika kerap merasa lepas kendali atau merasakan perasaan ‘membara’ di bawah permukaan hingga memengaruhi kehidupan sehari-hari, inilah saatnya untuk mengevaluasi diri.
Anda mungkin memiliki masalah jika amarah sering kali intens, memendamnya dalam waktu lama, dan menjadi kasar secara verbal atau fisik karenanya. Sejumlah hal bisa memicu amarah, apakah karena penyakit, pengobatan atau kondisi tertentu.
Berikut sejumlah faktor yang memicu amarah dirangkum dari laman WebMD:
Stroke
Suasana hati bisa jadi menjasi lebih sulit dikendalikan setelah terkena stroke, terutama jika terjadi kerusakan pada bagian otak yang membantu mengatur emosi.
Spektrum autisme
Pada individu dengan spektrum autisme, perubahan yang tidak direncanakan bisa lebih sulit diatasi. Gangguan kecil dalam jadwal mungkin cukup untuk memicunya. Agresi, reaksi berlebihan terhadap suara keras, dan bahkan menyakiti diri sendiri, semuanya bisa menjadi gejala autisme.
Depresi
Merasa kesal pada semua orang dan segala hal, gelisah dan mudah terpantik emosi tanpa tahu penyebabnya, bisa jadi gejala depresi. Depresi sering kali disertai dengan amarah, yang dapat membuat seseorang merasa frustrasi tanpa alasan yang jelas. Orang yang sedang depresi juga rentan terhadap ledakan amarah.
Gula darah turun
Penurunan gula darah yang signifikan dapat mengubah perilaku secara drastis, misalnya menjadi mudah marah, menangis, atau bingung. Penting untuk mengendalikan kadar gula darah dalam kisaran target.
Gagal hati
Ketika hati tidak mampu menyaring racun dari tubuh sebagaimana mestinya, racun tersebut dapat menumpuk dan memengaruhi otak. Hal ini dapat menyebabkan efek samping yang serius, termasuk perubahan suasana hati dan kepribadian, serta mudah tersinggung.
PMDD
Mudah tersinggung dan marah adalah hal yang normal pada wanita yang mengalami sindrom pramenstruasi (PMS). Namun, jika amarah yang tak terkendali dan perubahan suasana hati yang parah 1-2 minggu sebelum menstruasi, kemungkinan itu kondisi yang lebih parah, yang lazim disebut gangguan disforik pramenstruasi (PMDD).
Menopause
Kemarahan lebih mungkin terjadi selama bulan-bulan dan tahun-tahun menjelang menopause dibandingkan setelah wanita mencapai masa menopause itu sendiri. Perubahan hormon yang terjadi saat tubuh mulai mengalami lebih sedikit haid dan kemudian berhenti sama sekali, dapat menyebabkan berbagai gejala, termasuk perubahan suasana hati.
Penyakit Wilson
Ini adalah kelainan genetik yang mencegah tubuh membuang kelebihan tembaga. Penyakit ini memiliki efek serius, termasuk perubahan mental. Suasana hati, kepribadian, dan perilaku umumnya berubah sebagai akibatnya.
Obat kolesterol
Bagi yang mengonsumsi obat statin untuk menurunkan kolesterol, penting untuk diketahui bahwa obat tersebut dapat meningkatkan kemungkinan masalah kejiwaan atau perubahan perilaku. Bagi sebagian orang, obat-obatan ini dapat menyebabkan perilaku agresif, marah, dan kasar.
Bila amarah terasa hendak meledak setiap saat tanpa alasan jelas, segera konsultasikan dengan dokter untuk mencari solusinya. (HG)
