Hidupgaya.co – Menyusui adalah perjalanan yang berharga sekaligus menantang bagi banyak wanita, mempererat ikatan dengan bayi baru lahir sekaligus menyediakan nutrisi penting. Sejumlah studi menunjukkan, air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik untuk bayi. Untuk memastikan bayi mendapatkan nutrisi terbaik, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif (hanya ASI saja) untuk bayi usia 0-6 bulan.

Namun, ibu baru biasanya merasa kewalahan saat pertama kali memulainya. Bertentangan dengan apa yang mungkin diyakini sebagian orang, menyusui tidak selalu terjadi secara alami, perlu latihan, dan hari-hari awal bisa jadi menantang. Kesalahpahaman seputar menyusui sering kali membuat wanita ‘gagal’ dalam memberikan ASI.

Disampaikan dr. Anton Dharma Saputra, Sp.A, ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, karena mengandung antibodi yang tidak bisa ditemukan dari susu formula. “Selain itu, ASI lebih mudah untuk dicerna bayi,” ujarnya.

ASI akan mengambil semua nutrien ibu seperti karbohidrat, protein, lemak dan juga kalsium. Karenanya ibu perlu mengonsumsi makanan bergizi agar ASI yang dihasilkan juga berkualitas. “Saat menyusui, para ibu masih perlu menjaga asupan nutrisi bergizi seperti saat hamil, dan juga mengonsumsi makanan yang tinggi kalsium,” terang dr. Anton.

Lebih lanjut, dokter spesialis anak Rumah Sakit Premier Jatinegara itu mengungkap, menyusui merupakan proses alami yang akan dijalankan oleh seorang ibu setelah melahirkan. Meskipun alami, tak jarang sejumlah ibu merasakan proses memberikan ASI menjadi hal menantang.

Ilustrasi ibu menyusui (dok. ist)

Menurut dr. Anton, ada tiga faktor utama bisa membantu lancar dan suksesnya menyusui. Hal itu dimulai dari masa awal calon ibu mempersiapkan kehamilan. Pertama, pengetahuan. “Calon ibu belajar tentang pelekatan saat memberikan ASI hingga mengetahui sinyal lapar dan kenyang pada bayi,” ujarnya.

Selanjutnya adalah dukungan – diberikan oleh pasangan, keluarga, dan kerabat terdekat. Ibu yang baru saja melahirkan rentan terkena sindrom baby blues karena perubahan waktu istirahat, tubuh yang masih lelah, dukungan nyata yang bisa dilakukan bagi pasangan atau keluarga saat proses menyusui, mulai dari mendampingi ibu saat menyusui malam hari, membantu mempersiapkan peralatan menyusui, hingga bergantian memberikan ASI perah.

“Dukungan semacam ini penting diberikan. Bahkan bila kondisi ibu lebih mengkhawatirkan, perlu dicarikan bantuan profesional seperti konselor laktasi maupun psikolog agar proses menyusui tetap berjalan dengan baik,” saran dr. Anton.

Dukungan ketiga yang tak kalah penting adalah faktor fisik dan kesehatan mental – penting bagi calon ibu menjaga asupan nutrisi saat hamil. “Masa kehamilan yang sehat adalah langkah awal membentuk tumbuh kembang bayi, serta membentuk komposisi ASI yang optimal,” ujar dr. Anton.

Tata Laksana Penyimpanan ASI Perah untuk Jaga Nilai Gizi

Memerah ASI – kemudian menyimpannya untuk diberikan kepada bayi, merupakan salah satu pilihan agar ibu menyusui bisa beristirahat. ASI perah itu bisa diberikan kepada bayi oleh orang lain, misalnya ayah/anggota keluarga yang lain. Memerah ASI juga menjadi pilihan yang baik saat ibu harus kembali bekerja, atau karena alasan tertentu tidak bisa menyusui langsung.

Mungkin akan timbul kekhawatiran bagi sebagian ibu terkait ASI yang diperah ini, apakah kualitasnya akan sebaik ASI yang diberikan langsung melalui menyusui. Sejumlah studi menunjukkan, ASI perah dapat dibekukan dan kualitasnya akan tetap terjaga dalam kondisi beku hingga tiga bulan.

