Hidupgaya.co – Indonesia dan kecap manis merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Kecap manis sejak lama dikenal sebagai culinary gem (pusaka kuliner) asli nusantara yang mempersatukan aneka kelezatan hidangan Indonesia dari generasi ke generasi. 

Disampaikan food historian Andreas Maryoto, sejak abad ke-16, kecap manis adalah hasil akulturasi antara saus koechiap yang dibawa pedagang Tiongkok dengan gula jawa atau gula kelapa yang banyak digunakan pribumi untuk mengolah makanan. “Hingga kini, Indonesia adalah satu-satunya negara yang memiliki kecap bercita rasa manis, dilengkapi rasa umami dari proses fermentasi kedelai,” ujarnya di sela diskusi menandai kick off Festival Jajanan Bango 2023 di Jakarta, baru-baru ini. 

Berkat keunikan ini, sebut Andreas, aneka hidangan nusantara yang menggunakan kecap manis bahkan telah mengharumkan nama bangsa di kancah dunia.

Pusaka kuliner adalah cerminan sejarah, identitas, tradisi, dan kearifan lokal yang unik dan tak lekang waktu. Tidak hanya menjembatani masyarakat dengan akar budaya mereka, culinary gem juga menjadi alat untuk memperkenalkan jati diri sebuah negara pada dunia. Contoh negara yang sukses melakukannya antara lain Jepang dengan Shoyu, Thailand dengan saus Sriracha, atau Korea dengan saus Gochujang.

Temu media kick off Festival Jajanan Bango 2023 (dok. ist)

Untuk melestarikan pusaka kuliner itu, Festival Jajanan Bango mengajak pecinta kuliner melestarikan kecap manis dengan mengeksplorasi ragam hidangan berbasis kecap yang tersebar di seluruh wilayah nusantara. “Setelah berpetualang kuliner, diharapkan akhirnya mereka – khususnya para ibu – menjadi lebih terdorong untuk menyajikan aneka hidangan berbasis kecap di rumah, yang secara tidak langsung artinya ikut berperan melestarikan kekayaan kuliner Indonesia,” ujar Head of Marketing Nutrition Indonesia, PT Unilever Indonesia Tbk Ari Astuti (Tutut) di kesempatan sama.

Tutut menambahkan, perjalanan sukses Bango selama 95 tahun berakar pada konsistensi dalam menjaga kualitas dengan penggunaan empat  bahan alami terbaik dan proses pembuatan yang otentik. “Hingga kini, Bango selalu menjadi andalan ibu, keluarga dan para penjaja kuliner legendaris sebagai kecap terbaik untuk menyajikan aneka hidangan Indonesia,” ujarnya seraya menyebut hal ini terlihat dari survei Kurious-Katadata Insight Center yang menunjukkan bahwa Bango adalah merek kecap terfavorit pilihan 80,5% masyarakat Indonesia.

Lebih lanjut Tutut mengatakan, Festival Jajanan Bango 2023 menampilkan sesuatu yang berbeda. Mengusung tema ‘Bangkitkan Sejuta Rasa Nusantara’, Bango memberikan pengalaman multisensori dalam bentuk sebuah galeri yang menonjolkan berbagai pesona kuliner nusantara menggunakan teknologi imersif yang memanjakan kelima indera. “Kami berharap dengan pengalaman ini, para pecinta kuliner akan semakin tidak sabar untuk menikmati aneka hidangan yang tersedia, dan akan lebih mengapresiasinya sebagai sebuah mahakarya yang patut dilestarikan,” bebernya.

FJB 2023 digelar di Makassar dan Jakarta

Festival Jajanan Bango 2023 pertama-tama akan menyambangi Makassar yang memiliki predikat sebagai ‘Kota Makan Enak’. Makassar terpilih karena di setiap sudut, terdapat begitu banyak kuliner ikonis yang menggugah selera, dan geliat pelestarian kulinernya juga terbilang sangat tinggi. Di Makassar, Festival Jajanan Bango 2023 bakal berlangsung 7-8 Oktober 2023 di Parking Lot Phinisi Point dengan hadirkan 45 legenda kuliner, dimana 35 di antaranya berasal dari Kota Makassar dan sekitarnya.

Selanjutnya, Festival Jajanan Bango 2023 akan kembali digelar di Jakarta pada 27-29 Oktober 2023 di Parkir Timur Senayan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. “Tujuannya, Bango ingin membangkitkan semangat pelestarian kuliner nusantara di tengah generasi muda dengan kehadiran lebih dari 100 legenda kuliner dari berbagai penjuru negeri,” terang Tutut.

Pusaka kuliner memang patut dilestarikan oleh generasi muda. Menurut Bowo, pegiat pelestarian kuliner Indonesia yang juga pendiri ‘Dari Halte ke Halte’ yakni komunitas pemberi rekomendasi ragam kuliner Indonesia yang bisa diakses menggunakan transportasi umum, istilah culinary gem muncul karena minat Millennial dan Gen-Z untuk berpetualang kuliner kini semakin tinggi, termasuk berburu berbagai kuliner otentik dari mancanegara. “Tak heran kalau Shoyu, Sriracha atau Gochujang jadi makin familiar di telinga dan lidah generasi muda,” ujarnya. 

Menu konro bakar dari Restoran Sop Konro Karebosi (dok. ist)

Di tengah kondisi ini, salah satu misi platform ‘Dari Halte ke Halte’ adalah mengajak Millennial dan Gen-Z agar tidak melupakan kuliner nusantara dan terus mengeksplorasi kekayaannya. Bowo mengatakan, sebagian besar dari trip yang dilakukan komunitas ‘Dari Halte ke Halte’ berfokus mengunjungi UMKM kuliner nusantara yang masih kurang terekspos. “Itu  termasuk hidangan-hidangan otentik yang kaya dengan penggunaan kecap,” bebernya.

Salah satu kuliner legendaris yang akan hadir adalah konro bakar dari Restoran Sop Konro Karebosi. Nia Hanafie selaku pengelola generasi kedua menyampaikan berkat konsistensi dalam mempertahankan cita rasa, selama 55 tahun restoran yang dikelolanya ramai pengunjung. “Ini tak lepas dari penggunaan kecap Bango yang jadi kunci kelezatan menu konro bakar,” ujarnya buka rahasia. 

Last but not least, Tutut mengundang seluruh pecinta kuliner di Jakarta dan Makassar bergabung di Festival Jajanan Bango 2023 untuk satukan tekad melestarikan kekayaan kuliner nusantara, terutama yang menggunakan kecap. “Dengan demikian, keberadaan kecap manis dapat terus kekal sebagai pusaka kuliner kebanggaan kita semua,” pungkas Tutut. (HG)