Hidupgaya.co – Kabut mulai turun saat rembang petang diselingi rintik hujan di kawasan Selabintana Sukabumi. Namun hal itu tak menyurutkan pengunjung untuk memadati area terbuka Selabintana Conference Resort, Sukabumi, Jawa Barat, demi menyaksikan gelaran seni ‘Sukabumi 1980’.

Sejumlah penampil terkemuka mengisi panggung pertunjukan, di antaranya Dewi Gita, Donna Agnesia, Ariel Tatum dan Happy Salma. Di antara mereka, Ariel Dewinta Ayu Sekarini alias Ariel Tatum tampil mencuri perhatian. Aktor 27 tahun ini sukses memanaskan panggung dengan menari Jaipong Adumanis diiringi gamelan Sunda berikut pesindennya secara live.

Berduet tari Jaipong bersama Happy Salma, Ariel mengaku deg-degan. “Deg-degan banget, aku ini baru bener-bener pertama kali akhirnya pecah telor nari tradisional dan nari apa pun sebenarnya di depan banyak orang,” terang perempuan kelahiran 1996 usai tampil di panggung terbuka Sukabumi 1980, Jumat (8/12/2023) malam.

Dunia tari sesungguhnya bukan hal baru bagi Ariel Tatum. Kecintaan terhadap tari tradisional dimulai sejak dua tahun lalu ketika ia mulai mempelajari tarian khas Solo dan Yogyakarta.

Duet tari Jaipong Ariel Tatum (kanan) dan Happy Salma (dok. ist)

Namun demikian, tampil menari Jaipong di hadapan publik untuk pertama kalinya bagi Ariel Tatum merupakan pengalaman berharga. “Walaupun deg-degan ini menjadi pengalaman yang sungguh sangat menyenangkan apalagi berbagi pengalaman tersebut bersama tetehku tersayang (Happy Salma),” ujarnya sembari menggamit lengan Happy yang berdiri di sampingnya.

Mengenakan kebaya warna pink berselendang kuning dipadu dengan kain batik Sukabumi, duet tarian Ariel Tatum dan Happy Salma sukses mengundang tepuk tangan penonton. Keduanya bahkan mendapatkan saweran saat menari.

Deg-degan tak hanya dirasakan Ariel, namun juga Happy Salma. “Tampil menari Jaipong selama 7 menit saya sampai lupa senyum, ” ujar Happy Salma selaku produser Sukabumi 1980.

Meski sejak lama suka menari, namun Happy mengaku penampilannya di panggung Sukabumi 1980 hasil kolaborasi Titimangsa dan Bakti Budaya Djarum Foundation, cukup membikin nervous. “Masih mending monolog 2 jam,” ujarnya dengan mengulas senyum lebar.

Melestarikan Tradisi

Pergelaran seni Sukabumi 1980 merupakan bagian dari bingkai Lestari Tradisi. Dalam hal ini mengangkat kebudayaan Sunda.

Sukabumi yang berada di tanah Priangan Barat, melahirkan berbagai bentuk seni dan budaya yang terawat sebagai penghormatan atas keagungan dan karunia alam semesta. Sukabumi ikut merawat budayanya dengan melestarikan seni tradisional Sunda. Kehalusan budi yang terkandung pada nilai-nilai yang terus dipelihara, terhimpun dalam kawih, pupuh, tari, bobodoran, ngibing dan ekspresi seni lainnya.

“Sukabumi menjadi tempat yang memiliki ikatan emosional tersendiri bagi saya, karena kota tersebut menjadi kota di mana saya lahir dan tumbuh,” tutur Happy Salma, produser Sukabumi 1980 sekaligus pendiri Titimangsa.

Happy menyebut, Sukabumi di era 1980 adalah masa jaya segala budaya terangkum dan pernah dirayakan. Di mana peradaban masyarakatnya tercerminkan dalam pola dan perilaku hidup berbangsa dan bernegara. “Di era 1980-an, Sukabumi menjadi salah satu kota di Jawa Barat yang akrab dengan kesenian tradisional,” bebernya.

Beragam kesenian dan kebudayaan Sunda seperti degung, pencak silat, tari jaipong, dan berbagai kesenian khas Sunda lainnya dapat ditemukan dalam berbagai kegiatan masyarakat seperti di sekolah, upacara peresmian dan hajatan di era 1980-an.

Setelah pindah dan tinggal di kota lain, Happy memiliki kerinduan dengan kota yang menjadi akar dari kehidupannya. Berangkat dari kerinduan tersebut, Titimangsa bersama Bakti Budaya Djarum Foundation berkolaborasi dalam menghadirkan kembali pagelaran Seni Tradisi ‘Sukabumi 1980’. Dia berharap, gelaran itu dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Kiri ke kanan: Dewi Gita, Renitasari Adrian, Ariel Tatum, Happy Salma (dok. Hidupgaya.co)

Kesempatan sama Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian menyampaikan gelaran seni Sukabumi 1980 tidak semata memperkenalkan sejarah pertunjukan kebudayaan Sunda pada 43 tahun silam. “Ini juga sebagai upaya untuk merawat dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang mungkin pernah terlupakan,” ujarnya. “Terselenggaranya kegiatan ini membuktikan bahwa sebuah acara seni yang tidak harus berfokus di kota besar, namun acara berkualitas dengan konsep sederhana ditambah narasi yang kuat dapat diwujudkan di mana pun.”

Renita menambahkan, dengan menyajikan acara yang memadukan tradisi dan inovasi, diharapkan acara itu menginspirasi masyarakat di daerah lain untuk melakukan hal serupa. “Dengan demikian komunitas seni termotivasi untuk terus berkarya melestarikan seni tradisi di tengah kehidupan modern dan semangat kecintaan akan budaya semakin menyebar di masyarakat,” tandasnya.

Sukabumi 1980 menghadirkan seni tari, musik karawitan, dan sinden; yang dipandu oleh Merwan Meryaman dan Jeni Aripin, serta dibawakan oleh seniman asli setempat dari Sanggar Seni Gapura Emas, juga Sanggar Gumintang. (HG)