Hidupgaya.co – Swamedikasi adalah proses pengobatan yang dilakukan sendiri tanpa pengawasan tenaga medis, mulai dari pengenalan gejala hingga pemilihan dan penggunaan obat. Faktanya, 84,23% masyarakat melakukan swamedikasi.

Spesifik untuk kesehatan gigi, Survei Kesehatan Indonesia 2023 memperlihatkan bahwa perilaku ini dilakukan 25% masyarakat dan menjadi salah satu alasan mengapa 92% masyarakat tidak memeriksakan diri ke dokter gigi selama satu tahun terakhir.

Head of Professional Marketing Personal Care Unilever Indonesia drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent, MDSc, menjelaskan swamedikasi masalah gigi umumnya dipicu oleh belum meratanya akses layanan kesehatan gigi, keterbatasan finansial, rasa enggan untuk berobat langsung.

Swamedikasi juga bisa dipicu oleh kemudahan mendapatkan obat – termasuk antibiotika yang dianggap sebagai solusi instan penyembuhan semua masalah kesehatan termasuk kasus yang paling banyak diderita masyarakat yaitu sakit gigi akibat gigi berlubang dan penyakit gusi. “Padahal, setiap permasalahan gigi dan mulut membutuhkan penanganan spesifik oleh dokter gigi,” ujarnya dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.

Kolaborasi Pepsodent x Halodoc untuk minimalkan swamedikasi kesehatan gigi (dok. ist)

Beberapa risiko swamedikasi bagi kesehatan gigi dan mulut antara lain adalah kesalahan atau keterlambatan diagnosis yang bisa memperburuk kondisi kesehatan gigi dan mulut, peningkatan resistensi antibiotika, hingga disfungsi ginjal yang pada tahap lanjut bisa berakibat fatal.

Terkait hal itu, Pepsodent dan Halodoc meresmikan kerja sama memberikan layanan konsultasi online dokter gigi gratis dengan target jangkauan 200.000 orang. Melalui layanan yang kredibel, mudah diakses dan efisien, kolaborasi ini merupakan upaya bersama untuk membantu masyarakat menghindari tindakan swamedikasi kesehatan gigi yang terbukti dapat menimbulkan sejumlah risiko berbahaya.

Distya Tarworo Endri, Head of Marketing Oral Care and Professional Marketing Unilever Indonesia mengatakan Pepsodent melakukan upaya berkelanjutan untuk memberikan layanan konsultasi kesehatan gigi langsung dan online. “Kami percaya hal ini menjadi sangat penting di tengah rendahnya akses dan kesadaran untuk rutin berkonsultasi ke dokter gigi, yang salah satunya disebabkan oleh tindakan berisiko yaitu swamedikasi,” ujarnya.

Sebelumnya, Pepsodent telah melakukan terobosan di masa pandemi lalu melalui layanan konsultasi gigi dan mulut online ‘Tanya Dokter Gigi by Pepsodent’ yang dapat diakses lewat QR code di kemasan Pepsodent Pencegah Gigi Berlubang.

Layanan online yang menjadi pionir di Indonesia ini didukung oleh dokter gigi yang tergabung di Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), dan Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI) di seluruh pelosok negeri, dan telah menjangkau 143.756 penerima manfaat.

Guna memberikan manfaat yang lebih luas, kali ini Pepsodent menggandeng Halodoc sebagai ekosistem layanan kesehatan digital, mempersembahkan layanan konsultasi hingga pramedikasi masalah gigi dan mulut yang kredibel, mudah diakses, dan efisien.

Timothy Raditya, Product Marketing Lead Halodoc mengatakan, bersama Pepsodent, pihaknya mendukung peningkatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dengan menyediakan konsultasi online gratis dengan dokter gigi berlisensi, tepercaya, dan berkualitas yang dapat diakses kapan pun dan di mana pun.

Kolaborasi Pepsodent x Halodoc untuk minimalkan swamedikasi kesehatan gigi (dok. ist)

Layanan konsultasi gigi online di kolaborasi ini dapat diakses dengan sangat mudah, pengguna cukup memindai QR code yang tertera pada seluruh kemasan rangkaian produk Pepsodent Complete 8, Pepsodent Sensitive Expert, dan Pepsodent Kids.

Nantinya pengguna akan mendapatkan voucher potongan harga hingga Rp25.000 sehingga memungkinkan mereka untuk berkonsultasi gratis di aplikasi Halodoc

“Dengan target memberikan manfaat kepada 200.000 orang hingga setahun ke depan, semoga kolaborasi ini akan meningkatkan layanan kesehatan gigi yang berkualitas bagi masyarakat yang lebih luas, dan dapat membantu mengurangi praktik swamedikasi kesehatan gigi di tengah masyarakat,” tandas Distya. (HG)