Hidupgaya.co – Dokter anestesi mengambil peran penting dalam keselamatan pasien melalui evaluasi pra-anestesia, monitoring ketat anestesia dan tanda vital selama pembedahan, serta pemantauan pascabedah. Untuk melakukan hal tersebut, dokter anestesi membutuhkan patient monitor canggih dengan parameter yang lengkap guna memastikan pemulihan pasien lancar dan nyeri dapat terkontrol, sehingga meningkatkan pengalaman bedah secara keseluruhan dan meningkatkan hasil (outcome) klinis pasien.
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif (PERDATIN) periode 2022-2025, Irjen Pol dr Asep Hendradiana Sp.An., KIC., M.Kes mengatakan PERDATIN berkomitmen untuk meningkatkan standar praktik dan keselamatan pasien berbasis teknologi informasi. Untuk itu, PERDATIN secara periodik menyelenggarakan simposium, seminar, dan workshop, serta berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan standar dan kompetensi para anggota demi mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih profesional.
Salah satu aktivitas kolaborasi PERDATIN di antaranya bersama GE HealthCare untuk mengedukasi penggunaan patient monitor yang dapat membantu dokter anestesi mengambil tindakan yang tepat dan aman untuk pasien.
“Patient monitor merupakan alat kesehatan terpenting di setiap ruangan pasien yang kondisinya kritis seperti ruang ICU dan UGD, sehingga penting untuk memastikan alat kesehatan dalam negeri memiliki kualitas sebaik alat kesehatan impor,” ujar Presiden Direktur PT GE Operations Indonesia Putty Kartika dalam temu media sekaligus penandatanganan kerja sama strategis GE HealthCare dengan PERDATIN di Jakarta, Rabu (13/9/2023).

Kolaborasi strategis GE HealthCare dengan PERDATIN edukasi pemakaian patient monitor oleh dokter anestesi (dok. ist)
Putty mengatakan, kini GE HealthCare telah memproduksi patient monitor yang andal, fleksibel, dan terukur secara lokal dilengkapi dengan algoritma komprehensif yang setara dengan yang digunakan di fasilitas kesehatan di seluruh dunia. “Ini sejalan dengan komitmen GE HealthCare dalam mendukung sistem transformasi kesehatan yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan RI,” terangnya.
Diharapkan kolaborasi GE HealthCare dengan PERDATIN dapat memberikan manfaat kepada seluruh dokter anestesi di seluruh Indonesia. Lebih lanjut Putty menyebut, upaya tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas teknologi kesehatan dan sumber daya manusia di Indonesia. “Sekaligus memperkuat komitmen kami untuk meningkatkan standar layanan kesehatan di Indonesia,” tuturnya.
Kesempatan sama, Plt. Direktur Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Ir. Sodikin Sadek, M.Kes menyampaikan sebagai upaya resiliensi/ketahanan alat kesehatan, Kementerian Kesehatan fokus pada percepatan produksi alat kesehatan dalam negeri (AKD). “AKD yang telah memiliki izin edar dan tentunya memenuhi persyaratan keamanan, mutu serta kemanfaatan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri, dan kemudian dapat bersaing secara global,” ujarnya.
Sodikin berharap patient monitor dalam negeri berstandar Internasional dari GE HealthCare dapat memudahkan penggunanya, mengingat 75% SDM kesehatan merasa stres dengan perangkat medis karena memiliki tampilan data yang membingungkan, informasi yang berlebih, serta desain rumit.
Patient monitor produksi dalam negeri yang dimiliki GE HealhCare dilengkapi dengan modul Entropi dan Algoritma EK-Pro, yang berfungsi untuk; Entropi mengukur aktivitas otak – merupakan organ target untuk obat anestesi – yang telah terbukti untuk mencerminkan tingkat anestesi yang berbeda. Dengan pemantauan Entropi, patient monitor dapat memastikan pemulihan lebih cepat di ruang operasi, dan mengoptimalkan proses perioperatif, serta memastikan proses pengoperasian yang efisien.
Sedangkan Algoritme EK-Pro: menggunakan empat sadapan untuk deteksi aritmia (gangguan pada detak jantung), termasuk fibrilasi atrium (AFib) yaitu irama jantung yang tidak teratur dan sering kali sangat cepat. Hal ini sangat penting untuk mencegah risiko 3 hingga 5 kali lebih besar terkena stroke iskemik bagi pasien dengan AFib.
Program kolaborasi GE HealthCare dan PERDATIN, Continuing Medical Education (Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan) bakal digelar di lima kota hingga akhir 2023, diikuti oleh lebih 500 dokter anestesi, dokter umum, serta penata anestesi seluruh Indonesia. (HG)