Hidupgaya.co – Anak-anak juga bisa mengalami masalah pada mata. Beberapa gangguan mata yang sering dialami anak-anak adalah kelainan refraksi, amblyopia (mata malas), konjungtivitis serta yang paling banyak adalah myopia (mata minus). Semakin cepat masalah mata ditemukan, semakin cepat juga anak bisa mendapatkan perawatan dan dukungan yang dibutuhkan.

Dokter spesialis optometri, Andri Agus Syah, OD, FPCO, FAAO, FIALVS mengatakan, data menyebut bahwa ada peluang 81 persen gangguan penglihatan dapat dihindari jika diagnosis dan diobati sejak dini. “Sayangnya, berdasarkan riset dan survei yang dilakukan, banyak anak yang tidak menyadari bahwa mereka memiliki masalah penglihatan,” ujarnya di acara temu media yang dihelat Vio Optical Clinic Jakarta menandai peluncuran PERMADANI (Periksa Mata Dari Dini), baru-baru ini.

Pendiri sekaligus chief doctor di VIO Optical Clinic menambahkan, tanpa diagnosis dan intervensi yang tepat, masalah penglihatan bisa mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar dengan efektif, yang pada gilirannya dapat menurunkan motivasi dan prestasi akademik. 

Terkait gangguan refraksi mata berupa mata minus jika tak selekasnya ditangani, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi 50 persen dari penduduk dunia akan mengalami rabun jauh pada 2050.

Dokter spesialis optometri, Andri Agus Syah, OD, FPCO, FAAO, FIALVS dari VIO Optical Clinic (dok. Hidupgaya.co)

Seiring berkembangnya teknologi, ada beberapa cara untuk mengoreksi mata minus, misalnya dengan operasi lasik dan pemakaian lensa kontak yang dibuat khusus untuk memperbaiki kelainan refraksi akibat rabun jauh. Lensa ini dikenal dengan lensa orthokeratology atau ortho-k.

Menurut Andri, lensa ortho-k memiliki cara penggunaan yang berbeda dengan lensa kontak biasa. “Fungsinya tidak sekadar memperbaiki penglihatan sementara seperti lensa kontak, melainkan menghambat kenaikan minus pada anak yang minusnya cepat bertambah,” ujarnya.

Ortho-k merupakan salah satu alternatif untuk menahan laju kenaikan minus mata menggunakan lensa kontak yang dipakai di malam hari. “Tujuannya membentuk ulang permukaan kornea matanya,” tutur Andri.

Lensa ortho-k aman dipakai secara rutin di malam hari ketika akan tidur untuk merekonstruksi kornea mata. Teknologinya sudah mencukupi bahwa lensa ortho-k bisa digunakan di malam hari tanpa mengganggu kadar oksigen yang masuk ke mata. “Pada saat lensa dilepas di pagi hari, pandangan matanya akan terang,” papar spesialis optometri tersebut.

Pemeriksaan kesehatan mata anak (dok. Vio Optical Clinic)

Metode perawatan mata minus tanpa operasi ini menggunakan lensa kontak berbahan Rigid Gas Permeable (RGP) yang digunakan anak saat tidur minimal 8 jam per hari. Andri menyebut, metode ini lebih dianjurkan untuk anak-anak karena ada orang tua yang mengontrol penggunaannya.

Lensa kontak ortho-k bisa jadi pilihan untuk anak dengan kondisi rabun jauh namun tidak nyaman jika menggunakan kacamata. Alasan lain, lensa ortho-k bisa menghambat laju minusnya agar tidak bertambah dengan signifikan serta meminimalkan risiko komplikasi. Alhasil, anak bisa bebas dari ketergantungan kacamata dan penglihatannya bisa lebih baik.

Pemakaian lensa kontak ortho-k untuk mengoreksi mata minus lebih disarankan pada anak-anak mengingat usia di bawah 18 tahun tidak bisa melakukan tindakan lasik.

Andri mengatakan, prosedur lasik umumnya tidak dilakukan di bawah 18 tahun karena usia yang belum dewasa. “Pertumbuhannya belum optimal. Jika dilakukan tindakan lasik di bawah usia 18 tahun, maka risiko minus tumbuh lagi akan lebih tinggi,” tandasnya. (HG)