Hidupgaya.co – Ada hal menarik terkait pesta demokrasi Indonesia yang akan berlangsung pada Februari 2024. Survei yang dilakukan Praxis didukung Public Affairs Forum Indonesia (PAFI) mendapatkan temuan menarik, di antaranya debat terbuka (62,64 persen) dipilih sebagai kegiatan kampanye yang paling mempengaruhi preferensi responden dalam memilih pemimpin saat pemilu, sementara dukungan politik berada di urutan terakhir (12,27 persen).
Survei yang bertujuan untuk mengetahui “Persepsi Masyarakat Terhadap Pemilu 2024 dan Korelasinya dengan Pertumbuhan Ekonomi” dilakukan pada 14-17 Juli 2023 kepada 1.108 responden dengan rentang usia 17 sampai 45 tahun di 12 kota besar di Indonesia.
“Pada survei ini kami ingin menggali lebih dalam mengenai persepsi masyarakat terhadap pemilu 2024 dan hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi. Saya percaya temuan menarik dari survei ini dapat mendorong masyarakat untuk bijak dalam menggunakan hak pilihnya sehingga ekosistem demokrasi yang sehat dapat terjaga,” ujar Director of Public Affairs Praxis PR dan Wakil Ketua Umum PAFI Sofyan Herbowo dalam acara pemaparan hasil survei di Jakarta, Kamis (3/8/2023).
Temuan survei juga mendapati hal menarik, yakni banyaknya ketersediaan lapangan pekerjaan dianggap sebagai indikator pertumbuhan ekonomi paling penting (73,29 persen), diikuti dengan mudahnya akses ke layanan dasar (71,84%) serta murahnya harga BBM dan bahan pokok (51,17 persen). Sedangkan meningkatnya perdagangan internasional berada di urutan terakhir (25 persen).
Pemaparan hasil survei Persepsi Masyarakat Terhadap Pemilu 2024 dan Korelasinya dengan Pertumbuhan Ekonomi di Jakarta, 3 Agustus 2023 – dok. Hidupgaya.co
Selain itu, hasil survei mengungkap bahwa 53 persen responden tidak puas akan tingkat kesetaraan pendapatan di Indonesia saat ini.
Hal menarik lain, peserta yang dikut survei mayoritas akan menggunakan hak pilihnya. “Menghindari hak pilih disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab menjadi alasan paling penting untuk menggunakan hak pilih (56,5 persen),” ujar Sofyan.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga responden ragu pemilu dapat berdampak nyata terhadap perekonomian masyarakat. Sedangkan 34,84 persen mengaku setuju, dan 26,26 persen tidak setuju.
Menanggapi hal tersebut, Head of Research DBS Group Maynard Arif menyampaikan, dilihat dari berbagai perspektif, pemilu memiliki dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat. “Investor cenderung menunggu untuk berinvestasi hingga seluruh capres dan cawapres diumumkan. Hal serupa akan pemerintah alami, karena fokusnya bergeser ke penyelenggaraan pemilu,” ujarnya.
Berbanding terbalik, sebut Maynard, konsumsi masyarakat justru meningkat, karena banyak pelaku bisnis yang memberikan promosi pada momentum pemilu.
Menanggapi temuan survei itu, anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) August Mellaz mengatakan pemilih sudah memiliki kesadaran yang cukup tinggi untuk menggunakan hak pilih dan mampu berpikir kritis mengenai kualitas calon pemimpin. “Hal ini sejalan dengan salah satu misi kami di KPU, yaitu untuk meningkatkan kualitas pemilu yang efektif dan efisien, transparan, akuntabel, dan accessible,” tuturnya.
Dia mendorong pemilih untuk mempertahankan hal tersebut, dan bagi para pemimpin untuk menyiapkan kampanye sehat yang berfokus pada kualitas program-program yang berguna bagi kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Umum PAFI Agung Laksamana menekankan pentingnya bagi calon pemimpin, media, serta praktisi kehumasan untuk memahami persepsi masyarakat terhadap pertumbuhan ekonomi dan pemilu serta korelasinya akan satu sama lain. “Tujuannya tak lain agar dapat menyusun gagasan komunikasi yang efektif, berdampak, dan relevan,” tuturnya.
Survei ini menggarisbawahi pentingnya peran pemerintah dalam mengedukasi masyarakat akan pentingnya menggunakan hak pilih dan menghindari golput. “Selain itu, pemerintah juga perlu menggagas program-program yang bermanfaat bagi masyarakat dan mengkomunikasikannya secara tepat agar terbentuk keselarasan pemahaman antara masyarakat dengan pemerintah,” pungkas Sofyan. (HG)
