Hidupgaya.co – Menandai Neuropathy Awareness Week 2023, P&G Health Indonesia melalui merek Neurobion, melanjutkan edukasi mengenai neuropati melalui kampanye ‘Hidup Bebas Tanpa Kebas dan Kesemutan’ sekaligus mengajak masyarakat untuk melakukan deteksi dini neuropati dengan Neurometer, yakni aplikasi penilaian risiko neuropati pertama di Indonesia. Hal itu membuahkan pemecahan Rekor MURI Deteksi Risiko Neuropati Terbanyak.
Kegiatan tersebut didukung oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI).
“P&G Health Indonesia, melalui brand Neurobion, telah berkomitmen meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai neuropati perifer dan pentingnya menjaga kesehatan saraf lebih dari satu dekade. Dengan melanjutkan kampanye Hidup Bebas Tanpa Kebas dan Kesemutan kami berharap akan semakin banyak masyarakat yang teredukasi mengenai neuropati karena setiap orang berhak untuk hidup bebas tanpa kebas dan kesemutan,” ujar General Manager Personal Healthcare, P&G Health Indonesia, Maithreyi Jagannathan dalam temu media di Jakarta, Minggu (11/6/2023).
Kesempatan sama, Project Manager Officer Kesehatan Masyarakat, Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, Syahrul Effendi P.SKM.M.KKK, mengatakan bahwa kampanye edukasi masyarakat dan deteksi dini adalah cara yang paling efektif dan efisien untuk mengendalikan faktor risiko. “Upaya edukasi masyarakat tentang neuropati dan kesehatan saraf secara umum diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk melakukan deteksi dini dan pengobatan neuropati yang tepat,” ujarnya.
P&G Health Indonesia melalui merek Neurobion berhasil pecahkan Rekor MURI Deteksi Risiko Neuropati Terbanyak (dok. ist)
Potensi Risiko dan Gejala Neuropati
Untuk diketahui, setiap orang memiliki potensi risiko gejala neuropati, dimana gangguan ini dapat terjadi karena penyakit tertentu, kondisi fisik, usia lanjut, dan kurangnya asupan nutrisi seperti vitamin B1, B6, B12. Rasa kebas, kesemutan, rasa seperti tertusuk, dan sensasi panas atau terbakar di tangan dan kaki merupakan gejala umum dari neuropati yang dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang.
Menurut Vice Secretary General Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI), dr. Winnugroho Wiratman.Sp.N(K),Ph.D, kerusakan saraf dapat bersifat irreversible. “Jika lebih dari 50% serabut saraf telah rusak,” ujarnya.
Data menyatakan, 8 dari 10 orang menderita Neuropati Perifer (NP) tanpa terdiagnosis lebih awal. Neuropati perifer merupakan penyakit kronis kerusakan saraf tepi dengan gejala seperti kebas dan kesemutan di tangan juga kaki kaki. Apabila terlambat tertangani dapat menjadi permanen.
Karenanya, deteksi dan penanganan sedini mungkin sangat penting dilakukan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan, sebut Winnugroho, adalah dengan mengonsumsi vitamin B neurotropik yang telah terbukti efektif memperbaiki pertumbuhan jaringan sel saraf. “Menjaga pola hidup sehat dan konsumsi kombinasi vitamin B neurotropik dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi kesehatan saraf,” ujarnya.
Studi klinis efektivitas vitamin B yang terbaru termuat dalam jurnal berjudul Transcriptome Changes and Neuronal Degeneration in an In Vitro Modelof B Vitamin Depletion (2022). Studi dilakukan oleh Niels Banek, Leonie Martens, Natalie Daluege, Nikisha Carty, Sebastian Schmeier, Oltea Trutz 2, Kenneth W. Young1, Patrizia Bohnhorst. Penelitian didukung oleh P&G Health German.
Studi tersebut melakukan penelitian mengenai peran penting vitamin neurotropik B seperti B1, B6 dan B12 dalam pembentukan saraf yang sehat dan menjaga kesehatan sistem saraf yang sehat. Riset menyimpulkan, bahwa perubahan kondisi saraf dan semakin banyaknya sel saraf yang terbentuk, yang erat kaitannya dengan asupan vitamin neurotropik B.
Disampaikan Brand Director Personal Healthcare P&G Health Indonesia, Anie Rachmayani kampanye Hidup Bebas Tanpa Kebas dan Kesemutan terdiri dari berbagai kegiatan seperti seminar, pelaksanaan Neuropathy Check Point di 5 titik di Jakarta dan sekitarnya. Kegiatan ini juga melibatkan edukasi awam melalui media sosial, dan mengajak masyarakat melakukan deteksi dini risiko neuropati dengan Neurometer, aplikasi penilaian risiko neuropati pertama di Indonesia, yang dapat diakses melalui akun Instagram Neurobion, yakni @Neurobionid.
“Kami berharap melalui rangkaian acara pada Neuropathy Awareness Week, upaya itu dapat meningkatkan kesadaran tentang bagaimana gejala neuropati perifer dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang serta mendorong mereka untuk melakukan deteksi dini dan pengobatan tepat dengan asupan vitamin B neurotropik yang telah terbukti efektif,” pungkas Anie. (HG)
