Hidupgaya.co – Merek fashion Indonesia, Lakon Indonesia, merilis koleksi The Tailor Made 01. Koleksi ini menitikberatkan pada keahlian pembuatan pakaian, keterampilan khusus yang mulai terlupakan, yang dulu dikuasai penjahit dalam membuat busana.
“Bisa dibilang koleksi ini 100 persen pekerjaan tangan. Pakaian dibuat dengan cara benar karena penjahit memiliki keahlian dasar. Keterampilan dasar itu saat ini seolah terlupakan. Pada zaman dulu, penjahit punya skill dasar itu dalam membuat pakaian,” terang Thresia Mareta, pendiri Lakon Indonesia dalam temu media di Teras Lakon Serpong, Rabu (29/11/2023).
Thresia melanjutkan, desainer atau penjahit yang menguasai keterampilan dasar itu bisa berguna dalam banyak hal. “Dengan menguasai keahlian dasar itu kita bukan hanya bisa membuat pakaian baru tapi juga memperbaiki pakaian yang sudah lama atau upcycle agar pakaian bisa berumur panjang sehingga mengurangi sampah fashion,” tuturnya.
Menurut Thresia, seorang desainer atau penjahit yang menguasai keterampilan dasar bisa membuat opsi yang lebih banyak karena memiliki keahlian.

Thresia menyebut, basic skill penting dikuasai desainer. Alasannya jika desainer tidak punya keterampilan dasar dalam.membuat busana maka besar kemungkinan tidak dapat memenuhi order (pesanan) secara konsisten. “Kualitas juga tidak terjaga dengan baik. Kita tergantung sama penjahit. Kalau penjahit yang bagus hasilnya akan bagus dan sebaliknya. Hasil yang tidak konsisten ini membuat brand tidak reliable di mata buyer. Apa yang kita janjikan di awal bisa tidak terpenuhi,” urai Thresia.
Dia menambahkan, divisi Made by Order berkembang pesat di Lakon Indonesia. “Dalam 5 tahun terakhir banyak customer yang melakukan made by order (untuk busana),” ujar Thresia.
Meskipun memiliki harga lebih mahal dari produk ready to wear, namun pelanggan menyukai pakaian made by order karena dibuat dalam jumlah terbatas dengan kualitas lebih. “Sebagai brand, kita gak mau hasilkan waste terlalu banyak. Kita ingin menciptakan sesuatu lebih berarti dan lebih bertanggung jawab,” lanjut Thresia.
Meskipun divisi Made by Order berkembang pesat namun hal itu tidak akan gantikan segmen ready to wear. “Lakon Indonesia tetap akan keluarkan koleksi ready to wear karena akan lebih banyak hidupi perajin,” beber Thresia.
The Tailor Made 01
Terkait koleksi The Tailor Made 01, Thresia mengungkap material yang ditampilkan seperti kanvas dengan menitikberatkan pada keahlian. “Yang diperhatikan adalah skillnya. Kami perhitungkan detail untuk setiap koleksi apakah itu dibuat dengan tenun atau batik. Yang dipresentasikan kali ini lebih ke konsep dan teknik pembuatan baju,” bebernya.


