Hidupgaya.co – Figur publik Ariel Tatum ‘dipaksa’ mengerahkan segenap kemampuan saat berperan sebagai Sang Kembang Bale, pementasan yang terinspirasi dari kesenian Ronggeng Gunung – sajian seni pertunjukan klasik dari daerah Jawa Barat – yang akan dipentaskan pada 10-11 Agustus 2024 di NuArt Sculpture Park, Bandung, Jawa Barat.

Pertunjukan yang akan dipentaskan di area terbuka di Bandung, Jawa Barat, menyuguhkan kidung, tari, dan drama Ronggeng Gunung. Terdiri dari satu orang pemain yang diperankan oleh Ariel Tatum, diiringi empat penari, dan tiga orang pemusik yang menghidupkan kembali nilai-nilai budaya adiluhung Ronggeng Gunung.

Menjadi seorang Ronggeng Gunung tidak hanya dituntut untuk menari, namun juga menyanyi, bermain, dan menciptakan komposisi musik serta lirik secara langsung. Ini adalah kali pertama Ariel Tatum bermain monolog di atas panggung.

Ariel mengaku mengalami tantangan dalam memerankan Sang Kembang Bale. “Awalnya aku diceritain soal Ronggeng Gunung. Itu sebenarnya pendekatan diam-diam, dipancing pakai ceritanya dulu. Dan aku mau diajak karena naskahnya bagus, kisahnya begitu magis,” ujar Ariel yang pertama kali jaipongan bersama Happy Salma di pertunjukan Panggung Sukabumi 1980, beberapa waktu silam.

Ikut jaipongan itu rupanya memberikan kesan mendalam pada Ariel sehinga tak berpikir lama dia mengiyakan tawaran untuk memerankan Sang Kembang Bale. “Stres iya. Ini monolog pertama aku. Jadi ada stres, galau, panik. Tapi aku mencoba tenang dan maksimalin setiap proses,” terang Ariel Tatum di acara temu media yang dihelat di Galeri Indonesia Kaya, baru-baru ini.

Ariel Tatum (dok. Hidupgaya.co)

Untuk persiapan pentas, Ariel sudah menjalani latihan selama lima minggu. “Latihan lebih ke spiritual. Saat ke Ciamis dikasih wejangan sama Bi Pejoh dan diceritain semua. Aku butuh berada di titik nol sehingga bisa menyerap pembelajaran dengan maksimal. Dalam proses ini aku lebih banyak mempercayakan kepada semesta dan leluhur untuk membantu kelancaran,” urai Ariel.

Untuk perannya kali ini, Ariel ‘mengosongkan gelas’ sehingga mudah diisi dengan segala hal baru. Tak dimungkiri, dia mengaku agak kesulitan saat menembangkan nyanyian di pertunjukan ini. “Tembang yang dinyanyikan Sang Kembang Bale sangat khas dan sangat sulit. Aku yang biasa nyanyi dengan teknik modern tiba-tiba harus kenalan ulang dengan suaraku,” ujarnya.

Nyanyian tradisional dalam peran Ariel menggunakan tenggorokan, bukan diafragma atau kepala. “Dengan cengkok khas itu sulit sekali,” ujarnya.

Namun tekad Ariel Tatum kuat sehingga dia mau mencoba memerankan hal sulit itu. “Kembang Bale ini belum pernah aku dengar. Namun aku merasa ini warisan budaya yang patut diketahui orang banyak,” tandasnya.

Kisah Ronggeng Gunung Sang Kembang Bale

Sang Kembang Bale berkisah tentang kehidupan seorang ronggeng (Kembang Bale) di Panyutran, sebuah kampung di Padaherang. Seorang Kembang Bale terlahir dari perih kehidupan masa kecilnya. Memasuki masa remaja ia terpilih oleh para ronggeng gunung sepuh untuk menjadi penerus sebagai ronggeng sejati.

Ariel Tatum bersama koreografer di sesi latihan Sang Kembang Bale (dok. ist)

Kemiskinan yang mendorongnya untuk memasuki dunia ronggeng. Tapi dunia yang dimasukinya itu semakin hari semakin menariknya untuk lebih dalam memaknai bagaimana semestinya sikap seorang ronggeng (Kembang Bale).

