Hidupgaya.co – Menjaga kesehatan kulit balita merupakan langkah awal dalam optimalisasi tumbuh kembang anak. Dengan kulit yang terjaga, anak-anak ini akan terhindar dari penyakit kulit yang dapat menghalangi gerakan, mengurangi kerewelan dalam pemberian makan, hingga berpengaruh pada kualitas tidur.
Disampaikan praktisi kesehatan dr. Ario Baskoro MSC (IHM), masalah kulit pada balita dapat mengganggu proses stimulasi dini perkembangan, hingga berdampak pada kualitas tidur. “Faktanya, kulit bayi masih sangat rentan mengalami masalah kulit seperti kulit kering, kemerahan, bersisik, gatal ataupun iritasi. Oleh karena itu, bayi menjadi mudah rewel karena merasa tidak nyaman dalam beraktivitas,” terangnya.
Selain memperhatikan kebersihan dan kesehatan kulit anak, ibu juga perlu memilih produk untuk anak yang sesuai salah satunya popok yang lembut dengan daya serap yang tinggi, agar popok tidak lembab. “Popok yang mempunyai daya serap tinggi dapat mengurangi risiko kontak langsung kulit dengan urin atau feses,” imbuh Ario.
Lebih lanjut Ario mengatakan, selain memperhatikan kebersihan dan kesehatan kulit, ibu juga perlu mengetahui bahwa periode penting dalam proses tumbuh kembang anak adalah 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK). “Bukan hanya status gizi, stimulasi dari orang tua juga merupakan faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Stimulasi juga mempunyai peran penting untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama fungsi bahasa, sensoris, sosial, kognitif, afektif dan psikomotor,” terangnya.
Edukasi tentang kesehatan kulit dan pijat bayi di Posyandu (dok. ist)
Edukasi pentingnya menjaga kesehatan kulit bayi perlu dilakukan, di antaranya melalui wadah Posyandu. Harus diakui, peran swasta dalam mendukung dalam penyelenggaraan kegiatan di Posyandu masih diperlukan. Selain dapat memfasilitasi tenaga ahli untuk pemberi informasi kesehatan kepada masyarakat, juga dapat menjadi penggerak masyarakat untuk datang ke Posyandu dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat terutama bagi anak sehingga mencegah risiko terkena penyakit kulit.
Bidan Devie yang berpraktik di Bidan Siti Juaeriah sepakat mengenai pentingnya stimulasi. Sejumlah studi telah menunjukkan kurangnya stimulasi akan mengakibatkan hilangnya fungsi sel-sel otak ini. “Stimulasi dari orang tua serta status gizi merupakan dua faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Memijat adalah salah satu aktivitas yang memberikan stimulasi positif pada tubuh lewat sentuhan fisik. Aktivitas ini bermanfaat bagi bayi, terutama jika dilakukan sejak usia tiga bulan pertama setelah persalinan. “Salah satu manfaat pijat bayi adalah mendorong rasa rileks dan nyaman yang baik bagi tumbuh kembang anak,” ujar Bidan Devie.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia berupaya memberikan pemantauan terhadap perkembangan anak Indonesia melalui berbagai kegiatan rutin di Posyandu. Bukan hanya terkait dengan vaksinasi, saat mengunjungi Posyandu berat badan, tinggi badan/panjang badan, dan lingkar lengan atas, lingkar kepala anak akan dicek setiap bulan. Tujuannya untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan sehingga dapat mendeteksi sejak dini hal-hal tidak diinginkan seperti kelebihan/ kekurangan gizi.
Hingga saat ini, jumlah Posyandu telah mencapai 269.000 dan tersebar di seluruh Indonesia. “Mengingat pentingnya peran Posyandu, Makuku memberikan edukasi dan praktik pijat bayi dan edukasi terhadap ratusan ibu di tiga titik posyandu Jabodetabek, yakni Posyandu Melati Jakarta Timur, Posyandu Matahari 3 Depok dan Posyandu Durian 24 Bekasi yang dilaksanakan mulai Oktober hingga November 2023,” ujar Pubic Relations Manager Makuku Indonesia Titi Nurmalasari.
Selain edukasi yang akan dibawakan oleh dr. Ario Baskoro, Bidan Devie juga melakukan praktik pijat bayi sekaligus memberikan tips yang mudah dipraktikkan para ibu. (HG)
