Hidupgaya.co – Keberlanjutan (sustainable fashion) dan tekstil halal akan menjadi dua topik utama dalam Inatex – Indo Intertext 2025 yang akan dihelat pada 15–17 April 2025 di Jakarta International Expo Indonesia (JIEXPO), Kemayoran, Jakarta Pusat.
Sekjen Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSYFI) Farhan Aqil Syauqi mengatakan isu keberlanjutan/industri hijau diyakini akan menjadi solusi bagi berbagai masalah yang menghampiri industri nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Meskipun awan gelap menyelimuti industri tekstil nasional, namun proyeksi atas sektor ini masih menjanjikan. Pemerintah memproyeksi industri tekstil dan garmen menjadi salah satu dari tiga industri utama yang akan mendorong sektor ekonomi kreatif berkembang pesat di tahun 2025.
Pasar global tekstil berkelanjutan diperkirakan akan terus berkembang pesat dengan proyeksi nilai mencapai US$72,7 miliar pada 2030.

Sustainable fashion merupakan konsep berbusana yang bertujuan untuk mengurangi dampak yang dihasilkan oleh industri pakaian. Tujuan dari keberlanjutan adalah untuk menyatukan berbagai kalangan di industri fashion, mencakup perancang busana, produsen, distributor, hingga konsumen untuk bekerja sama demi mengubah cara suatu produk fashion diproduksi dan dikonsumsi ke arah yang lebih baik.
Menurut Farhan, industri di Indonesia perlu didorong menjalankan konsep terkait industri hijau dan tekstil halal. “Dua topik ini akan dibahas di ajang Inatex – Indo Intertext 2025 di antara topik menarik lainnya. Agar berjalan dengan terstruktur, industri butuh regulasi dari pemerintah Indonesia agar tercipta standar wajib bagi industri hijau,” ujarnya dalam temu media di Jakarta, Kamis (13/3/2025).
Tekstil hijau menurut Farhan adalah suatu keniscayaan jika ingin bersaing di pasar global. “Kebutuhan ekspor ke pasar Eropa sangat ketat, mensyaratkan adanya sertifikasi industri hijau. Kita ingin comply dengan mereka dan menjamin konsumen di sana dengan memberikan produk hijau,” terangnya.
Namun tak dimungkiri, produk hijau memiliki tantangan tersendiri. “Produk hijau ada tantangan pada recycle (daur ulang). Ongkos produksi cukup besar untuk pemurnian dan perlu cost baru yang dibebankan kepada konsumen, dan ini berimbas ke harga produk,” tutur Farhan.
Hal menarik lainnya adalah terkait tekstil halal. “Ini ada kewajiban bagi industri untuk memenuhinya. Halalnya di mana? Itu ada di proses dyeing (pewarnaan), finishing, ada pengkanjian kain dicelup dikuatkan untuk penyempurnaan kain. Itu biasanya dibutuhkan enzim tertentu yang mirip dengan babi. Ini yang bisa menjadikan produk halal/tidak halal dari taksiran pihak penjaminan halal. Tekstil halal ini akan jadi standar baru,” beber Farhan.
Meskipun prosesnya cukup rumit, namun Farhan menilai langkah itu bisa menjadi hal positif karena berfungsi sebagai trade barrier. “Produk Cina harus comply dengan aturan di kita supaya mereka bisa jualan di sini, memiliki sertifikasi tekstil halal. Harganya bisa tidak mahal asalkan duduk sama-sama dan melibatkan pemerintah. Ada insentif penggunaan produk dalam negeri,” urainya.
Menyoroti sustainable fashion, Lenny Agustin selaku National Chair Indonesia Fashion Chamber (IFC), menyampaikan banyak desainer yang tergabung di IFC menerapkan hal ini. “Kebelanjutan itu menjadi perhatian konsumen. Desainer bahkan memakai story telling dalam menawarkan produk fashion kepada konsumen yang peduli dengan isu keberlanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, pangsa pasar produk hijau cukup besar di pakaian muslim. “Satu set busana muslim/modest fashion itu butuh bermeter-meter kain. Ini pasar yang bagus untuk produk hijau. Bagaimana caranya agar produk lokal tidak lebih mahal daripada harga di luar (negeri), supaya harganya masuk sehingga teman-teman desainer mau ambil. Ini yang perulu duduk bareng,” cetus Lenny.
Tak kalah penting, agar fashion dalam negeri dipandang dan menjadi acuan di negera lain, khususnya untuk modest fashion, Indonesia perlu membentuk dan mempertahankan tren forecasting. “Tren forecasting ini menjadi salah satu poin penting yang harus dikerjakan bersama-sama untuk mewujudkan mimpi Indonesia menjadi salah satu pusat fashion muslim dunia,” ujarnya.
Lenny menekankan bahwa untuk menjadi pusat mode dunia harus punya arahan tren sendiri. “Dengan begitu, industri kita bisa kuat di dalam negeri sehingga bisa menjadi acuan bagi negara-negara lainnya, minimal di Asia Tenggara,” bebernya.
Bicara pusat mode dunia, sebut perancang yang fokus pada desainer kebaya itu, tidak melulu hanya fokus pada membuat tren fashionnya. “Tapi juga terkait industri manufakturnya, dari bahan baku hingga pembuatan produk,” tandas Lenny.
Partisipasi 500 perusahaan dari 12 negara
Kesempatan sama Paul Kingsen, Direktur Utama Peraga Expo sebagai penyelenggara Inatex – Indo Intertex 2025, menyampaikan ajang pameran tekstil ke-21 merupakan kolaborasi Peraga Expo bersama Asosiasi Pertekstilan Indonesia. “Pameran ini menghadirkan lebih dari 500 perusahaan dari 12 negara seperti Indonesia, Korea, Cina, Taiwan, India, dan sebagainya,” ujarnya seraya menyebut target pengunjung 16.000 pengunjung dari kalangan profesional maupun pelajar.
Selain menyediakan platform bagi para pemasok dan pembeli, pameran tekstil akbar ini juga bertujuan memberikan solusi komprehensif untuk seluruh rantai manufaktur tekstil dan garmen. “Nantinya akan ada teknologi-teknologi yang diperkenalkan adalah teknologi masif yang mendukung konsep industri ramah lingkungan dan sejenisnya,” terang Paul.
Dalam acara yang digelar selama tiga hari tersebut, ada banyak agenda yang dapat diikuti penunjung seperti serangkaian seminar dan workshop mengenai tren teknologi dan inovasi di industri tekstil dan garmen.
Dalam hal ini Inatex 2025 akan menghadirkan Build Your Brand (BYB) yang dirancang untuk memberdayakan para pengusaha fashion dalam membangun dan mengembangkan merek mereka sendiri.

BYB akan menghubungkan para peserta dengan para pakar industri, termasuk konsultan fashion, profesional garmen, dan spesialis percetakan tekstil, yang memberikan panduan khusus untuk mewujudkan visi mereka.
Sedangkan Tex Colour Trend Zone merupakan area eksklusif yang dirancang untuk menampilkan beragam palet warna yang terinspirasi dari tren dan fenomena global, sekaligus merayakan kekayaan warisan budaya Indonesia baik yang berwujud maupun tidak berwujud.
Ada juga Texmission yang memberikan kesempatan bagi para peserta untuk menyelesaikan serangkaian tantangan. Mereka yang berhasil menyelesaikan semua misi akan mendapatkan hadiah eksklusif sebagai bentuk apresiasi.
Para pengunjung dapat mengakses area pameran secara gratis dengan mendaftarkan diri terlebih dahulu melalui link http://indointertex.com/visitor-registration/. (HG)