Hidupgaya.co – Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki 17 ribu pulau besar dan kecil dengan garis pantai sepanjang 81.000 km yang dapat menjadi area tumbuh hutan mangrove. Hutan mangrove merupakan pembatas untuk menjaga garis pantai dari erosi yang dalam kondisi serius bisa menjadi bencana alam. Indonesia tercatat memiliki sekitar 3,5 juta hektar hutan mangrove atau sekitar 23% dari total dunia dengan 92 spesies bakau yang menjadikan hutan mangrove di Indonesia menjadi yang paling beragam.
Penanaman mangrove memiliki beberapa manfaat, di antaranya bertujuan untuk mencegah abrasi pantai di laut, penyerapan karbondioksida, menjaga kualitas air dan udara, sebagai habitat ikan dan biota laut lain, pereduksi gelombang di pantai, memberikan dampak ekonomi yang luas dan menjadi sumber pendapatan.
Indonesia telah mengumumkan bahwa akan memenuhi target net zero emission (nol emisi karbon) maksimal pada 2060, dimulai dengan menaikkan target pengurangan emisi menjadi 31,89% pada 2030. Sebagai bentuk dukungan, Yili Indonesia (merupakan bagian dari Yili Group, perusahaan dairy global yang memiliki komitmen pencapaian net zero emission pada 2050), mengambil peran aktif sebagai bagian dalam program Net Zero Carbon yang dilaksanakan oleh BPOM RI di Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk, Jakarta Utara, Selasa (31/10/2023).
“Program ini merupakan upaya Yili Group untuk berpartisipasi dalam program zero net carbon yang merupakan bagian dari visi misi perusahaan. Sebanyak 150 pohon mangrove ditanam pada program ini. Keterlibatan Yili dalam penanaman mangrove di Indonesia merupakan yang pertama kali dilakukan,” ujar Presiden Direktur Yili Indonesia Dairy Yu Miao.
Sebelumnya, Yili Indonesia juga telah berpartisipasi dalam konservasi terumbu karang di NTT di gelaran G-20 silam. “Komitmen Yili terhadap program-program yang terkait dengan kelestarian lingkungan hidup tidak hanya berhenti sampai di sini saja dan masih akan terus berlanjut,” imbuh Yu Miao.
Penanaman mangrove di Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk Jakarta Utara (dok. ist)
Dalam acara penanaman mangrove di Taman Wisata Alam Angke, Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito menyebut program penanaman Mangrove untuk Net Zero Carbon program sebanyak 16.000 pohon dan bersifat multiyears selama 5 tahun. “Dalam kurun waktu lima tahun tersebut, ditargetkan sebanyak 47.500 pohon mangrove yang ditanam dengan target serapan karbon 1.398 ton CO2 (karbondioksida) setiap tahunnya,” ujarnya.
Penny menambahkan, meskipun BPOM bukan institusi yang berkaitan langsung dengan lingkungan, tapi program ini merupakan upaya sebagai masyarakat yang berinisiatif untuk terlibat secara nyata untuk mengembalikan kelestarian dari Bumi.
Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman menyampaikan sebagai para pelaku yang berkecimpung di industri makanan minuman, banyak bahan baku yang berasal dari alam. Ini adalah salah satu upaya yang kami lakukan untuk bisa berkontribusi dalam upaya untuk menjaga alam sekitar. “Kolaborasi antara BPOM, GAPMMI, dan Yili Indonesia Dairy dalam program penanaman mangrove ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga lingkungan dan alam,” ujarnya.
Program Ekowisata Mangrove
Adhi lebih kanjut mengatakan, apabila dikelola dan diberdayakan dengan baik, hutan mangrove juga bisa menjadi salah satu mata pencaharian bagi masyarakat misalnya dengan program ekowisata yang pastinya akan berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat di sekitar.
Untuk diketahui, pada 8 April 2022, resmi dirilis ‘Rencana Masa Depan Nol Karbon Yili Group’ dan ‘Peta Jalan Rencana Masa Depan Nol Karbon Yili Group’. Dengan demikian Yili menjadi perusahaan pertama di industri makanan Tiongkok yang mempublikasikan tujuan dan peta jalan karbon ganda, secara global Yili menjadi perusahaan makanan Cina pertama yang memiliki target emisi karbon dan netralitas karbon serta roadmap komitmen jangka panjang untuk mencapai netralitas karbon di seluruh rantai industri pada tahun 2050.
Sejak itu, Yili secara bertahap merilis rencana pengurangan karbon dan bekerja sama dengan mitra di seluruh rantai industri untuk mengurangi konsumsi energi, emisi gas rumah kaca, dan melindungi lingkungan. Tahun lalu, Yili mulai berfokus melakukan penghematan air dalam kegiatan produksinya.
Pada Maret 2023, Yili mendapatkan sertifikasi water footprint internasional berkat upaya perusahaan dalam mengurangi penggunaan air, baik untuk produksi maupun operasional. Yili juga menjadi perusahaan pertama di Tiongkok yang bergabung dengan UN Water Action Agenda. (HG)
