Hidupgaya.co – Dibutuhkan peningkatan kualitas kinerja tenaga medis agar dapat memberikan pelayanan optimal kepada pasien di Indonesia. Tak dimungkiri, keunikan wilayah geografis Indonesia telah menjadi sebuah tantangan dalam menyediakan akses kesehatan berkualitas yang merata, di mana sekitar 40% fasilitas kesehatan terpusat di Pulau Jawa. Karenanya, perlu integrasi teknologi guna menciptakan sistem kesehatan yang lebih inklusif di tanah air.
“Pelajaran dari beberapa krisis kesehatan yang pernah terjadi sebelumnya mungkin bisa memberikan jawaban, di mana dalam beberapa tahun terakhir. Konsultasi virtual terbukti telah menjadi solusi yang efektif. Jika diterapkan pada seluruh rangkaian layanan kesehatan, maka solusi telehealth dan komunikasi berbasis video dapat menjadikan layanan kesehatan lebih mudah diakses, nyaman, dan terjangkau,” ujar Head of Asia Pacific Zoom Ricky Kapur.
Dia menambahkan, teknologi di bidang kesehatan tidak lagi dapat dipandang sebagai solusi sementara yang hanya digunakan ketika muncul kebutuhan khusus. “Pemanfaatan teknologi sudah seharusnya menjadi solusi tetap untuk menghadapi tantangan layanan kesehatan di masa mendatang,” imbuh Ricky.
Dengan demikian, ujar Ricky lebih lanjut, lembaga-lembaga kesehatan perlu mengoptimalisasi tenaga medis yang ada untuk mengatasi kesenjangan akses terhadap layanan berkualitas. “Meningkatkan penggunaan telekonsultasi merupakan langkah yang tepat, di mana penerapan solusi kesehatan digital ini telah berkembang pesat di Indonesia,” ujarnya.
Hal itu terlihat dari volume penggunaan pada tahun 2022 yang 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2020. Selain menghemat waktu dan biaya bagi pasien, konsultasi virtual menjadikan proses pelayanan lebih produktif bagi para tenaga medis. “Dokter tidak hanya bisa melayani lebih banyak pasien, tetapi juga dapat memprioritaskan konsultasi tatap muka bagi pasien yang membutuhkan perawatan lebih kritis,” imbuh Ricky.
Meski perawatan pasien merupakan inti dari bisnis layanan kesehatan, hal tersebut hanya salah satu bagian dari industri ini. Digitalisasi terhadap peran-peran administratif penting seperti pengumpulan dan pengarsipan data pasien, penagihan, rapat dengan vendor, dan relasi antar karyawan akan membuat peranan-peranan ini lebih mudah dilaksanakan sekaligus menghemat waktu.
Digitalisasi tersebut juga membantu kinerja tenaga medis agar bekerja dengan lebih efisien dan menghemat biaya. Tenaga medis, khususnya di daerah yang sulit dijangkau, akan sangat merasakan manfaat digitalisasi ini, sebab mereka dapat memberikan layanan kesehatan utama yang lebih baik kepada pasien – meski dengan keterbatasan sumber daya.
Digitalisasi juga membantu para tenaga medis untuk lebih fokus pada hal yang paling penting, yakni memberikan perawatan berkualitas kepada pasien di mana pun mereka berada.
Maka dari itu, lembaga kesehatan dengan sumber daya terbatas memerlukan efisiensi operasional untuk memberikan layanan kesehatan terbaik bagi pasien mereka. Didukung oleh teknologi, perawatan yang bersifat kolaboratif juga sangat penting, mengingat kini para tenaga medis pada seluruh rangkaian perawatan harus tetap bekerja sama di sepanjang perjalanan perawatan pasien.
Lebih Dari Sekadar Janji Temu
Ricky mengungkap, perawatan secara virtual pun lebih dari sekadar mengatur janji temu antara pasien dan dokter. Petugas administrasi rumah sakit dapat mengumpulkan para staf dari berbagai departemen dan gedung secara virtual untuk pengumuman rutin dan komunikasi darurat.
Tugas-tugas sederhana seperti pemeriksaan organ vital yang bersifat non-intrusif, pemberian obat, atau bahkan konsultasi lanjutan, juga dapat dilakukan secara otomatis dengan telerobotik di bawah pengawasan tenaga medis profesional.
Otomatisasi tersebut dapat membawa perubahan besar bagi para tenaga medis di garda terdepan. “Mereka kini dapat menikmati fleksibilitas dalam mengelola beberapa tugas mereka dari jarak jauh,” tutur Ricky.
Selain itu, tenaga medis juga dapat menggunakan jam kerja yang terbatas untuk peran yang lebih membutuhkan kontak langsung, seperti perawatan yang mengharuskan kontak fisik atau pesan penting yang perlu disampaikan secara tatap muka. Peran tersebut juga mencakup persiapan kepulangan pasien, koordinasi untuk rangkaian perawatan, pemberian nutrisi dan pencegahan penyakit – di mana layanan-layanan ini akan lebih efektif jika disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien.
Masih banyak yang dapat dilakukan dengan teknologi untuk mendukung tenaga kerja di bidang esensial ini – khususnya bagi mereka yang sudah kelelahan akibat kurangnya jumlah tenaga medis dibandingkan dengan meningkatnya permintaan akan layanan kesehatan. Fleksibilitas akan menjadi tujuan utama dari visi ini, yakni membantu lembaga kesehatan melayani pasien dan berkolaborasi di mana pun mereka berada.
Akses terhadap layanan kesehatan berkualitas merupakan tantangan multidimensi bagi sistem layanan kesehatan di suatu negara. Namun, dengan memusatkan perhatian dan menerapkan berbagai upaya pada industri ini, lembaga kesehatan tetap bisa menjadi selangkah lebih maju, di mana teknologi akan mempercepat perkembangan menuju sistem kesehatan yang berkelanjutan.
“Pada akhirnya, penerapan teknologi pada layanan kesehatan memungkinkan tenaga medis untuk bekerja dengan lebih efisien, efektif, dan membantu mereka memberikan layanan terbaik bagi pasien, demi visi untuk menyediakan layanan kesehatan berkualitas yang setara bagi para pasien di Indonesia, di mana pun mereka berada,” pungkas Ricky. (HG)