Menurut laman Medical News Today, ASI beku dapat mempertahankan profil nutrisinya hingga saat dicairkan. Semakin cepat ASI itu dibekukan sejak diperah, maka semakin baik kualitas susu setelah dicairkan. Enzim dan vitamin yang larut dalam lemak yang dikandungnya mungkin sedikit berkurang tetapi sebagian besar nutrisinya dalam ASI tetap sama.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyebut, pembekuan ASI perah memungkinkan orang tua dan pengasuh untuk mengumpulkan persediaan ASI yang dapat digunakan saat dibutuhkan, misalnya saat ibu kembali bekerja dan tidak bisa menyusui bayi secara langsung dalam 8-9 jam.

Menurut CDC, ASI yang disimpan ASI di freezer bisa bertahan hingga 6 bulan untuk mempertahankan kualitasnya. Namun disarankan simpan ASI beku 1-3 bulan karena seiring bertambahnya usia bayi, kebutuhan nutrisi dalam ASI juga ikut berubah.

Untuk mempertahankan kualitas, bekukan ASI sesegera mungkin setelah diperah. Selanjutnya, simpan ASI dalam kantong penyimpanan khusus atau wadah bersih yang aman untuk makanan yang terbuat dari kaca atau plastik. Pilih wadah plastik bebas bisphenol A (BPA).

Langkah selanjutnya adalah berikan label ASI dengan jelas, yang mencantumkan tanggal pemerahan. Simpan ASI dalam jumlah kecil untuk menghindari pemborosan (buang-buang ASI). Alasannya, ASI beku yang sudah dicairkan jangan kembali disimpan, sebaiknya dibuang.

Saat mengisi wadah dengan ASI, sisakan satu inci di bagian atas untuk pengembangan. Kemudian, letakkan ASI di bagian belakang freezer, di tempat yang kecil kemungkinannya mengalami fluktuasi suhu saat pintu dibuka.

Ketika hendak mencairkan ASI, lakukan pencairan ASI di lemari es (pindahkan ASI dari freezer dan letakkan di bagian rak di dalam kulkas). Biarkan susu mencair selama 24–36 jam di lemari es. Kocok susu sebelum membukanya. Jika padatan dan cairan tetap terpisah, gunakan blender atau mixer listrik untuk mencampurnya kembali. Setelahnya, bisa diberikan kepada bayi.

We Know Feeding: Breastfeeding and Beyond

Mothercare memahami bahwa menyusui adalah proses penting bagi ibu untuk memberikan gizi terbaik bagi buah hati. Turut memeriahkan Pekan ASI Sedunia yang dirayakan pada 1 – 7 Agustus setiap tahunnya, Mothercare hadirkan kampanye bertemakan ‘We Know Feeding: Breastfeeding and Beyond’.

Pompa untuk bantu ibu memerah ASI (dok. ist)

“Sejalan dengan tema Pekan ASI Sedunia tahun ini yang dibuat oleh WHO, Closing the gap: Breastfeeding support for all, maka melalui kampanye Mothercare tahun ini, We Know Feeding: Breastfeeding and Beyond, kami berharap dapat menyuarakan pentingnya memberi dukungan bagi sang ibu dari masa kehamilan hingga anak lahir agar sukses mengASIhi,” ujar Maira Odessa, Marketing General Manager Mothercare Indonesia.

Dalam mendukung upaya pemberian ASI, sebut Maira, Mothercare menawarkan produk-produk yang mendukung proses menyusui baik untuk ibu maupun bayi, mulai dari pompa ASI, wadah ASI, hingga solusi penyimpanan ASI dari merek-merek ternama seperti Spectra, Moimom, Momami, Pureats, Mama’s Choice, dan sebagainya.

“Mothercare juga mendukung para ibu untuk menjaga nutrisi saat menyusui dengan menyediakan berbagai suplemen untuk memperlancar ASI, camilan kaya nutrisi, dan korset untuk menjaga tubuh ibu tetap nyaman setelah melahirkan dan saat menyusui,” tandas Maira. (HG)