Hidupgaya – Momen Ramadhan menjadi ajang yang pas untuk mempererat hubungan antar-anggota keluarga. Biasanya para orangtua yang sibuk akan berusaha menyediakan waktu untuk berkumpul bersama anak-anak saat buka puasa dan sahur.
Berkumpul seluruh keluarga dengan perhatian penuh merupakan hal yang ideal untuk anak, dan menguatkan kembali hubungan dengan mereka.
Menurut psikolog anak dan keluarga, Elizabeth T. Santosa, berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan pada 1.000 orang, disimpulkan ternyata berkumpul bersama keluarga merupakan hal membahagiakan. Kebahagiaan itu bahkan lebih dari mendapatkan uang dan karier yang cemerlang.

“Tapi itu semua harus dengan undivided attention, ini kuncinya, perhatian penuh alias tidak terbagi,” kata psikolog yang dipanggil Lizzie ini dalam temu media yang digagas HappyFresh di Jakarta, baru-baru ini.
Lizzie menjelaskan ada lima bentuk quality time, yaitu melalui kontak mata, pelukan/sentuhan, kata-kata yang memotivasi, humor atau mendengar.
Psikolog anak dan keluarga ini kerap menemui banyak orangtua yang menghabiskan waktu bersama anak-anak tapi tidak dengan perhatian penuh. Orang tua malah terlalu asyik dengan hal lain, seperti pekerjaan dan gawai mereka ketimbang melakukan interaksi dengan anak.
“Undivided attention ini, berapapun waktunya, semenit atau dua menit, akan lebih baik daripada kuantitas bertemu banyak, tapi perhatiannya setengah-setengah, terbagi dengan yang lain,” ujar Komisoner Komnas Anak Terpilih periode 2015-2020.

Lizzie menyarankan, orangtua harus lebih banyak memberikan perhatian penuh pada anak agar dapat meningkatkan kebahagian.
“Lakukan kontak mata, sentuhan juga pelukan hingga memberikan motivasi agar bisa membangun waktu yang berkualitas untuk keluarga,” kata dia.
Lizzie menilai, masalah yang muncul di kota besar adalah kurangnya quality time antara orangtua dan anak. Itu dikarenakan, demografi pekerjaan ayah dan ibu yang sibuk.
Cara meningkatkan quality time antara orangtua dan anak, kata dia, dengan melibatkan si anak mempersiapkan sahur dan berbuka puasa. Sekalipun mereka belum berpuasa. “Memilih menu masakan yang cocok saat sahur, memasak, mempersiapkan meja, dan masakan,” sebutnya.

Elizabeth menyebutkan, kebersamaan quality time bisa dijalin dengan mengajak anak salat bersama. Lalu, bicara dari hati ke hati saat waktu luang atau setelah salat tarawih. “Sebelum tidur diberi pelukan. Momentum satu kali dalam satu tahun. Manfaatkan sebaik-baiknya, kalau bisa diteruskan setelah Ramadhan berlalu,” imbuhnya.
Di tengah kesibukan, suami isteri yang bekerja sulit untuk mewujudkan quality time dalam keluarganya bila tidak ada komitmen yang kuat.
“Memasak bersama menu sahur dan berbuka puasa yang melibatkan buah hati akan mempererat bonding dan memberikan banyak manfaat edukasi si kecil,” kata Lizzie.
Selain itu, aktivitas untuk quality time, memasak bersama juga turut memberikan banyak keuntungan lainnya, seperti lebih higienis, karena dapat melihat sendiri proses pembuatannya, lebih sehat karena bisa memilih kualitas dari bahan-bahan yang digunakan, lebih ekonomis dibandingkan dengan membeli makanan di luar dan memasak bersama keluarga juga dapat menjadi komunikasi antarpersonal yang sangat berharga di tengah kesibukan akibat rutinitas.
Yang tak boleh dilupakan adalah puasa gadget. “Saat bersama keluarga atau anak, maka sebisa mungkin jauhkan gadget. Berlatih puasa gadet saat di dekat anak. Bicaralah dengan mereka dengan perhatian penuh,” pungkasnya.