Hidupgaya.co – Mahasiswa ISWI Fashion Academy dari Indonesia berhasil menampilkan karya di ajang internasional IndoPop Movement yang berlangsung di New York, Amerika Serikat, 14 September silam. Syarifah Nadhila Shabrina, Natania Laurens, Fidela Azalia H, Prajna Ayu Majedah, dan Hizkia Peter Wijaya Tanata mewakili ISWI Fashion Academy, mengusung karya tenun Garut  dengan tema koleksi ‘Femme Fatale’.

Disampaikan Direktur ISWI Fashion Academy Nani Sunarni, melalui kegiatan ini diharapkan ISWI dapat berkontribusi dalam mempromosikan budaya Indonesia di Amerika Serikat. “ISWI Fashion Academy menggandeng Vierra, perajin tenun sutra Garut untuk pembuatan koleksi busana yang dibuat oleh mahasiswa ISWI yang berangkat ke New York,” ujarnya di acara temu media sekaligus gelaran trunk show di Jakarta, baru-baru ini.

Tenun sutra Garut ini dipilih memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan kain sutra biasa, terutama dalam hal motif dan pengaturan warna yang menghasilkan efek tiga dimensi. Nani menjabarkan koleksi ‘Femme Fatale’ menggambarkan kecantikan memikat namun juga misterius. “Desain yang feminin itu dihasilkan melalui penggunaan tenun Garut yang elegan, yang kemudian akan dipadukan dengan elemen gaya rock, menciptakan citra wanita yang menawan namun juga mengandung aura misterius,” urainya. 

Koleksi ‘Femme Fatale’ karya mahasiswa ISWI Fashion Academy menggunakan materi tenun sutra Garut di ajang IndoPop Movement New York (dok. Hidupgaya.co)

Koleksi tersebut menyatukan beragam motif dan jenis kain, termasuk tenun, tile, dan seruti. Koleksi karya mahasiswa ISWI Fashion Academy yang dipresentasikan dalam rangkaian sepuluh tampilan itu merupakan busana siap pakai dengan siluet yang khas, dihiasi oleh sentuhan aksen berlapis  yang semakin memperkaya kesan unik.

Tenun sutra Garut yang dirancang oleh mahasiswa ISWI Academy itu berhasil mencuri perhatian mereka yang menyaksikan. Mereka ‘mencacah’ tenun sutra itu menjadi bagian busana yang mencuri perhatian. Hasilnya? Banyak penonton gelaran yang menawar ingin memiliki koleksi tersebut. 

Ada hal unik dalam pengerjaan koleksi ‘Femme Fatale’ ini. Waktu yang dibutuhkan untuk merancang, termasuk membuat pola, hingga menjadi pakaian siap tayang hanya dalam kurun sebulan. Sedangkan satu bulan lainnya digunakan untuk mencari sponsor yang bersedia mendukung keberangkatan mahasiswa ISWI Fashion Academy unjuk karya di New York.

Salah satu tokoh pendidikan, Dewi Motik, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan ISWI Fashion Academy, institusi pendidikan sekolah mode lokal, mengirim wakilnya ke New York. “Bangga terhadap Mahasiswi ISWI yang telah menampilkan karyanya di New York Fashion 2023. Selamat,” ujarnya.

Dewi lantas menambahkan, pada dasarnya semua orang bisa menjadi fashion designer. “Semua orang pasti bisa melakukannya asalkan mereka mau. Kuncinya kita harus bisa memanage waktu, jangan sampai diperbudak waktu. Saatnya kerja ya kerja, tidur ya tidur. Harus disiplin. Tidak ada yang bisa menghentikan kita kecuali diri kita sendiri,” tandasnya.

Untuk diketahui ISWI Fashion Academy merupakan pendidikan tinggi mode pertama di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, yang memiliki visi menjadi perguruan tinggi yang mampu mencetak entrepreneur mode dengan mengangkat potensi lokal sebagai gaya hidup global. 

Berbagai kegiatan diikuti oleh ISWI Fashion Academy baik di tingkat nasional maupun internasional, di antaranya memberangkatkan mahasiswanya ke berbagai panggung dunia di antaranya acara Front Row Paris 2022 dan Thailand Fashion Week 2022, serta IndoPop Movement di New York pada September 2023. (HG)