Hidupgaya.co – Pembayaran dengan kartu contactless (nirsentuh) telah menjadi metode pembayaran yang marak di banyak negara di seluruh dunia. Di lebih dari 20 negara, adopsi pembayaran kartu contactless mencapai lebih dari 90 persen dari semua transaksi tatap muka Visa.
Disampaikan Presiden Direktur Visa Indonesia Riko Abdurrahman, pembayaran menggunakan kartu contactless Visa sudah lama tersedia di Indonesia. Pada studi Consumer Payment Attitudes Study (CPAS) 2022 Visa, 1 dari 3 konsumen Indonesia pernah menggunakan kartu contactless, terutama Milenial dan Gen X, serta segmen affluent. Minat untuk menggunakan kartu contactless dari bukan pengguna sendiri cukup besar, yaitu 84%.
“Yang menarik dari fitur contactless card Visa adalah pembayaran lebih praktis hanya dengan men-tap kartu selama 1-2 detik saja. Karena menggunakan NFC, jadi tidak tergantung dengan jaringan internet, sehingga bisa lebih cepat dan praktis,” ujar Riko di webinar ‘Siapkah Kita Meninggalkan Uang Cash’ yang dihelat Visa, Jumat (9/6/2023).
Mengutip data studi CPAS 2022 Visa, dampak dari pandemi juga mengubah berbagai kebiasaan masyarakat, termasuk kebiasaan untuk tidak membawa banyak uang tunai dan menggunakan pembayaran digital. “Hal ini mempercepat kesiapan Indonesia menuju cashless society,” terang Riko.
Masih dari data CPAS 2022, pembayaran melalui dompet digital telah mengambil alih pembayaran tunai di Indonesia dengan tingkat penggunaan hingga 93%. “Menariknya, dari sisi usia pengguna, boomers menempati peringkat kedua (95%) setelah Gen Z. Milenial mencapai (96%). Gen Z justru menempati posisi ketiga (89%),” tutur Riko.
Lebih lanjut Riko mengatakan, alasan mengurangi uang tunai termasuk 56% merasa kurang aman karena bisa jatuh atau dicuri, 53% lebih sering menggunakan pembayaran contactless seperti dompet digital atau kartu contactless, 48% merasa kurang aman karena bisa menyebarkan infeksi. Sementara 47% merasa tidak perlu membawa banyak karena gampang menarik uang, 44% merasa membawa uang tunai merepotkan dan sudah banyak yang menyediakan pembayaran cashless.
Presiden Direktur Visa Indonesia Riko Abdurrahman (tengah) dalam diskusi Siapkah Kita Meninggalkan Uang Cash? (dok. tangkapan layar Hidupgaya.co)
Bagaimana dengan situasi di Indonesia? Riko menyebut, secara keseluruhan, di Indonesia uang tunai memang masih digunakan secara luas, tetapi tingkat penggunaannya menurun dari 87% di 2021 menjadi 84% di 2022. Yang paling melesat naik adalah pembayaran dari aplikasi atau in-app payment, dari hanya 45% di 2021 menjadi 80% di 2022. Kemudian disusul QR payment yang naik dari 50% di 2021 menjadi 62% di 2022.
Untuk pembayaran menggunakan kartu, metode gesek masih yang paling banyak digunakan pada 59%, disusul oleh kartu kredit atau debit online pada 55%. “Untuk kartu contactless sendiri, penggunaannya meningkat setiap tahun, dari 31% di 2020, 33% di 2021 dan di tahun 2022 berada di 34%,” sebut Riko.
Dengan kata lain, banyak orang mulai beralih ke pembayaran non-tunai. Hal ini diakui lifestyle influencer Dimas Ramadhan. Ia merupakan sosok anak muda Indonesia yang sudah mengadopsi gaya hidup cashless. Dimas mengaku menerapkan cashless 99% karena tidak ribet dan lebih mudah, dan mempercepat proses pembayaran. “Lebih nyaman, apalagi di Indonesia sudah ada e-wallet. Di luar negeri, malah sering banget menggunakan VISA contactless, sehingga saya bisa menerapkan cashless dengan mudah,” ujarnya.
Selain itu, imbuh Dimas, memakai pembayaran contactless tidak ada minimum transaksi. “Bahkan membayar 1 Euro pun bisa. Ini yang menjadi keunggulan contactless, sehingga benar-benar membantu untuk cashless,” terangnya.
Jaminan Keamanan Pembayaran Contactless
Terkait dengan keamanan penggunaan pembayaran contactless, Riko menyebut Visa memiliki fitur Visa Transaction Control. Pengguna dapat mengontrol penggunaan kartu, seperti pembatasan penggunaan visa di e-commerce, atau menonaktifkan di jam tertentu. “Fitur ini merupakan bentuk komitmen dan upaya Visa untuk selalu melindungi data pengguna,” ujarnya.
“Salah satu kemudahan yang menjadi keunggulan Visa adalah apabila kartu hilang dapat diblokir melalui HP,” imbuh Dimas.
Cashless society tampaknya menjadi hal yang tak terelakkan. Studi Visa juga menemukan bahwa masyarakat Indonesia optimistis bisa menjadi cashless society. Lebih dari 3 dari 5 responden memperkirakan Indonesia akan menjadi cashless society pada tahun 2030, bahkan bisa lebih cepat.
Terkait hal itu, Riko memastikan Visa memiliki komitmen untuk mendukung Indonesia dalam digitalisasi pembayaran dan keuangan, tidak hanya dengan produk dan solusi tetapi juga melalui best practices sharing. “Tujuannya kita bisa segera menjadi cashless society sesuai dengan arahan pemerintah Indonesia, dan tidak tertinggal oleh negara-negara lain di dunia,” tandasnya
Apakah dengan menganut filosofi cashless cenderung boros? Ternyata belum tentu. Perihal ini Dimas juga berbagi tips menjalankan gaya hidup cashless supaya keuangan tetap terjaga. “Sebisa mungkin sebelum kita membeli, kita perlu memikirkan apakah ini kebutuhan atau keinginan. Sehingga perlu mementingkan keperluan dan kemampuan,” ujarnya. “Kelebihan Visa contactless, ada fitur untuk meminimalkan pengeluaran yang berlebihan.” (HG)
