Hidupgaya.co – JF3 menggelar diskusi menarik terkait industri fashion melibatkan pelaku di bisnis yang tengah berkembang pesat dewasa ini. Mengusung tema Recrafted a New Vision: Redefining Indonesia’s Competitive Edge in the Global Market, JF3 Talk Vol. 1 menggelar diskusi yang berlangsung di Teras Lakon Summmarecon Mall Serpong ini memantik sejumlah hal terkait industri mode tanah air.

Salah satu peserta diskusi, Laura Muljadi pemilik jenama Matahari dari Timur, yang membawa kain dari Sumba, langsung dari para perajin desa menyampaikan dinamika dalam mengawal merek yang diusungnya.

Menurutnya, tantangan yang dia hadapi adalah perajin daerah tidak mengenal tren. “Aspek ekonomi-sosial sangat terasa terutama ketika dikaitkan dengan isu sustainability,” terang Laura.

Hal lain yang masih jadi tantangan menurut Laura adalah pola pikir masyarakat lokal. “Masyarakat luar negeri bisa menghargai produk natural, tapi perajin lokal justru kurang mendapatkan spotlight di negeri sendiri,” ujarnya.

Belum lagi kebutuhan ekonomi mendesak membuat perajin kadang beralih ke bahan bukan natural atau bahkan berhenti menenun karena tidak laku.

Laura Muljadi pemilik jenama Matahari dari Timur (dok. Jf3)

Sedangkan Ayu Gani, pemilik merek Batik Sulawesi menyuarakan jenama yang dibesutnya sudah berjalan selama 15 tahun, namun pasar batik khas Sulawesi Selatan (Sulsel) masih tergolong kecil.

Faktor yang menjadi masalah adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan bahan baku. “Sulsel memiliki kekayaan motif, seperti aksara Lontara, namun belum berhasil dikenal secara nasional. Hingga saat ini, belum ada produsen batik yang secara konsisten mengangkat motif khas tersebut,” terang Ayu.

Kendala lainnya adalah pasar lokal di Sulsel lebih didominasi oleh peminat tenun, sementara Ayu ingin memperkenalkan batik sebagai bagian dari identitas budaya Sulsel.

Untuk urusan pemasaran produk, saat ini, penjualan masih terbatas melalui e-commerce dan WhatsApp. “Belum ada penetrasi signifikan ke pasar nasional karena terbatasnya eksposur,” cetusnya.

Tantangan lain yang dihadapi Ayu dalam.membesarkan mereknya adalah minimnya pengolahan limbah dan kesiapan SDM untuk mendukung produksi dalam skala besar.

Untuk itu, Ayu menekankan pentingnya dukungan dan sorotan lebih besar terhadap berbagai jenama dari luar Jawa agar bisa bersaing dan dikenal luas.

Tantangan dalam sumber daya manusia dan bahan baku

Akan halnya merek ControlNew, yang berdiri sejak 2018, baru dapat membentuk tim produksi setelah menghadapi tantangan besar dalam hal keterbatasan SDM.

“Awalnya memanfaatkan tukang vermak sebagai pelaku upcycle, kemudian berkembang menjadi tim produksi yang lebih solid,” terang Afif yang menggawangi merek tersebut.

Dalam menjalankan bisnisnya, Afif mengakui tantangan utamanya adalah keterbatasan bahan baku dan SDM. Dalam hal ini, tidak semua jenis kain dapat diolah untuk produksi upcycle.

Afif dari ControlNew (dok. Jf3)

Afif lebih lanjut menyampaikan, fokus utama merek ControlNew tidak hanya pada upcycling denim, tapi juga menciptakan artikel baru yang memiliki nilai tambah dan dapat dijual dengan harga lebih tinggi.

Dia menambahkan, dalam proses desain, terdapat dilema antara menciptakan desain simpel yang lebih mudah diproduksi dari kain sisa, dan kebutuhan pasar akan desain yang unik dan menarik.

Menurutnya, target pasar harus ditentukan sejak awal. “Keberhasilan strategi sangat bergantung pada ketajaman market intelligence,” cetusnya.

Selain itu, anak muda saat ini mulai peduli pada desain dan harga, namun belum sepenuhnya sadar atau memperhatikan nilai di balik produk, misalnya proses upcycle.

Karenanya, pendekatan branding yang dilakukan adalah menarik perhatian pasar melalui desain dan harga terlebih dahulu, lalu edukasi soal nilai dan proses upcycle dilakukan setelahnya, menurut Afif.

Hal lain yang menjadi tantangan pelaku industri fashion adalah menjaga margin tetap menjadi tantangan besar agar jenama tetap berkelanjutan di tengah kondisi ekonomi saat ini.

Kreativitas mengemas produk otentik

Menanggapi hal itu, Thresia Mareta, pendiri jenama Lakon Indonesia, mengatakan bahwa pasar sangat beragam dan memiliki banyak segmen. “Perlu kreativitas dalam mengemas produk otentik agar bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat,” tuturnya.

Selain itu, produk lokal berkualitas tinggi harus dapat disesuaikan dengan konteks modern agar tetap relevan. Pelaku fashion perlu merumuskan formula ideal antara narasi dan kuantitas produksi agar tetap berdampak sekaligus berkelanjutan.

Thresia Mareta, pendiri Lakon dan penasihat JF3 (dok. Jf3)

Menutup diskusi, Thresia menegaskan komitmen JF3 untuk terus berkembang dan terhubung secara internasional. “Perlu menjaga konsistensi dan kolaborasi dalam membangun industri fashion Indonesia yang kuat dan berdaya saing global. JF3 berharap seluruh pelaku industri dapat berperan aktif secara bersama-sama membangun ekosistem fashion Indonesia dengan semangat kolaborasi dan kualitas yang lebih matang,” urai penasihat JF3.

Ke depannya, Thresia mengungkap JF3 akan kian fokus untuk menjalin hubungan internasional demi mendukung kemajuan industri fashion lokal.

Tahun ini, JF3 mengundang salah satu desainer dari Korea Selatan sebagai bagian dari kolaborasi dua arah, di mana tidak hanya mereka yang datang ke Indonesia, tetapi juga mengundang JF3 untuk hadir di Korea. (HG)