Hidupgaya.co – Pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) menjadi topik menarik yang mengemuka dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi yang masih awam dengan istilah tersebut, lifelong learning adalah proses belajar yang berkelanjutan sepanjang hidup, yang bukan hanya terbatas pada pendidikan formal di sekolah.
Konsep lifelong learning menekankan pada pengembangan diri secara terus-menerus melalui berbagai cara, seperti membaca, mengikuti pelatihan, berdiskusi, atau belajar secara otodidak.

Saat ini, konsep lifelong learning telah diterapkan di sejumlah lembaga pendidikan, termasuk di antaranya Gentem Indonesia Lifelong Learning Group yang menaungi sejumlah merek pendidikan, seperti Wall Street English, CuriooKids, dan Indies.
Gentem Indonesia Lifelong Learning Group merupakan pusat pendidikan terintegrasi berbasis konsep lifelong learning, mendukung pembelajaran sejak usia dini hingga dewasa.
“Layanan pendidikan yang disediakan dipersonalisasi sehingga dapat mendukung tumbuh kembang dan bakat tiap-tiap individu,” ujar CEO Gentem Indonesia Lifelong Learning Group Kish Gill.
Pendidikan di Gentem dirancang untuk memberikan pengalaman belajar holistik. “Dengan pendekatan yang lebih luas, anak-anak tidak hanya diajarkan akademik, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, public speaking, hingga kemampuan berdiskusi yang efektif,” beber Kish Gill.
Kesempatan sama, psikolog klinis Anastasia Satriyo mengatakan dewasa ini anak-anak perlu dibekali pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada akademik, melainkan juga pada pengembangan kemampuan sosial dan emosional anak. “Itu bisa dicapai melalui konsep lifelong learning,” ujarnya.
Anastasia menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konteks sosial di era global saat ini.
Dia menyampaikan, dalam pembelajaran sepanjang hayat, orang tua perlu membantu dalam semua aspek kehidupan.

Dia sepakat bahwa hal ini tidak harus terbatas pada akademis. “Anak-anak harus diberikan kesempatan untuk berlatih public speaking, membuat presentasi, dan terlibat dalam diskusi,” ujarnya.
Psikolog klinis itu menekankan kolaborasi lebih penting daripada kompetisi dalam pendidikan. Latihan public speaking, presentasi, dan diskusi sebagai cara untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan kolaborasi anak.
Dia juga menyoroti bahwa di negara-negara maju hingga usia 7 atau 8 tahun, anak-anak tidak terbebani dengan peringkat akademik. “Mereka lebih difokuskan pada cara berkomunikasi dan bertukar ide, yang menurut saya sangat diperlukan di zaman sekarang,” tandasnya. (HG)