Dalam monolog ini segala kegelisahan, konflik batin, ketakutan, keinginan, dan harapan sang Kembang Bale akan ditampilkan bersama dengan tembang-tembang ronggeng gunung.

Penonton akan melihat bagaimana sang ronggeng juga adalah manusia, yang seringkali meragu. Namun, ia berusaha lurus dalam pilihannya menjadi perempuan terpilih yang dicintai sekaligus disegani di masyarakatnya.

Kesenian Ronggeng Gunung adalah kesenian tradisi khas daerah Kabupaten Ciamis dan Pangandaran yang kini sudah masuk sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

Selaku produser, Pradetya Novitri sesungguhnya sudah mengagendakan pertunjukan ini sejak tiga tahun lalu. “Kesenian Ronggeng Gunung ini perlu diperlihatkan ke banyak orang karena kondisinya hampir punah. Saat ini, pelakunya hanya tinggal dua orang. Sangat sayang kalau kita tidak meneruskannya kembali,” tuturnya.

Pementasan ini juga bertujuan untuk mengonservasi pengetahuan tentang kesenian Ronggeng Gunung. Untuk pertujukan ini, pihaknya melakukan riset ke tempat kelahiran Ronggeng Gunung, juga membawa pemain, pemusik dan penari yang berasal dari generasi muda untuk langsung belajar kesenian Ronggeng Gunung kepada para pelakunya.

Menurut Heliana Sinaga, sutradara Sang Kembang Bale, mengangkat tema Ronggeng Gunung berdasarkan biografi pelaku atau pewaris Ronggeng Gunung ke panggung pertunjukan, Sang Kembang Bale adalah salah satu alternatif menghidupkan kembali relasi nilai- nilai dan relasi interaksi manusia dengan manusia, alam dan penciptanya.

Penggambaran alur, gerak, musik dan lagu yang dibawakan oleh Ariel Tatum dan seluruh tim yang terlibat semoga bisa menjadi arsip kebudayaan yang didapat melalui pengalaman menonton yang berbeda,” kata Heliana.

Penulis Toni Lesmana dan Wida Waridah yang berasal dari Ciamis dipercaya menulis naskah pertunjukan. Proses penulisan naskah Sang Kembang Bale ini diawali dari hasil wawancara langsung dengan pelaku kesenian Ronggeng Gunung, yakni Bi Pejoh, Bi Raspi, juga Mang Sarli.

Penggalian dari pengalaman mereka selama menekuni sekaligus melestarikan kesenian Ronggeng Gunung, khususnya di daerah Panyutran, Pangandaran, memunculkan hal baru yang cukup menarik.

Sebagai koreografer pertunjukan, Rachmayati Nilakusumah merupakan seorang penari yang pernah mendalami tari Ronggeng Gunung dengan berguru ke dua maestro Ronggeng Gunung, Bi Raspi dan Bi Pejoh. Baginya Ronggeng Gunung adalah tarian purba yang banyak filosofi hidupnya.

Kiri ke kanan: Renitasari Adrian, Ariel Tatum, Pradetya Novitri dan Heliana Sinaga (dok. Hidupgaya.co)

Berbeda dengan tarian-tarian yang ada di Jawa Barat, gerakan tari utama Ronggeng Gunung adalah kaki. Dalam bahasa Sunda dikenal dengan istilah ‘sareundeuk saigel’ atau ‘seirama segerakan’.

“Dalam tarian Ronggeng Gunung kalau kita salah irama atau salah gerakan kita akan terinjak oleh orang lain. Jadi penting sekali kebersamaan,” kata Rachmayati.

Pementasan ini juga didukung oleh Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia dan Bank BCA. Juga didukung oleh venue partner NuArt Sculpture Park, Bandung.

Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, percaya bahwa produksi Sang Kembang Bale ini tidak hanya akan menghidupkan kembali tradisi yang hampir punah, tetapi juga akan memberikan pengalaman budaya yang mendalam dan inspiratif bagi semua penikmat seni. “Semoga pertunjukan ini dapat menghidupkan kembali kekayaan budaya Indonesia agar terus dikenal dan dicintai oleh generasi mendatang,” ujarnya. (HG)