Koleksi The Tailor Made 01 merupakan koleksi spesial yang dibuat untuk mengakomodasi pesanan weYb khusus yang berkembang pesat dan menjadi salah satu bagian dari bisnis Lakon Indonesia. “Koleksi ini bisa juga disebut sebagai one of a kind,” sebut Thresia.
Dengan kata lain, koleksi The Tailor Made 01 ditangani dengan seksama menggunakan prinsip tukang jahit masa lalu dengan tingkat detail tinggi. “Ini berbeda dengan koleksi ready to wear yang kuantitasnya lebih besar,” ujarnya.
Thresia menekankan, koleksi The Tailor Made 01 adalah perjalanan baru Lakon Indonesia untuk mengangkat keterampilan dan dedikasi tukang jahit masa lalu tetapi dalam bentuk modern dengan manajemen profesional. “Konsumen bisa memesan berdasarkan apa yang sudah kami presentasikan sesuai dengan rasa dan style masing-masing persona. Sistem order adalah berdasarkan koleksi yang kami presentasikan secara sistematik untuk dapat dipesan oleh pelanggan,” bebernya.
Thresia menggarisbawahi bahwa melalui koleksi tersebut, Lakon Indonesia memberikan penghormatan ke prinsip tradisional masa lalu dimana pekerjaan tangan dihargai dengan sangat tinggi mulai dari pembuatan bahan, embroidery, tenun, batik, hingga pemasangan berupa aplikasi yang sangat kuat dari masa lalu.
Rilis 85 Look
Untuk gelaran ini dirilis total koleksi 85. Ada alasan tentu mengapa Lakon Indonesia merilis koleksi sebanyak itu dalam satu gelaran fashion. “Kita ingin jadi brand fashion beneran yang punya kemampuan mumpuni. Di luar negeri untuk koleksi baru dikeluarkan 20-30 look. Itu jelas akan membedakan dengan satu brand yang hanya memgeluarkan 6-8 look. Karena manage 30 look dengan 8 look pasti beda sekali,” urai Thresia.
Dia lebih lanjut mengungkap, untuk bisa diakui sebagai merek profesional sebuah brand harus keluarkan minimal 20 look setiap session. “Saya bekerja dengan desainer pengalaman untuk Lakon Indonesia. Dia gak pernah mengeluarkan kurang dari 70 look untuk setiap session,” Thresia menambahkan.
Koleksi 10-12 look, sebut Thresia, belum bisa memperlihatkan identitas merek secara jelas. “Dengan begitu orang belum bisa menilai koleksi itu bagus apa tidak. Apalagi secara konsisten akan begitu terus. Dengan koleksi terbatas orang akan bertanya-tanya sebenarnya desainer akan menyampaikan apa sehingga konsumen atau buyer sulit memutuskan apakah koleksi itu akan diterima atau tidak,” tandasnya.
Teras Lakon
Kesempatan sama, Thresia menjelaskan Teras Lakon adalah bagian dari ekosistem Lakon Indonesia. “Bangunan ini akan menjadi pusat dari keseluruhan ekosistem sekaligus wadah yang diharapkan dapat mempertemukan berbagai ahli dan para kreatif dari berbagai latar belakang untuk bergerak bersama melakukan usaha pelestarian budaya Indonesia,” tuturnya.

Berdirinya Teras Lakon melengkapi keseluruhan ekosistem pelestarian budaya yang telah dibangun selama ini. “Sekaligus mengukuhkan Lakon Indonesia sebagai label pertama di Indonesia yang menjalankan usahanya secara professional dalam pengertian yang selama ini berlaku secara internasional,” jelas Thresia.
Untuk desain Teras Lakon, Thresia mempercayakan pada arsitek kawakan Adi Purnomo. Arsitek ini mengaku banyak mendengarkan seperti apa visi Lakon Indonesia. “Saya mengolah bangunan seperti apa yangakan dipakai oleh Lakon Indonesia. Saya banyak menggunakan simbol. Arsitektur tradisional itu selalu ada simbol tanpa menjadi klise. Berbeda misalnya dengan arsitektur Prancis modern tanpa simbol karena mengedepankan fungsi,” terang Adi.
Arsitek senior yang sejak lama membersamai Lakon Indonesia itu menekankan napas yang dibawakan suatu bangunan menyiratkan apa yang menjadi visi Lakon. “Workshop adalah jantungnya kehiduan kreatif. Tidak ikut lintasan utama, harus terlindungi sendiri,” terangnya.
Ruang desainer di Teras Lakon selalu terkoneksi dengan alam, menghadap danau untuk membantu proses kreatif. “Ruangan di Teras Lakon itu serba guna. Di sini semua ruangan sama saja. Mau pindah pindah bisa,” tandas Adi Purnomo. (HG)