Sejak diakuinya batik oleh badan dunia UNESCO dan dimasukkan ke dalam Daftar Representatif sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-bendawi (representative list of the intangible cultural heritage of humanity) pada Oktober 2009, batik Indonesia semakin berkembang pesat dan semakin dicintai.
Batik telah naik kelas menjadi bagian tren fashion di Indonesia. Beragam batik dengan kualitas tinggi juga dengan mudah didapatkan untuk pasar menengah ke atas.
Tidak hanya itu, semakin pesatnya industri batik juga ditandai dengan lahirnya berbagai motif baru dari daerah-daerah yang sebelumnya tidak dikenal sebagai kota atau tempat batik, seperti batik dengan motif gajah dari Lampung, batik Papua dengan motif Cendrawasih, batik dengan motif Dayak dari Kalimantan, Batik Bogor dengan motif Kujang dan lain-lain.
Banyak daerah di Indonesia sekarang ini memiliki motif batik yang khas.
Kreasi batik tidak berhenti di situ. Upaya untuk mengglobalkan batik Indonesia yang dilakukan oleh Dubes Dino Patti Djalal dan KBRI Washington D.C. pada 2011 dan 2013 telah menghasilkan 14 buah batik yang disebut sebagai “Batik Amerika”.
Batik Amerika adalah batik Indonesia, namun didesain oleh orang Amerika melalui kompetisi American Batik Design Competition dengan tema nilai dan cerita khas Amerika.
Lima buah Batik Amerika hasil karya designer Amerika saat ini dipamerkan di Alleira Butik Plaza Indonesia 13 hingga 23 Januari, hasil kerja sama apik antara KBRI Washington, D.C., Alleira Batik dan USINDO.
Berbeda dengan sembilan buah batik yang dihasilkan dari kompetisi 2011, lima batik hasil karya desainer Amerika pada kompetisi tahun 2013 memiliki pengaruh Indonesia yang sangat kuat dengan tema-tema yang lebih menarik seperti Batik Ring of Fire Lighting the Flame of Liberty oleh desiner Donna Backues yang bercerita mengenai berbagai kesamaan antara Indonesia dan Amerika seperti kondisi alam yang rentan dengan bencana alam (ring of fire) dan kesamaan motto “E Pluribus Unum” and “Binneka Tunggal Ika”.
Batik Many Faces Many Voices oleh desainer Christiane Grauert sangat memukau dengan tema pluralisme dan demokrasi yang digambarkan melalui beragam wajah dengan latar belakang budaya yang berbeda seperti Asia, Kulit putih, Afrika Amerika, namun mereka tetap memiliki identitas sebagai orang Amerika. Meskipun dalam batik, wajah-wajah tersebut sangat jelas tergambar.
Batik Origin of America oleh Anica Buckson sangat terasa pengaruh Indonesianya. Batik ini merupakan perpaduan peralatan yang dipakai oleh orang Native Amerika (Indian). Batik lainnya adalah Batik American Burung-burung oleh Ariana Toft mengenai burung sebagai simbol Indonesia dan Amerika Serikat serta Batik Dawn to Dusk oleh Kristin Caskey yang menggambarkan perbedaan nuansa antara kondisi kota dan kondisi desa dalam gradasi warna siang dan malam.
Semua batik tersebut dibuat secara tulis oleh Brahma Tirta Sari Batik Studio Yogyakarta dengan apik.
Sebelumnya telah dihasilkan sembilan batik Amerika pada tahun 2011 seperti batik Koboy yang didesain oleh oleh Jamie Stearns dari New York yang bercerita mengenai cowboy Amerika; batik Gandum yang didesain oleh Carol Steuer dari New York New York mengenai gandum sebagai panen utama Amerika batik; batik Bison oleh Jennifer Doheny dari Wisconsin yang bercerita mengenai bison, salah satu kekhasan Amerika.
Lima buah batik tersebut dapat dilihat oleh publik setiap hari selama 13-23 Januari 2014.

