Hidupgaya.co – Rizki Juniansyah mencatat prestasi gemilang di cabang olahraga angkat besi, memboyong meraih medali emas dan memecahkan rekor Olimpiade Paris 2024. Ini prestasi fenomenal mengingat tahun ini kali pertama pemuda asal Serang, Banten, ikut Olimpiade dan sukses mempersembahkan emas perdana di cabang angkat besi bagi Indonesia.
Rizki berkompetisi sebagai bagian dari Tim Visa 2024, yakni kumpulan atlet dari seluruh dunia yang merupakan bagian dari strategi serta komitmen jangka panjang Visa untuk mendukung atlet global di Olimpiade, temasuk dari Indonesia.
Tahun ini, Tim Visa terdiri dari keluarga besar inklusif yang beranggotakan 147 atlet dari lebih dari 60 negara dan 40 cabang olahraga.
Mengomentari pencapaian Rizki, Country Manager Visa Indonesia, Vira Widiyasari, menyampaikan apresiasi sekaligus rasa bangga. “Bangga sekali rasanya melihat Rizki menciptakan sejarah dan menjadi bagian dari keluarga besar di Tim Visa. Tidak semua orang bisa meraih medali emas, apalagi sambil memecahkan rekor,” ujarnya di acara Meet & Greet bersama Rizki Juniansyah di Jakarta, Rabu (28/8/2024).

Vira menambahkan, di balik setiap pencapaian – apalagi medali emas Olimpiade – ada cerita tentang langkah-langkah kecil menuju kesuksesan. “Visa mendukung Rizki di setiap langkah-langkah kecilnya tahun ini menuju Olimpiade,” tuturnya.
Terlahir dari keluarga atlet, sejak kecil Rizki mengaku sudah ‘iseng’ angkat-angkat besi di rumah. “Dari kecil aku suka iseng angkat-angkat besi di rumah. Aku juga terinspirasi oleh ayah dan kakakku yang juga atlet angkat besi,” ujar atlet kelahiran 17 Juni 2023 yang datang bertemu media ditemani sang ibu.
Rizki mulai berlatih dari umur tujuh tahun. Tujuannya memilih angkat besi ingin membuktikan, karena meskipun dianggap kurang populer, tapi di berbagai kejuaraan dan olimpiade sering menyumbang medali perunggu, perak dan sekarang emas.
Selain angkat besi, Rizki ternyata juga menyukai motocross. Namun orangtuanya menasihatinya untuk serius di angkat besi. “Kalau menang angkat besi kan bisa beli motor,” kilahnya.
Ibunda Rizki, biasa disapa Mama Yeni bercerita bahwa sejak kecil Rizki sudah mengikuti nasihat orang tua. “Rizki kecil ya memang nurut sama orang tua. Kalau latihan sejak TK memang sudah latihan teknik di rumah, terus kelas empat mulai latihan sendiri,” tuturnya.
Dari kecil, Rizki juga sering menjadi peserta Porprov (Pekan Olahraga Provinsi). Sedari kecil Rizki sudah digembleng dengan latihan dan kedisiplinan. “Namanya juga anak-anak, kadang sempat malas tapi kita terus support Rizki. Alhamdulillahnya Rizki selalu nurut.”
Sosok Mama Yeni diakui Rizki memiliki peran besar dalam menunjang kesuksesannya. Rizki mengaku memiliki ritual sebelum bertanding, yakni cium mama, bahkan cium kaki. “Kalau berlaga selalu ingat baca bismillah dan baca surat kulhu (al Ikhlas) sebanyak tujuh kali,” ujarnya.

Saat bertanding, Rizki mengaku memiliki kebiasaan untuk fokus pada sebuah benda, bisa lampu atau kamera. “Tapi pas Olimpiade itu susah fokus, karena di mana-mana penuh manusia,” ujarnya.
Motivasi kuat untuk mempersembahkan yang terbaik bagi negara membuat pemuda yang belum mau memikirkan pasangan ini fokus pada pertandingan yang menentukan. “Belum mau mikir pasangan sekarang ini. Maunya tiga kali ikut Olimpiade, dapat emas, baru menikah,” ujar Rizki yang diamini ibunda.
“Maunya Rizki fokus ke prestasi saja dulu saat ini. Pasangan nanti,” ujar Mama Yeni.
Target Rizki selanjutnya adalah membangun sasana di rumah untuk melatih anak-anak yang juga ingin menjadi atlet angkat besi. “Aku ingin ada Rizki-Rizki yang lain nantinya, yang bisa bertanding ke tingkat nasional dan internasional,” tandasnya. (HG)